Empat Macam Hati Manusia dan Obat Penyakit Hati

Rasulullah shallalâhu ‘alaihi wa sallam telah membagi hati-hati manusia menjadi empat macam. Sebagaimana sabda beliau:

الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ: قَلْبٌ أَجْرَدُ فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يَزْهَرُ، وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غِلاَفِهِ، وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ، وَقَلْبٌ مُصْفَحٌ، فَأَمَّا الْقَلْبُ الأَجْرَدُ: فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ سِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الأَغْلَفُ: فَقَلْبُ الْكَافِرِ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ: فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ عَرَفَ، ثُمَّ أَنْكَر، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصْفَحُ: فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ، فَمَثَلُ الإِِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ، وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدُّهَا الْقَيْحُ وَالدَّمُ، فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى الأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ.

“Hati itu ada empat macam:قَلْبٌ أَجْرَدُ  (hati yang bersih) ia seperti lentera yang bercahaya, قَلْبٌ أَغْلَفُ  (hati yang tertutup) ia terikat dengan tutupnya, قَلْبٌ مَنْكُوسٌ  (hati yang sakit) dan  قَلْبٌ مُصْفَحٌ(hati yang terbalik). Adapun hati yang bersih adalah hatinya orang beriman, ia seperti lentera yang bercahaya, sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir, hati yang sakit adalah hati orang munafik, ia mengetahui yang baik namun ia mengingkari, dan hati yang terbalik adalah hati yang di dalamnya ada iman dan nifak, contoh keimanan di situ adalah seperti tanah yang dapat memberikan air yang bersih, sedangkan nifak adalah seperti bisul, di dalamnya hanya nanah dan darah, maka di antara keduanya yang paling kuat ia akan mengalahkan lainnya.”(HR Ahmad bin Hanbal dari Abu sa’d al-Khudriy, Musnad Ahmad ibn Hanbal, III/17, hadits no. 11129)

1. Qalbun Ajrad (Hati yang Murni)

Adapun hati yang murni, yaitu: hati yang terlepas dan selamat dari selain Allah — ‘Azza wa Jalla — dan rasul-Nya — shallâllahu ’alaihi wa sallam — , maka hati itu telah terlepas serta selamat dari apa-apa selain kebenaran (selamat dari kesesatan dan penyimpangan). Padanya ada lentera yang  menerangi, itulah lentera keimanan. Disebut kemurnian menuju keselamatan dari berbagai macam syubuhat (kerancuan-kerancuan) kebathilan dan syahwat yang jahat. Juga di dalam hati tersebut terdapat lentera yang bercahaya terang dengan cahaya ilmu dan keimanan.

2. Qalbun Aghlaf (Hati yang Tertutup)

Disebut hati yang tertutup sebagai hati yang dimiliki orang kafir, karena hati orang kafir masuk ke dalam tutupan. Maka tidak akan sampai kepadanya cahaya ilmu dan keimanan. Sebagaimana Allah — Subhânahu wa Ta’âla — menceritakan tentang orang-orang Yahudi,

وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّه بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah melaknat mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.” (QS al-Baqarah/2: 88)

Makna aghlaf adalah yang masuk ke dalam tutupannya, maka qalbun aghlaf artinya hati yang masuk ke dalam tutupannya.

Dan tutupan ini disebut juga dengan al-akinnah yang telah Allah – ‘Azza wa Jalla — letakkan di atas hati-hati mereka sebagai hukuman (akibat) bagi mereka yang menolak kebenaran dan sombong untuk menerima kebenaran. Maka menjadilah hukuman itu sebagai penutup atas hatinya dan sebagai penutup atas pendengarannya, dan sebagai penutup atas penglihatannya. Inilah tabir (penutup) yang tidak terlihat oleh mata-mata (kepala) kita. Sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta’âla,

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَّسْتُورًا (٤٥) وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا (٤٦)

“Dan apabila kamu membaca al-Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam al-Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena kebenciannya.” (QS al-Isrâ’/17: 45-46)

Apabila disebutkan perkara memurnikan tauhid dan mengikuti Rasulullah — shallallâhu’alaihi wa sallam –, maka orang-orang yang memiliki hati ini akan berpaling ke belakang.

3. Qalbun Mankûs (Hati yang Sakit)

Disebut hati yang sakit, yaitu hati orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta’âla,

مَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُم بِمَا كَسَبُواْ أَتُرِيدُونَ أَن تَهْدُواْ مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلاً

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongandalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS an Nisâ’/4: 88)

Allah Subhânahu wa Ta’âla telah membalikkan mereka dan mengembalikan mereka kepada kebathilan yang dahulu mereka pernah di dalamnya. Itu semua disebabkan upaya mereka dan amalan mereka yang bathil.

Ini adalah hati yang paling jelek dan paling keji, karena dia meyakini yang bathil itu sebagai kebenaran, membangun kesetiaan kepada pengikutnya, dan menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang bathil kemudian memusuhi orang-orang yang mengikuti kebenaran.

4. Qalbun Mushfah atau Qalbun Tumidduhu Mâddatâni(Hati yang Bimbang atau Memiliki Dua Unsur)

Disebut hati yang bimbang, atau yang di dalamnya memiliki dua unsur karena keimanannya belum mantap dan lenteranya belum bersinar di mana dia belum bisa memurnikan diri untuk kebenaran yang Allah – Subhânahu wa Ta’âa — utus dengannya rasul-Nya, bahkan dalam hati itu ada sebagian unsur keimanan dan ada pula unsur yang menyelisihinya. Terkadang dia lebih dekat kepada kekufuran daripada keimanan dan terkadang dia lebih dekat kepada keimanan daripada kekufuran, dan semuanya kembali kepada yang lebih mendominasinya.

Adapun penyakit hati terbagi menjadi dua jenis:

Pertama, jenis penyakit yang si penderita tidak merasakannya. Dan inilah jenis penyakit yang terdahulu seperti penyakit kebodohan, penyakit kerancuan-kerancuan dalam agama, dan keraguan-keraguan, dan syahwat-syahwat. Inilah jenis penyakit terbesar di antara dua jenis penyakit hati, akan tetapi karena rusaknya qalb, maka si penderita tidak merasa, disebabkan mabuk kebodohan dan hawa nafsu telah menghalanginya dari mengetahui penyakit. Jika tidak, tentu ia akan merasakan sakit yang ada pada dirinya. Dan dia tidak mempedulikannya karena sibuk dengan perkara lain. Ini adalah jenis penyakit yang paling berbahaya dan paling sulit. Yang bisa mengobatinya adalah kembali kepada para Allah dan para rasulNya — ‘alaihimus salâm — dan orang-orang yang mengikuti mereka. Merekalah ‘dokter-dokter’ dari jenis penyakit ini.

Kedua, jenis penyakit yang si penderita bisa merasakannya pada saat itu. Seperti: “kegalauan, keresahan, kesedihan, dan kemarahan”. Jenis penyakit ini bisa hilang dengan pengobatan yang biasa, seperti dengan menghilangkan sebabnya atau pengobatan dengan sesuatu yang berlawanan dengan sebab-sebab itu atau dengan faktor-faktor yang bisa menyehatkannya.

Hati terkadang akan merasa sakit dengan apa-apa (sejumlah faktor) yang mengakibatkan (menjadi sebab) badan (fisik) akan merasa sakit karenanya. Dan akan merasa ‘malang’ disebabkan oleh sejumlah faktor yang menjadi penyebab badan (fisik) mendapat kemalangan. Demikian pula badan (fisik) akan merasakan sakit dengan sejumlah faktor yang menjadikan akan hati merasa sakit karenanya, dan akan merasa malang dengan sejumlah faktor yang yang mengakibatkan hati menjadi malang.

Maka amarah — misalnya — menjadikan hati menjadi sakit dan obatnya adalah dengan ‘meredakan amarahnya’. Jika ia mengobatinya dengan cara yang benar, maka hatinya akan sembuh, namun jika mengobatinya dengan kezhaliman dan kebathilan maka akan bertambahlah penyakit hatinya, padahal dia menyangka perbuatan itu menyembuhkan penyakit hatinya. Ia — sebagaimana orang yang mengobati penyakit asmara — dengan melakukan kemaksiatan (misalnya dengan melakukan perselingkuhan atau, bahkan ‘perzinaan) dengan orang yang dia cintai, maka sesungguhnya hal itu akan menambah penyakitnya dan menyebabkan tumbuhnya penyalit lain yang akan lebih sulit untuk diobatoi daripada penyakit asmara yang pernah diderita. Karena dia mengobati dengan cara meracunin dirinya.

Demikian pula perasaan galau, resah, dan sedih merupakan penyakit-penyakit hati, dan untuk mengobatinya adalah dengan sesuatu yang berlawanan dengannya, yakni dengan membangun kesenangan dan kegembiraan. Maka apabila semua penyakit itu diobati dengan cara yang benar, maka akan sembuhlah (penyakit) hatinya, hatinya kembali sehat dan terlepas dari penyakitnya. Namun – sebaliknya — jika kesenangan dan kegembiraan itu diraihnhya dengan cara yang bathil, niscaya penyakit itu pun akan tetap bersembunyi dan menyelinap di balik tabir qalb (hati) dan tidak akan hilang, bahkan bisa (berakibat) menyebabkan penyakit-penyakit lain yang lebih sulit diobati dan lebih berbahaya daripada penyakit sebelumnya.

Demikian pula ‘kebodohan’ – misalnya — merupakan penyakit yang menimpa hati. Di antara manusia ada yang mengobatinya dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat, dan dia meyakini bahwa dia telah sehat dari penyakitnya (terlepas dari kebodohan) dengan ilmu-ilmu tersebut. Pada hakikatnya justeru dia akan menambah penyakit lain di atas penyakitnya. Hatinya justeru akan tersibukkan dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfat itu, dan merasakan sakit yang terpendam, karena ketidaktahuannya tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat. Nabi  shallâllahu ’alaihi wa sallam — bersabda mengenai orang yang berfatwa dengan kebodohan, lalu orang yang meminta fatwa itu meninggal karena fatwa mereka,

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمْ اللَّهُ أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ أَوْ يَعْصِبَ شَكَّ مُوسَى عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ

“Mereka membunuh orang tersebut, semoga Allah membunuh mereka, mengapa tidak bertanya jika tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah dengan bertanya.” (HR Abu Dawud dari Jabi bin Abdullah radhiyallâhu ’anhu, Sunan Abî Dâwud, I/132, hadits no. 336)

Maka kebodohan mengenai (ilmu) agamanya adalah sebuah penyakit dan obatnya adalah bertanya kepada para ulama. Demikian pula orang yang bingung terhadap sesuatu (keraguan) merupakan penyakit yang menimpa hati, hingga ia mendapatkan ilmu dan keyakinan. Kebingungan itulah yang menyebabkan dahaga, sehingga orang yang mendapatkan keyakinan dikatakan dadanya menjadi sejuk, merasakan dingin karena keyakinan. Dan dia yang merasa sempit karena kebodohan dan tersesat dari jalan petunjuk (hidayah) Allah akan merasa lapang dengan hidayah dan ilmu.

Allah — ‘Azza wa Jalla — berfirman,

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإِسْلاَمِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاء كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS al-An’âm/6: 125)

Kesimpulan penting dari pembahasan ini adalah: “Bahwasanya di antara penyakit hati ada yang bisa dihilangkan dengan pengobatan yang biasa, dan ada yang tidak bisa hilang kecuali dengan pengobatan yang khusus, berupa terapi spiritual dengan cara berdzikir dan mengembalikan semua persoalan kepada Allah, mengikuti petunjuk para rasulNya dan bertanya kepada para ulama yang mewarisi risalah para rasulNya. Hati itu memiliki kehidupan dan kematian, sakit dan sehat. Dan hati itulah sesuatu yang paling berarti dibandingkan dengan apa pun yang dimiliki oleh setiap manusia.

[Dikutip dan diselaraskan dari kitab Ighâtsatul Lahfân min Mashâidisy Syaithân, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah]