Doa Berbuka Puasa

Banyak orang bertanya tentang doa berbuka puasa. Mana si antara sekian banyak doa yang paling shahih? Nah, berdasarkan hasil penelusuran saya, doa berbuka puasa yang didasarkan pada hadis yang shahih adalah:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

“Dzahabazh Zhama’u, Wabtalati-l ‘Urûqu wa Tsabatal Ajru, Insyâallâh”.

(Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah).

Teks Hadis Selengkapnya

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: « كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Dzahabazh Zhama’u, Wabtalatil ‘Urûqu wa Tsabatal Ajru, Insyâallâh” (Hadis Riwayat Abu Daud, dalam kitab Sunan Abî Dâwud, hadis nomor 2357, Ad-Daruquthni dalam kitab Sunan ad-Dâruquthnî, hadis nomor 2279, Al-Bazzar dalam al-Musnad, hadis nomor 5395, dan Al-Baihaqi dalam as-Sunan as-Shugrâ, hadis nomor 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).

Kapan Doa Ini Diucapkan?

Umumnya doa terkait perbuatan tertentu, dibaca sebelum melakukan perbuatan tersebut. Doa makan, dibaca sebelum makan, doa masuk kamar mandi, dibaca sebelum masuk kamar mandi, dan seterusnya. Nah, apakah ketentuan ini juga berlaku untuk doa di atas?

Dilihat dari arti doa di atas, zhahirnya (secara tekstual) menunjukkan bahwa doa ini dibaca setelah orang yang berpuasa itu berbuka. Syaikh Muhammad ibnu Utsaimin menegaskan:

لكن ورد دعاء عن النبي صلى الله عليه وسلم لو صح فإنه يكون بعد الإفطار وهو: ”ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله“  فهذا لا يكون إلا بعد الفطر

“Hanya saja, terdapat doa dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, jika doa ini shahih, bahwa doa ini dibaca setelah berbuka. Yaitu doa: Dzahabazh Zhama’u, Wabtalatil ‘Urûqu wa Tsabatal Ajru, Insyâallâh. Doa ini tidak dibaca kecuali setelah selesai berbuka.” (Al-Liqâ asy-Syahriy, no. 8, dinukil dari Islamqa.com)

Keterangan yang sama juga disampaikan dalam Fatâwâ Syabakah Islâmiyyah, no. 7428.

Karena itu, urutan yang tepat untuk doa ketika berbuka adalah:

  1. Membaca basmalah sebelum makan kurma atau minum (berbuka).
  2. Mulai berbuka
  3. Membaca doa berbuka: Dzahabazh Zhama’u, Wabtalatil ‘Urûqu wa Tsabatal Ajru, Insyâallâh.

Anjuran Memperbanyak Doa Ketika Berbuka Puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ السَّحَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang dizhalimi, Allah angkat di atas awan pada hari kiamat.”

(Hadis Riwayat At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, hadis nomor 2526, ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Ausath, hadis nomor 7111, ath-Thayalisi, Musnad ath-Thayâlisi, hadis nomor 2707. Syaikh Aqil bin Muhamad al-Maqthiri mengatakan: Hadis ini statusnya hasan berdasarkan gabungan semua jalurnya. Hadis ini juga dinilai hasan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkhîsh Al-Khabîr, 2: 96).

Hadis di atas menunjukkan anjuran bagi orang yang sedang puasa untuk memperbanyak berdoa sebelum dia berbuka. Sebagian ulama menegaskan bahwa hadis ini tidak ada hubungannya dengan berdoa ketika berbuka. Karena teks hadis ini bersifat umum, bahwa orang yang sedang berpuasa memiliki peluang dikabulkan doanya di setiap waktu dan setiap kesempatan, sebelum dia berbuka. (I’lâmul Anâm bi Ahkâm ash-Shiyâm, hal. 76).

Akan tetapi disebutkan dalam sunan at-Tirmidzi, redaksi yang serupa dinyatakan:

وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ

Orang yang berpuasa ketika berbuka.” (Sunan At-Tirmidzi, hadis nomor 2526).

Makna tersirat dari hadis menunjukkan bahwa anjuran memperbanyak doa itu terakait dengan kegiatan berbuka. Wallâhu a’lam.

Keterangan ini juga dikuatkan dengan riwayat dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallâhu ‘anhumâ, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ.

Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, Sunan Ibni Mâjah, hadis nomor 1753, Al-Hakim, Mustadrak al-Hâkim, 1/422, hadis nomor 1535, al-Baihaqi, Syu’ab al-Îmân, hadis nomor 3308, ath-Thabrani, ad-Du’â’ li ath-Thabrânî, hadis nomor 919, Ibnu Sunni, ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah, hadis nomor 128, Inbu Asâkir, Mu’jam asy-Syuyûkh ibn Asâkir, hadis nomor 365, dan Ath-Thayâlisi, al-Musnad, hadis nomor 299 dari dua jalur. Al-Bushiri mengatakan (2/81): ‘Sanad hadis ini shahih, rawi (periwayat)-nya tsiqah’. Demikian keterangan dari Shifat Shaum an-Nabiy shallallâhu ‘alaihi wa sallam, hal. 67–68).

Kemudian, doa-doa kebaikan ini selayaknya dibaca sebelum memulai berbuka. Karena ketika belum berbuka, seseorang masih dalam kondisi puasa, dan bahkan di puncak puasa, sehingga dia lebih dekat dengan Allah Ta’ala. Sementara ketika diatelah berbuka, dia dinyatakan telah selasai dalam berpuasa (Dari Fatwa Islam, no. 14103).

Doa Apa yang Bisa Dibaca Ketika Hendak Berbuka?

Anda bisa membaca doa apapun yang Anda inginkan. Baik terkait kehidupan dunia maupun akhirat. Karena waktu menjelang berbuka adalah waktu yang mustajab.

Kemudian, disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, bahwa ketika berbuka, sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallâhu ‘anhumâ, membaca doa tertentu.

Dari Ibnu Abi Mulaikah (salah seorang tabiin), beliau menceritakan: Aku mendengar Abdullah bin Amr ketika berbuka membaca doa:

اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Allâhumma Innî As-aluka bi Rahmatika Al-Latî Wasi’at Kulla Syai-in An Taghfira Lî.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.” (Sunan ibni Mâjah, 1/557 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Îmân, hadis nomor 3621)

Doa Berbuka yang Tidak Benar

Terdapat satu doa berbuka yang tersebar di masyarakat, namun doa bersumber dari hadis yang lemah. Kita sering mendengar beberapa anggota masyarakat membaca doa berbuka berikut:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Allahumma laka shumtu wa bika âmantu wa ‘ala rizkika afthartu”.

(Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman dan atas rezekiMu aku berbuka).

Status Sanad Hadis

Doa dengan redaksi ini diriwayatkan Abu Daud, Sunan Abî Dâwud, hadis nomor 2358 secara mursal (tidak ada perawi sahabat di atas tabi’in), dari Mu’adz bin Zuhrah. Sementara Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in, sehingga hadis ini mursal. Dalam ilmu hadis, hadis mursal dinilai merupakan hadis dha’if karena sanadnya yang terputus.

Doa di atas dinilai dha’if oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, sebagaimana keterangan beliau di Dha’îf Sunan Abî Dâwud, hadis nomor 510 dan Irwâ’ al-Ghalîl, 4: 38.

Hadis semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat rawi (periwayat) yang dha’if, yaitu Daud bin Az-Zibriqan; dia adalah seorang rawi (periwayat) matrûk (ditinggalkan/diabaikan hadisnya). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:

وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ فِيهِ دَاوُدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ ، وَهُوَ مَتْرُوكٌ

“Sanad hadis ini dhaîf, karena di sana ada Daud bin Az-Zibriqan; dan dia perawi matrûk.” (At-Talkhis Al-Habir, 3:54).

Ada juga yang ditambahi dengan lafazh:

بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

(Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang paling belas kasih”).

Namun sekali lagi, tambahan ini juga tidak memiliki dasar dalam syariat. Karena itu, sebaiknya tidak dilantunkan sebagai doa berbuka.

Ringkasnya, bahwa doa terkait bebuka ada dua:

  1. Doa menjelang berbuka. Doa ini dibaca sebelum anda mulai berbuka. Doa ini bebas, anda bisa membaca doa apapun, untuk kebaikan dunia dan akhirat anda.
  2. Doa setelah berbuka. Ada doa khusus yang diajarkan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan dalam riwayat dari Abdullah ibnu Umar. Lafazh doanya adalah

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Dzahabazh Zhama’u, Wabtalatil ‘Urûqu wa Tsabatal Ajru, Insyâallah.

(Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah).

Sebagai muslim yang berhati-hati dan berkeinginan  untuk mengikuti sunnah shahihah, selayaknya kita cukupkan doa setelah berbuka dengan doa yang shahih ini, dan tidak memberi tambahan dengan redaksi yang lain. Meskipun sebagai ibadah ghairu mahdhah, menurut banyak ulama, boleh saja kita berdoa dengan cara kita, termasuk dengan berbahasa ibu kita.