Memahami Esensi Peringatan Maulid Nabi  s.a.w. (Perspektif Fiqih Kontemporer)

Prolog

Peryataan bahwa semua aktivitas yang berkaitan dengan peringatan  “Maulid Nabi Muhammad s.a.w.” – yang diselenggarakan oleh umat Islam hingga saat ini — adalah (amalan) bid’ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid’ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan – dalam masalah ibadah — dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari al-Quran dan as-Sunnah. Adapun Kegiatan yang berkaitan dengah peringatan Maulid  walaupun merupakan sesuatu yang baru di dalam Islam, akan tetapi bukan merupakan masalah ibadah yang memiliki landasan dari al-Quran dan as-Sunnah, tetapi benar-benar merupakan masalah mu’amalah yang semestinya dipandang sebagai sesuatu yang berstatus hukum “mubâh”, sebagaimana kaedah fiqih yang dipahami para ulama: “الأصل في المعاملات الإباحة حتى يدل دليل على خلافه.” (Pada dasarnya setiap persoalan yang berkaitan dengan mu’amalah hukumnya mubah [boleh dikerjakan] sehingga ada dalil yang mengingkari/menyelisihi kebolehannya).

Pada rangkaian acara Maulid Nabi Muhammad s.a.w. — di dalamnya — banyak sekali muatan nilai keislaman yang berupa “implementasi ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya”, seperti: “ceramah pengajian, tadarus Al-Quran, bakti-sosial dan silaturahim antarumat Islam dalam beragam bentuknya”, yang semuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama (Islam) dan ada dalilnya – baik secara eksplisit maupun implicit — di dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Bagaimana dengan: “Pengkhususan Waktu?”

Ada sejumlah orang yang menyatakan bahwa Peringatan Maulid bisa dan layak dikatakan bid’ah adalah karena adanya pengkhususan (takhsîsh) dalam pelaksanaan di dalam waktu tertentu, yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal, yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnya perlu ditinjau kembali, karena takhsîsh yang dilarang di dalam Islam ialah takhsîsh dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali pada hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak memiliki landasan syar’I, sehingga seolah-olah ada ‘pewajiban’ mutlak.

Hal ini berbeda dengan penempatan waktu Perayaan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. pada bulan Rabi’ul Awwal; karena orang yang melaksanakannya, dengan memilih waktu peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. pada bulan Rabi’ul Awwal itu, ‘insyaallah’ sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. tidak boleh dilakukan kecuali pada bulan Rabi’ul Awwal, apalagi harus diadakan pada tanggal-tanggal tertentu dengan acara-acara tertentu. Peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. – dengan beragam acaranya yang tidak terikat dengan ibadah (mahdhah) — bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda, selama ada nilai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak bercampur dengan kemaksiatan, sehingga benar-benar bernilai mashlahat, dan tidak berseberangan dengan nilai-nilai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang dinyatakan oleh para ulama fiqih dengan istilah: Mashlahah Mursalah, bukan Mashlahah Mulghah. Pengkhususan waktu Peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w.  di sini bukan termasuk dalam kategori takhsîsh yang dilarang oleh syara’ (agama) tersebut, akan tetapi ‘semata-mata’ masuk dalam kategori tartîb (penertiban) yang diperbolehkan.

Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal shalih – dalam hal ini — adalah “diperbolehkan”. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri – misalnya – pernah mengkhususkan hari tertentu untuk beribadah dan berziarah ke masjid Quba’, seperti diriwayatkan oleh Abdullan bin Umar, bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pernah mendatangi masjid Quba’ setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan dan melaksanakan shalat dua rakaat di masjid itu (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar al-Asqalani mengomentari hadis ini (dengan) mengatakan: “Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya yang menunjukan diperbolehkannya untuk mengkhususkan sebagian hari-hari tertentu dengan amal-amal shalih dan boleh dilakukan secara terus-menerus”. (lihat: Fathul Bâri, III/84).

Imam an-Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Shahîh Muslim. Para sahabat Anshar juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul (untuk) bersama-sama mengingat nikmat Allah, (yaitu datangnya Nabi Muhammad s.aw.) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya dengan sebutan “Yaumul ‘Urûbah” dan direstui oleh Nabi Muhammad s.a.w.).

Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Peringatan Maulid, dan (juga) yang lainnya hanyalah untuk ‘penertiban acara-acara’ dengan memanfaatkan momentum yang sesuai, tanpa ada keyakinan apa pun; hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, pengkhususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tetapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan.

Acara maulid di luar bulan Rabi’ul Awwal sebenarnya telah ada dari dahulu, yang terjadi secara kultural pada kalangan masyarakat terentu, seperti acara pembacaan kitab Dibâgh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi shalawat-shalawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah masuk dalam kategori Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W., walaupun di Indonesia, masyarakat tidak menyebutnya dengan sebutan maulid’ Dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara Maulid Nabi Muhammad s.a.w., karena ekppresi ‘syukur’ (nikmat) tidak hanya bisa dilakukan dalam satu waktu tertentu, tetapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan (bersesuaian dengan prinsip dan nilai syari’at Islam) dan tidak dengan bercampur dengan kemaksiatan. Seperti di Yaman, Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W., diadakan setiap Malam Jumat, yang berisi bacaan shalawat-shalawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama, dengan tema utama: “Meneladani Nabi Muhammad s.a.w.”.

Dengan argumen di atas, maka penjadwalan Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. padabulan Rabi’ul Awwal hanyalah ‘murni’ acara yang terkait ‘budaya’ masyarakat muslim, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan persoalan ibadah (baca: syari’at Islam); dan barangsiapa yang meyakini bahwa acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. tidak boleh diadakan oleh ‘Syariat (Islam)  selain bulan pada Rabi’ul Awwal, maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid’ah dhalâlah.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Tidak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sahabat

Di antara orang yang mengatakan bahwa memeringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. adalah bid’ah adalah karena acara tersebut tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau ‘Masa Salaf’. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum (Istinbâth al-Ahkâm) dari al-Quran dan as-Sunnah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi s.a.w. atau Sahabat – yang dalam terms ulama Ushul Fiqih disebut dengan sebutan: “at-Tark” – dan tidak ada keterangan ‘apakah’ hal tersebut diperintahkan atau dilarang, maka menurut Ulama Ushul Fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunnah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-Tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi s.a.w. atau sahabat memunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan (disimpulkan) bahwa hal itu adalah “haram atau wajib”, dengan tanpa analisis yang cermat.

Di bawah ini akan saya sebutkan alasan-alasan mengapa Nabi Muhammad  s.a.w. meninggalkan sesuatu:
1. Nabi Muhammad s.a.w. meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS al-Hajj/22: 77). Kebajikan yang terdapat di dalam ayat tersebut maknanya adalah ’umum’ dan Nabi s.a.w. tidak menjelaskan semuanya secara rinci.
2. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.
3. Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan sesuatu karena takut akan mengubah (mengusik) perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada ’Aisyah r.a.: “Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka’bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim a.s.. Sungguh (orang-orang) Quraiys telah membuat bangunan ka’bah menjadi pendek.” (HR. Bukhari dan Muslim). Nabi s.a.w. meninggalkan untuk merekonstrusi Ka’bah karena menjaga hati (perasaan) para mualaf Makkah, agar perasaan mereka tidak terganggu.

4. Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi s.a.w. disuguhi biawak panggang, kemudian Nabi s.a.w. mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: “itu biawak!”, maka Nabi s.a.w. menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: “apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: “Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!” (HR Bukhari dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhal (utama). Dan adanya yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhûl) adalah haram. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas, baca: Syekh Abdullah al-Ghamariy. Husnu Tafâhum wad Dark li Masalatit Tark)

Dan Nabi bersabda:” Apa yang dihallakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca: “Dan tidaklah Tuhanmu lupa“. (HR. Abu Dawud, Bazar dan lain-lain) dan Nabi s.a.w. juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya“. (HR ad-Daruqutnhi)

Dan Allah berfirman: . . .وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا  . . . [Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.] (QS al-Hasyr/: 7) dan Allah tidak berfirman  dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

Epilog

Dari keseluruhan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa “at-Tark” – seperti penyelengaraan kegiatan peringan maulid nabi” — tidak (semuanya) memberi faedah (mengisyaratkan) hukum haram. Dan alasan pengharaman ’peringatan maulid’, dengan alasan karena tidak pernah sama sekali dilakukan oleh Nabi s.a.w. dan para sahabat, dan juga tidak ada perintahnya dalam al-Quran dan as-Sunnah, sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil. Karena ’kegiatan semacam ini’ masuk dalam kategori mashlahah mursalah.

Dalam kaedah mashlahah yang berkaitan dengan persoalan mu’amalah, beelaku kaedah: : “الأصل في المعاملات الإباحة حتى يدل دليل على خلافه.” (Pada dasarnya setiap persoalan yang berkaitan dengan mu’amalah hukumnya ”mubah [boleh dikerjakan]” sehingga ada dalil yang mengingkari/menyelisihi kebolehannya).

Selama kegiatan peringatan “Maulid Nabi Muhammad s.a.w.” yang diselenggarakan oleh siapa pun tidak bermuatan sesuatu yang melanggar nilai dan prinsip syari’at, maka kegiatan tersebut bernilai ”mubah [boleh dikerjakan]”. Bahkan, bila kegiatan tersebut ditengarai bisa memberikan dampak positif, dan sama sekali tidak berdampak negatif,  bisa berubah hukumnya – dengan meminjam prinsip (pertimbangan) istihsân – menjadi: ”sunnah”. Bahkan, kalau kegiatan tersebut menjadi prasyarat yang harus ada dalam mewujudkan kewajiban (syar’i), maka hukumnya bisa berubah menjadi ”wajib”, dengan meminjam kaedah fiqih: مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ (sesuatu yang harus ada, sebagai prasyarat bagi keberadaan kewajiban yang mempersyaratkannya, [maka] sesuatu [yang harus ada] itu menjadi wajib). Sebaliknya, bila peringatan “Maulid Nabi Muhammad s.a.w.” yang diselenggarakan itu ditengarai bisa berdampak negatif, dengan meminjam prinsip (pertimbangan) Saddudz Dzarî’ah, bisa berubah hukumnya menjadi ’makruh’, bahkan ’haram’.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan ”bid’ah” terhadap  kegiatan-kegiatan budaya, seperti ”Kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad s.a.w.”, yang hingga kini telah menjadi bagian dari budaya umat Islam. Bukan saja di Indonesia, tetapi – bahkan – di berbagai belahan dunia Islam.