Memahami Hadits tentang Tanggung Jawab Kepemimpinan

(Disampaikan dalam acara: Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede Yogyakarta, Jumat 31 Januari 2013)

Ada sebuah hadits yang selalu menjadi alas perbincangan dalam masalah kepemimpinan. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Umar sebagai berikut:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.”  (HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy,IV/6, hadits no. 2751 dan HR Muslim, Shahîh  Muslim, VI/7, hadits no. 4828)

Salah satu syarah (penjelasan atas hadits tersebut menyatakan bahwa sejak penghujung abad yang lalu hingga sekarang, diskursus mengenai pemimpin atau kepemimpinan mencuat ke permukaan. Sebagian sosiolog menyatakan bahwa terjadinya gejala semacam itu memiliki beberapa sebab. Menurut pendapat mereka, ada dua penyebabnya utamanya. Pertama, banyak pemimpin dalam berbagai bidang terlibat pelanggaran moral (Moral Hazard). Kedua, mungkin karena usianya yang makin menua, dunia kita sekarang tidak ber-‘kuasa’ lagi melahirkan pemimpin-pemimpin besar (Great Leader) seperti pada masa-masa silam.

Kenyataan ini dikeluhkan – misalnya — oleh seorang sosiolog Barat, Jeremie Kubicek (2011) dalam bukunya yang sangat kontroversial, “Leadershipis Dead: How Influence is Riviving it” (Kepemimpinan Telah Mati: Bagaimana Pengaruh yang Merupakan Inti Kepemimpinan Bisa Dihidupkan Kembali). Dikatakan olehnya, bahwa para pemimpin di masa sekarang ini lebih banyak menuntut, bukan memberi, menikmati, bukan melayani, dan banyak mengumbar janji, bukan memberi bukti.

Dalam Fikih Politik Islam, prinsip akhlak terpuji (mabda’ al-akhlâq al-karîmah) yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan para pemimpin adalah “kemaslahatan umat”. Dikatakan dalam kaedah fikih: tasharruf al-imâm`alâ al-ra`iyyah manûthun bi al-mashlahah (tindakan pemimpin atas rakyat seharusnya selalu terikat oleh kepentingan atau kemaslahatan umum). Jadi, pemimpin wajib bertindak tegas demi kebaikan rakyat yang dipimpinnya, bukan – justeru — untuk kebaikan diri dan kelompoknya.

Kaedah ini diturunkan dari prinsip akhlak kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w., seperti yang disebutkan di dalam al-Quran.

Ada tiga karakteristik (panduan akhlak) kepemimpinan Nabi Muhammad s.a.w. berdasarkan Firman Allah,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS al-Taubah [9]: 128).

Pertama, azîzun ‘alaihi mâ ‘anittum (berat dirasakan oleh Nabi s.a.w. – sebagai pemimpin — penderitan orang lain yang dipimpinnya). Dalam bahasa modern, sifat ini disebut sense of crisis, yaitu kepekaan atas kesulitan rakyat yang ditunjukkan dengan kemampuan berempati dan simpati kepada pihak-pihak yang kurang beruntung.

Secara kejiwaan, empati berarti kemampuan untuk memahami dan merasakan kesulitan orang lain. Empati dengan sendirinya mendorong simpati, yaitu dukungan, baik moral maupun material, untuk mengurangi penderitaan orang yang tengah mengalami kesulitan.

Kedua, harîshun `alaikum (amat sangat berkeinginan agar orang lain merasa tenang, aman, nyaman, nikmat dan sentosa). Dalam bahasa modern, sifat ini dinamakan sense of achievement, yaitu semangat yang mengebu-gebu agar masyarakat dan bangsa yang dipimpinnya meraih kemajuan.

Tugas pemimpin, antara lain — memang sudah seharusnya — menumbuhkan harapan dan membuat peta jalan politik menuju cita-cita dan harapan itu.

Ketiga, raûfun rahîm (pengasih dan penyayang). Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nabi Muhammad s.a.w. adalah juga pengasih dan penyayang.

Orang-orang beriman wajib meneruskan kasih sayang Allah dan Rasulullah s.a.w. itu dengan mencintai dan mengasihi umat manusia. Kasih sayang (rahmah) adalah pangkal kebaikan. Tanpa kasih sayang, sulit dibayangkan seseorang bisa berbuat baik.

Sabda Rasulullah s.a.w.,

مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ.

“Orang yang tak memiliki kasih sayang, tak bisa diharap (kebaikan) kasih-sayang darinya.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Jarir bin Abdullah, Shahîh al-Bukhâriy, juz VIII, halaman 12, hadits nomor 6013)

Bagi ulama besar dunia, seperti Muhammad Rasyid Ridha, tiga panduan akhlak Rasulullah s.a.w. ini wajib hukumnya dimiliki oleh setiap pemimpin umat. Karena, tanpa ketiga panduan akhlak ini, seorang pemimpin, demikian Muhammad Rasyid Ridha  menyatakan, bisa dipastikan ‘Dia’ tidak akan mampu bekerja – dengan baik dan benar — untuk kepentingan rakyat, bahkan bisa jadi ‘Dia’ hanya bisa bekerja untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya saja.

Oleh karena itu,betapa pentingnya panduan akhlak kepemimpinan Rasulullah s.a.w. — seharusnya — dimiliki oleh para pemimpin kita, termasuk — di dalamnya — di lingkungan “Persyarikatan Muhammadiyah”.

Wallâhu A`lamu bish Shawâb.