OPTIMISME 2009:

“Catatan dari Sang Inspirator”

Oleh: Muhsin Hariyanto

Inna ma’al ‘usri yusran (sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan), itulah sebagian dari ayat al-Quran yang termuat dalam QS 94: 6.  Dan oleh karenanya, bagi setiap muslim, yang dianggap terpenting adalah “belajar” dari masa lalu untuk menggapai masa depan. Karena janji Allah tak pernah diingkari. “Selalu ada secercah harapan untuk masa depan”. Inilah simpulan penting yang dapat saya peroleh dari sebuah acara silaturahim penting antara “Sang Murid” dan “Sang Guru”, yang hingga kini masih bersahabat untuk bisa berbuat sesuatu untuk semua orang yang peduli terhadap “masa depan” .

Bulan Ramadhan lalu,  saya – salah seorang alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta — berkesempatan untuk bersilaturahim ke ‘rumah kedua’ Ustadz MS Ibnu Juraim di kampus PUTM, Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (Kaliurang-Jogja). Tidak dengan misi istimewa, kecuali sekadar “bersilaturahim” kepada ‘Guru Abadi’ saya (sebutan penghormatan untuk “Sang Inspirator”, seperti layaknya Bu Muslimah untuk Sang Penulis Buku “Laskar Pelangi”, Andrea Hirata). Saya sangat mengenal pribadi beliau, selain tahu bahwa beliau dipercaya sebagai penanggung jawab program PUTM oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Tarjih dan Tajdid, beliau adalah “Sang Inspirator” bagi diri saya – alumnus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta – dan seluruh thalabah (sebutan akrab untuk para mahasiswa PUTM), yang juga para mahasiswa saya saat ini.

Tidak ada yang menarik dari apa yang beliau miliki selain “optimisme”. Apalagi rumah sederhana beliau. Optimisme, husnu zhan, berpikir positif atau yang lebih dikenal dengan positive thinking bagi beliau adalah sebuah formula, sebuah paradigma, sebuah kerangka-pikir, sebuah sistem cara berpikir. Bagi beliau tidak ada yang tidak indah dalam hidup ini. Beliau memandang hidup ini dari segi positifnya saja, kendati orang lain sering menganggapnya negatif. Itulah “sikap syukur” beliau yang terungkap dalam seluruh tutur-katanya.

Saya ingat, nasihat beliau kepada diri saya ketika saya masih menjadi seorang santri madrasah milik Muhammadiyah itu. “Orang yang bersikap optimis lebih mungkin bisa mencapai cita-citanya daripada orang pesimis. Setiap orang yang pesimis hakikatnya telah gagal sebelum bertanding. Sementara setiap orang yang optimis telah berhasil meraih cita-citanya sebelum ia memulai usahanya. Banyak hal yang tak terduga ditemukan bagi setiap manusia optimistis. “Selalu ada harapan untuk masa depan”. Itulah janji Allah dalam QS 65: 2-3: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”

Di rumah ‘kedua’, selain rumah ‘pertama’ beliau di kampung Suranatan-Jogja, sangat dekat dengan pusat pariwisata Kaliurang-Jogja, dengan Masjid Jami, dengan pusat kegiatan belajar-mengajar thalabah PUTM. Tempat beliau berbagi, memberi mau’izhah dan uswah hasanah bagi siapa pun yang “cerdas” untuk menangkap makna setiap langkah beliau yang terkadang dianggap tak bermakna bagi bagi mereka yang “tak punya nurani”. Selalu ada transformasi intelektual, nilai dan budaya yang sangat jarang saya dapatkan di bangku sekolah manapun di setiap berinteraksi dengan beliau, termasuk ketika itu.

Banyak hal yang saya dapat dari interaksi sejenak hari itu, namun yang sangat teringat bagi kami adalah: ketika seorang kawan menanyakan mengenai mengenai kondisi ummat saat ini. Beliau menjawab dengan bahasa Jawa: “Gusti Allah ora tahu sare” (Allah tak pernah tidur). Selanjtnya beliau katakan: “Jangan pernah berputus ada untuk berharap rahmat dari-Nya. Bersikap pesimis bagi setiap muslim adalah “dosa”. Nah, kalau tidak ingin berdosa, bersikap optimislah di setiap saat, karena Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya yang bertakwa. Jadi kata kuncinya (menurut beliau) adalah: “takwa” Ketika “takwa” telah mencapai puncaknya, tidak ada yang akan dapat diterima oleh setiap hamba Allah selain “pertolongan” way-out (solusi untuk setiap masalah yang dihadapi) dan rezeki yang terbaik dari-Nya.

Optimisme adalah “energy” yang luar biasa bagi setiap muslim.  Darinya akan selalu hadir etos kerja yang luar biasa: kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Yang pada akhirnya akan melahirkan prestasi yang luar biasa, karena di samping ikhtiar dan doa yang dipanjatkan oleh setiap pemiliknya (pemilik sikap optimis), ada sikap tawakal yang selalu mengiringinya.

Coba bandingkan dua komentar yang selalu berseberangan berikut ini:

Di ketika ada sebuah piring yang terisi nasi dan lauk seadanya, sang pemilik sikap optimis selalu berkomentar: “masih ada sepiring nasi dengan lauknya.” Sementara itu sang pemilik sikap pesimis selalu berkomentar: tinggal ada sepiring nasi tanpa lauk memadai.”  Sikap syukur selalu hadir bagi sang pemilik sikap optimis, sementara itu sikap kufur selalu hadir bagi sang pemilik sikap pesimis.

Orang optimis adalah orang yang selalu mencari penyelesaian dari tiap masalah yang ada. Sementara orang pesimis adalah orang yang mencari masalah setiap  penyelesaian yang telah diupayakan. Orang pesimis adalah pengeluh yang tidak pernah memberi solusi. 

Dalam konteks negara kita – Indonesia tercinta — kini, setiap warga negara yang optimis adalah mereka yang selalu berkemauan dan berkeberanian untuk melakukan sesuatu dengan seluruh kemampuannya untuk mencari solusi atas setiap maslah yang dihadapi.  Warga negara yang optimis adalah setiap warga yang selalu ingin menjadi yang pertama dan utama untuk memulai berbuat, dengan harapan agar orang lain mengikuti jejak mereka, ing ngarsa sung tulada. Selalu menyertai setiap upaya perbaikan dengan menjadi inspirator untuk semuanya, ing mangun karsa. Dan akhirnya mereka pun mampu memberi semangat kepada semua orang untuk berkarya untuk bangsa dan negara ini, tut wuri handayani. Warga negara yang memiliki sikap optimis tidak pernah sibuk mencari dan menunggu bantuan siapa pun, bahkan mereka selalu siap untuk membantu siapa pun yang membutuhkan.

Di tengah optimisme warga negaranya, diperlukan juga para pemimpin negeri yang optimistis. Para pejabat dan wakil rakyat pun negeri ini harus selalu diimbau (untuk) mau selalu bersama rakyatnya untuk membangun negeri ini. Jangan sampai justeru mempercanggih “jurus korupsi”. Rakyat negeri ini sudah sangat lelah dn terbebani dengan beban yang sangat berat untu  mengurus negeri ini”. Rakyat negeri ini butuh pemimpin yang diharapkan mampu bertindak sebagai pengasuh, bahkan berperan aktif sebagai (layaknya) orang tua bagi seluruh rakyat. Para pemegang amanat yang “didambakan”, bukan “didombakan” (diumpat dalam berbagai forum diskusi dan demontrasi rakyat), karena kekesalan rakyat negeri ini terhadap polah-tingkah mereka – para petinggi negeri in- — yang selalu terlihat sibuk memperkaya diri, dan tak pernah terlihat hirau terhadap penderitaan rakyatnya.

Rakyat negeri ini mengharapkan agar para pemegang amanat itu juga bersikap optimis untuk mulai berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Bertindak sebagai “Imam” bagi para makmumnya  untuk kemajuan bangsa ini. Bertindak atas nama rakyat, dan bekerjasama dengan segenap elemen rakyat untuk berbenah dan membenahi negeri “gemah ripah loh jinawi ini” untuk menggapai masa depannya.

Andaikata mereka benar-benar “sadar” bahwa telah terjadi “salah-urus” terhadap negeri ini dalam kurun waktu yang tidak bisa dikatakan “sebentar”, tidak bijak kalau antarkomponen bangsa ini, apalagi para pemimpinnya, saling mencari kambing hitam, tuding sana – tuding sini, untuk tidak mau dipersalahkan dan selalu menganggap salah orang lain. Sudah saatnya kita bermuhasabah (melakukan koreksi diri) secara kolektif, untuk pada saatnya bersama-sama maju untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa ini.

Kalau di Kaliurang-Jogja ada Ustadz HMS Ibnu Juraimi yang telah berbuat untuk bangsa dan negeri tercinta ini dengan berbagi kepada semua yang bersedia untuk diajak berbagi untuk kebaikan masa depan bangsa dan negeri ini dengan PUTM-nya, saatnya kita berbenah untuk berbuat sesuatu yang lain yang semakna, atau bahkan lebih bermakna. Bukan dengan sikap pesimis yang bisa membuat kita menjadi selalu tidak bisa berharap sesuatu, tetapi bangkit dengan optimisme untuk menggapai masa depan bangsa dan negeri ini dengan gagah berani, dengan terikan lantang dan tindakan nyata: “Bersama Allah, Kita Bisa”, dengan senantiasa berdoa: “Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan). Beribadah hanya kepada Allah, dan selalu bermohon kepada-Nya, mengharapkan pertolongan-Nya untuk dapat menyelesaikan serangkaian pekerjaan berat dalam rangka memperbaiki kondisi bangsa dan negeri ini, yang senyatanya tidak bisa kita kerjakan sendiri.

“Tulisan ini saya persembahkan (khusus) kepada Guru Saya, Ustadz HMS Ibnu Juraimi (Allâhu Yarham), yang sangat berjasa dalam hidup saya, utamanya telah memberikan inspirasi yang luar biasa bagi diri saya, hingga saya merasa tak pernah kehilangan sikap optimis.”

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY, Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta dan Dosen PUTM Yogyakarta