Membangun Kembali Spirit Ishlâh

Spirit Ishlâh, yang pada zaman keemasan Islam menjadi ‘andalan’ untuk merajut ukhuwah, kini semakin pudar. Hingga rajutan ukhuwah yang pernah terjalin, kini lepas ‘bak’ benang-benang yang tengah terurai; bahkan ada pula yang sudah berwujud benang kusut yang sangat sulit untuk diurai kembali. Oleh karenanya, kini saatnya kita — umat Islam — merajut kembali benang-benang itu dengan spirit Ishlâh yang baru, agar ukhuwah yang pernah terajut bisa terwujud kembali. Ingat pepatah Jawa: “Rukun Agawe Santoso, Crah Agawe Bubrah”, atau dalam bahasa Indonesia sering dikatakan: “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”.

Berkaitan dengan artipentingnya Ishlâh, Allah berfirman:

وَ إِنْ طائِفَتانِمِنَ الْمُؤْمِنينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُما فَإِنْ بَغَتْ إِحْداهُماعَلَى الْأُخْرى فَقاتِلُوا الَّتي تَبْغي حَتَّى تَفي ءَ إِلى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُما بِالْعَدْلِ وَ أَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطينَ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah olehmu antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya itu berbuat aniaya, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya tersebut, sehingga golongan itu kembali kepada Allah. Jika golongan tersebut telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan  berlaku adilllah kamu sekalian, (karena) sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Hujurât [49]: 9).

Tafsîr al-Mufradât:

فَأَصْلِحُوا:

Maka kamu sekalian (orang-orang yang beriman) memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mendamaikan antarmereka (orang-orang yang beriman). Kalimat ini berasal dari kata kerja shaluha, yang berarti “terhentinya kerusakan atau diraihnya manfaat”. Perintah dengan menggunakan kata ashlih, berasal dari fi’il mâdhiashlaha”, yang bermakna: “hentikan kerusakan atau tingkatkan kualitas kebaikan, sehingga bisa memberi manfaat lebih banyak”. Dalam konteks hubungan antarmanusia, nilai kebaikan itu tercermin dalam keharmonisan hubungan antarmereka. Oleh karenanya, jika ada keretakan hubungan antarmereka, mereka sendirilah yang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memerbaikinya, agar hubungan yang (pernah) harmonis — yang kini retak – itu (menjadi) pulih kembali. Inilah yang disebut dengan spirit/ruh/semangat ishlâh (perbaikan), agar hubungan yang harmonis itu tetap tumbuh subur, dan terhindar dari konflik yang bisa berakibat retaknya hubungan antarmereka.

بِالْعَدْلِ:

Dengan adil; Dalam melakukan ishlâh, tidak boleh ada keberpihakan kepada salah satu pihak, sehingga pihak yang lain mungkin ‘bisa’ terzalimi karenanya. Ishlâh yang dilakukan oleh siapa pun untuk siapa pun – idealnya – harus mendatangkan kemashlahatan bagi kedua pihak yang bermasalah (berseteru) dalam berbagai ragamnya.

أَقْسِطُوا:

Berasal dari kata al-qisth, yang semakna dengan kata al-‘adl; sehingga bermakna (perintah) “berbuat adillah kamu sekalian”  – hai orang-orang yang beriman – kepada siapa pun (orang-orang yang beriman) yang tengah berseteru di antara mereka. Dalam menafsirkan kata al-qisth, para ulama menyatakan bahwa  al-Qisth adalah keadilan yang diterapkan atas dua pihak atau lebih, keadilan yang yang menjadikan mereka senang dan puas. Sedang al-‘adl adalah “menempatkan sesuatu pada tempatnya, walaupun tidak menyenangkan dan (tidak) memuaskan antarpihak yang berseteru. Dengan demikian, perintah untuk berbuat adil dengan kalimat “aqsithû”, bermakna perintah untuk menciptakan win-win solution (pemecahan masalah yang dapat memberikan keuntungan semua pihak yang berseteru, tanpa merugikan satu pihak pun), sehingga bangunan harmoni yang pernah tercipta akan selalu tercipta setelah adanya ishlâh, tanpa ada satu pihak pun yang merasa tercederai atau tersakiti.

Penjelasan (Tafsîr) Ayat

Dalam bahasa Arab, ishlâh berarti berdamai atau perdamaian. Menurut ayat di atas, terjadinya perselisihan, keributan, maupun tawuran antara dua kelompok harus didamaikan melalui tindakan ishlâh. Apabila terdapat kelompok yang tidak mau diajak berdamai (ishlâh), maka kelompok tersebut harus ditekan, agar mau melaksanakan ishlâh.

Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, bebas dari ajaran yang mengajarkan tentang (pemeliharaan) sikap dendam dan rasa sakit hati. Bahkan menekankan agar kegiatan ishlâh ini senantiasa (harus) dikumandangkan dan diterapkan dalam upaya untuk membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat dalam arti luas. Apa saja masalah yang dihadapi serta kapan saja perselisihan itu muncul, maka ishlâh harus menjadi pilihan untuk diadakan, sehingga keutuhan Ukhuwwah Islâmiyyah dalam pengertian yang luas akan tetap terjaga, dan perseteruan dalam berbagai ragamnya akan selalu sirna .

Sudah seharusnya Umat Islam menjadi trend-setter (pemrakarsa yang pertama dan utama) dalam tindakan ishlâh ini, sebagaimana firman Allah yang substansinya memberikan motivasi kepada semua orang yang beriman, tanpa perkecualian:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”’ (QS al-Hujurât [49]: 10).

Betapa pentingnya ishlâh ini, sehingga Rasulullah s.a.w. mencela seseorang muslim yang tidak saling bertutur-sapa dengan sesamanya lebih dari tiga hari. Sebagaimana sabda beliau,

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِى يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ.

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membiarkan saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya bertemu tetapi saling memalingkan muka. Dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, VIII/65, hadits nomor 6237 dan HR Muslim, Shahîh Muslim, VII/9, hadits nomor 6697, dari Abu Ayyubal-Anshari. Lafazh hadits ini dari hadits riwayat Muslim)

Bahkan, dalam kehidupan berumah tangga pun Allah menekankan arti penting ishlâh ini, sebagaimana firman-Nya:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلاَ جُنَاْحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِن تُحْسِنُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan jika wanita khawatir akan dimusuhi atau sikap acuh tak acuh suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka, walaupun manusia itu menurutkan tabiat kikirnya.” (QS an-Nisâ’ [4]: 128).

Ibnu Katsir – dalam kitab tafsirnya Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, II/426, menjelaskan, bahwa ayat di atas berkisah tentang seorang isteri yang khawatir akan diceraikan oleh suaminya, sebab suaminya tidak mencintai dirinya lagi atau karena memiliki utang kepada dirinya. Jalan ishlâh yang dilakukan sang isteri ialah mengurangi tuntutan haknya kepada suami. Lantaran hal itu, suaminya membatalkan rencana untuk menceraikan Sang Isteri. Akhirnya keharmonisan serta keutuhan keluarga mereka tetap terjaga, Karena solusi dengan cara itu. Islam pun memerintahkan, agar perceraian harus dihindari dengan jalan ishlâh, karena perceraian merupakan pekerjaan  yang – meskipun – halal, tetapi dibenci (dimurkai) oleh Allah SWT. Sehingga, kalaupun perceraian itu harus terjadi, sebaiknya dipilih untuk menjadi alternatif terakhir.

Inilah uraian tentang artipenting Ishlâh. Mudah-mudahan doktrin Islam tentang ishlâh ini dapat dijadikan sebagai sebuah solusi yang terpilih bagi kita, agar kita selalu berupaya untuk menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi di antara kita; sehingga ketenangan, ketenteraman, serta kekhusyu’an kita dalam beribadah akan menjadi ‘warna kita’ dalam menjalani samudera kehidupan ini.

Âmîn Yâ Rabbal ‘Âlamîn.