Ketika Manusia Berkaca Diri

31 Desember 2013 pukul 7:29

Ketika Manusia Berkaca Diri

 

Banyak hal yang menyita waktu manusia untuk mengumpat dan berkeluh-kesah, karena dirinya tak terpuaskan dengan keberadaannya. Kadang mereka pun menyapa Tuhan-nya dengan sumpah-serapah, seolah tak sadar bahwa ia telah mendapatkan kecukupan nikmat. Ia pun sering lupa untuk bersyukur atas semua karunia-Nya dan bersabar atas semua bentuk ujian-Nya.

 

Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

 

إِنَّ الإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١) إِلاَّ الْمُصَلِّينَ (٢٢) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ (٢٣)

 

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.“ (QS al-Ma’ârij, 70: 19-23) 

 

Setiap tujuan tak pernah lepas dari proses yang mengawalinya. Terkadang proses itu begitu memberatkan, menyulitkan dan melelahkan. Dalam keadaan seperti ini, biasanya manusia cenderung berkeluh-kesah dan tidak sabar. Adakalanya manusia lupa untuk bersyukur atas semua nikmat Tuhannya, padahal ia tak akan pernah sanggup menghitung seluruh nikmat Tuhan yang telah diberikan kepadanya.

 

Allah pun — kata Rasulullah s.a.w. — menjanjikan pahala bagi mereka yang mau dan ikhlas bersusah payah untuk mensyukuri nikmat-Nya dengan berupaya untuk menggapai kebaikan-kebaikan yang ditawarkanNya.

 

Dalam sebuah hadis disebutkan,

 

كَانَ رَجُلٌ لَا أَعْلَمُ رَجُلًا أَبْعَدَ مِنْ الْمَسْجِدِ مِنْهُ وَكَانَ لَا تُخْطِئُهُ صَلَاةٌ قَالَ فَقِيلَ لَهُأَ وْ قُلْتُ لَهُ لَوْ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِي الظَّلْمَاءِ وَفِي الرَّمْضَاءِ قَالَ مَا يَسُرُّنِي أَنَّ مَنْزِلِي إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِي مَمْشَايَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَرُجُوعِي إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَذَلِكَ كُلَّهُ

 

“Ada seorang laki-laki yang tinggal paling jauh dari masjid. Namun, ia tak pernah sekali pun melewatkan shalat berjamaah (bersama dengan Rasulullah s.a.w. di masjid tersebut). Lalu ada usulan (dari para sahabat, termasuk aku) kepadanya: ”Mengapa engkau tidak membeli seekor keledai yang bisa dikendarai di gelapnya malam dan teriknya siang?” Laki-laki itu menjawab, ”Aku tidak ingin demikian. Aku ingin Allah SWT mencatat setiap langkahku ketika berangkat ke masjid, dan ketika kembali ke rumah.” Rasulullah s.a.w. yang mendengar hal itu berkata, ”Allah telah mengumpulkan semua kebaikan yang kau inginkan itu untukmu.” (HR Muslim dari Ubay bin Ka’ab). Hadis serupa juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan ad-Darimi.

 

Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap lelah yang dirasakan seorang hamba demi untuk melakukan suatu ibadah akan mendapatkan ganjaran yang setimpal berupa pahala dari Allah SWT, selama ia tidak berkeluh kesah dan ikhlas terhadap apa yang dijalankan.

 

Berkeluh kesah adalah sifat buruk yang tidak pantas dimiliki oleh seorang Muslim. Hanya orang-orang pilihanlah yang mampu menghindari sifat ini. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menjalankan shalatnya, menginfakkan hartanya kepada orang yang berhak, meyakini adanya hari pembalasan, takut terhadap azab Allah SWT, menjaga kehormatannya, menjaga amanah, dan teguh pada kesaksiannya.

 

Dengan berusaha menjalankan hal-hal di atas, sifat keluh-kesah dengan sendirinya akan hilang. Tujuan yang diinginkan dapat diperoleh dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat pun akan tercapai.  Dan kata al-Quran: “semua akan tergapai dengan Shalat Yang Terjaga.

 

Ngadisuryan Yogyakarta, 31 Desember 2013