Memelihara Keikhlasan

Keikhlasan adakah sesuatu yang bisa tumbuh pada diri seseorang karena upaya optimal dari setiap orang ketika dirinya mampu menjaga keutuhan niatnya dalam melakukan tindakan apa pun, dan ‘tiba-tiba’ bisa sirna dari diri seseorang tanpa terduga. Oleh karenanya, Allah dan Rasul-Nya selalu mengingatkan agar setiap orang bisa menjaga diri agar tetap menjadi orang yang ikhlas dengan cara memelihara diri dari sikap-sikap yang bisa melunturkan niatnya.

Allah SWT berfirman:

وَ ما أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُو االلَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفاءَ وَ يُقِيمُوا الصَّلاةَ وَ يُؤْتُوا الزَّكاةَ وَ ذلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus [Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS al-Bayyinah/98: 5).

Dalam ayat lainnya Allah berfirman:

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَ أَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. Dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu [Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada ibadahmu itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah] di setiap shalatmu di tempat sujud dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”. (QS al-‘Araf/7: 29).

Para Mufassir (Pakar Tafsir) menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan kata‘lurus’ adalah menghindari perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun).

Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam al-Quran. Bahkan, Surah ke-112 dari al-Quran dinamai dengan Al-Ikhlâsh (memurnikan keesaan Allah), yang secara fisik surah Al-Ikhlâsh itu hanya terdiri atas empat ayat pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِيلَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَارَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ

“Nabi s.a.w. pernah bersabda kepada para sahabatnya:”Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari al-Quran pada setiap malamnya?” Dan ternyata para sahabat merasa kesulitan, seraya berkata, “Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?” Maka beliau pun bersabda: “allâhul wâhid ash-shamad (maksudnya surat al-ikhlâsh) nilainya adalah sepertiga al-Quran.” (HR al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudriy r.a., Shahîh al-Bukhâriy, VI/233, hadits no.5015)

Dalam riwayat Muslim, dinyatakan:

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ». قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ».

“Dari Abu Darda` dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: “Tidak sanggupkah salah seorang dari kalian membaca sepertiga al-Quran dalam semalam?” Mereka balik bertanya, “Bagaimana cara membaca sepertiganya?” Nabi s.a.w. pun menjawab: (qul huwallâhu ahad) [maksudnya: surat al- Ikhlâsh] sama dengan sepertiga al-Quran.” (HR Muslim dari Abu Darda’, Shahîh Muslim, II/199, 1922)

Jadi, kesimpulannya: “Membaca ‘qul huwallâhu ahad’ pahalanya setara dengan membaca sepertiga al-Quran.”

Oleh karena itu, Raja’ al-Ghanawi r.a. mengatakan,

مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَكَأَنَمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ أَجْمَعَ

“Barangsiapa membaca ‘qul huwallâhu ahad’ tiga kali, maka ia seakan-akan membaca al-Quran seluruhnya.”  (HR Al-‘Uqaili dari Raja’al-Ghanawi, Adh-Dhu’afâ al-Kabîr li al-‘Uqailiy, I/374, hadits no. 215,yang oleh para ulama hadits dinyatakan sebagai hadits dha’if)

Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, bahwa Muadz bin Anas al-Juhani berkata,

مَنْ قَرَأَ : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membaca ‘qul huwallâhu ahad’ sampai selesai sebanyak sepuluh kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di surga.”  (HR Ahmad bin Hanbal dari Mu’adz bin Anas al-Juhani, Musnad Ahmad ibn Hanbal, III/437, hadits no. 15646)

Atau, seperti yang diriwayatkan ath-Thabarani, bahwa Fairuz ad-Dailami r.a.berkata,

“مَنْ قَرَأَ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ مِائَةَ مَرَّةٍ فِي الصَّلاةِ أَو غَيْرِهَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ”

“Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa neraka.” (HR ath-Thabarani dari Fairuz ad-Dailami, Al-Mu’jam al-Kabîr, 13/270, hadits no. 15246)

Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, pertanyaannya: “Perlukah kita menghitung-hitung kebaikan atau ketaatan kita sendiri?”

Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Prof.Dr. Muhammad Quraish Shihab,M.A., niat atau motivasi beribadah itu bertingkat-tingkat.

Pertama, tipe pedagang (mengharap keuntungan).

Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).

Ketiga, tipe ‘arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya).

Dan tipe keempat, dinamakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).

Tentu akan lebih bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe ‘arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadah) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak ikhlas (tidak murni) karena Allah SWT.

Wallâhu A’lam.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Mahmud Yunus dalam http://muchroji.multiply.com/journal/item/4286)