Al-Hasad:

“Penyakit Hati yang Sangat Merugikan”

Al-Hasad adalah sebuah penyakit yang tumbuh di hati seseorang apabila ia tidak senang kepada keberhasilan orang lain, yang oleh beberapa mubaligh dijelaskan dengan sebutan: SMS (Senang Melihat Orang Lain Susah,dan Susah Melihat Orang Lain Senang). Sikap ini biasanya didahului oleh sikap yang menganggap diri paling hebat dan paling berhak mendapatkan segala yang terbaik, sehingga jika melihat ada orang lain yang ‘kebetulan’ lebih beruntung, maka ia merasa tersaingi. Jadi, pada dasarnya, al-hasad  ini juga berasal dari sikap membesarkan (kibir) diri atau sombong. Dan untuk menghindarinya, diperlukan sikap tauhid.

Sikap tauhid diperhitungkan akan membuahkan hal yang sebaliknya, karena dengan mentauhidkan Allah seseorang insyaallah akan bisa merasakan, bahwa semua makhluk Allah sama kedudukan dan haknya (masing-masing) di hadapan Allah SWT. Hanya Allah sendiri yang pantas dianggap lebih dari semua yang ada. Adapun manusia punya hak yang sama di sisi-Nya. Jika ada manusia yang lebih dimuliakan oleh Allah dari yang lainnya, maka hanya Allah sendiri yang berhak menentukan apa kriterianya, dan bagaimana cara mengukurnya. Di dalam al-Qur’an dikatakan, bahwa kelebihan seseorang manusia terhadap yang lain hanyalah ditentukan oleh ketaqwaan manusia tersebut, sebagaimana firman-Nya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”  (QS. al-Hujurât/49: 13)

Namun ‘taqwa’ ini merupakan kualitas hati, yang tidak mungkin diketahui — dengan tepat — ukurannya oleh manusia. “Taqwa-Meter” (indikator ketaqwaan) tak pernah dan tak mungkin dibuat oleh manusia. Oleh karena itu hanya Allah SWT-lah yang mengetahui derajat ketaqwaan seseorang, dan karena hanya Allah yang Maha Sadar (Khabîr = absolutely well informed) akan nilai setiap orang, maka hanya Allah-lah yang bisa menilai kelebihan seseorang terhadap yang lain.

Memang dalam pergaulan sesama manusia sering diperlukan suatu metoda tertentu untuk menilai mutu seseorang, misalnya setiap guru atau dosen harus menilai murid atau mahasiswanya untuk mengetahui apakah ia pantas dinaikkan atau diluluskan. Di dalam suatu perusahaan, seorang manajer personalia harus mengadakan penilaian (performance appraisal) terhadap bawahannya, namun penilaian itu hanyalah bersifat lahiriah, yaitu – yang dinilai — ialah: (hasil) prestasi yang terukur secara lahiriah, sama sekali bukan nilai moral atau motivasi bawahan tersebut.

Oleh karena itu penilaian prestasi (performance appraisal) yang dilakukan oleh seorang manajer personalia yang Islami haruslah berdasarkan persetujuan antara si penilai dan orang yang dinilai, dan kedua orang ini haruslah menandatangani laporan hasil penilaian tersebut. Aturan yang sudah biasa dilakukan di kalangan manajer (yang) modern ini dibuat demi menghasilkan penilaian yang lebih mendekati keobjektifan, namun semua pakar manajemen masih mengakui, bahwa penilaian yang objektif seratus persen tidak akan pernah dicapai oleh manusia, jadi tepat sebagaimana difirmankan Allah SWT:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلاً

“Katakanlah: ‘Setiap kamu berkarya menurut bakat masing-masing, hanya Allah, Tuhanmu yang paling mengetahui siapa yang benar-benar mendapat petunjuk di jalan yang ditempuhnya.” (QS. al-Isrâ’/17:  84)

Ayat ini — dengan tegas –menyatakan, bahwa selain Allah tidak ada seorang pun yang mampu memberikan penilaian yang benar-benar objektif. Oleh karena itu, sikap dengki yang biasanya didahului oleh penilaian yang subjektif terhadap diri orang lain ditengarai akan bisa mendekatkan seseorang kepada ‘syirik’, karena menilai secara subjektif itu pada hakikatnya sudah berarti menandingi hak Allah SWT, dengan sikap sombongnya.

Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

(Dikutip dan diselaraskan dari Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc., Kuliah Tauhid, Bandung: Pustaka-Perpustakaan Salman ITB, Cetakan I, 1979 dan Cetakan II, 1980; dan Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., Kuliah Tawhid, Jakarta: Yayasan Pembina Sari Insan [YAASIN], 1993)