AKHLAK MUSLIM

IFTITAH

Dalam Kamus Besar  Bahasa  Indonesia,  kata  akhlak  diartikan   sebagai  budi  pekerti  atau  kelakuan.  Kata  akhlak walaupun terambil dari  bahasa  Arab  (yang  biasa  berartikan  tabiat, perangai  kebiasaan,  bahkan  agama),  namun  kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Quran. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggal  kata  tersebut  yaitu  khuluq  yang  tercantum  dalam al-Quran surat al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai  sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung (QS al-Qalam [68]: 4)

Kata akhlak banyak ditemukan di dalam hadis-hadis  Nabi  Saw., dan salah satunya yang paling populer adalah,

Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia

Bertitik tolak dari pengertian bahasa di  atas,  yakni  akhlak sebagai  kelakuan, kita selanjutnya dapat berkata bahwa akhlak atau kelakuan manusia sangat beragam, dan bahwa  firman  Allah berikut  ini  dapat menjadi salah satu argumen keaneka-ragaman tersebut.

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى

Sesungguhnya usaha kamu (hai manusia) pasti amat beragam (QS al-Lail [92]: 4).

Keanekaragaman tersebut dapat ditinjau  dari  berbagai  sudut, antara  lain  nilai  kelakuan  yang  berkaitan dengan baik dan buruk, serta dari objeknya, yakni kepada  siapa  kelakuan  itu ditujukan.

BAIK DAN BURUK

Para  filosof dan teolog sering membahas tentang arti baik dan buruk, serta tentang pencipta kelakuan tersebut, yakni  apakah kelakuan  itu  merupakan  hasil pilihan atau perbuatan manusia sendiri, ataukah berada di luar kemampuannya?

Tulisan ini tidak  akan  mengarungi  samudera  pemikiran  yang dalam lagi sering menenggelamkan itu, namun kita dapat berkata bahwa secara nyata terlihat  dan  sekaligus  kita  akui  bahwa terdapat  manusia  yang berkelakuan baik, dan juga sebaliknya.Ini berarti bahwa manusia  memiliki  kedua  potensi  tersebut. Terdapat sekian banyak ayat al-Quran yang dipahami menguraikan hal hakikat ini, antara lain:

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Maka Kami telah memberi petunjuk (kepada)-nya (manusia) dua jalan mendaki (baik dan buruk) (QS al-Balad [90]: 10).

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)

…dan (demi) jiwa serta penyempurnaaaan ciptaannya, maka Allah mengilhami (jiwa manusia) kedurhakaan dan ketakwaan (QS asy-Syams [91]: 7-8).

Walaupun kedua potensi ini terdapat dalam diri manusia, namun ditemukan isyarat-isyarat dalam al-Quran bahwa kebajikan lebih dahulu menghiasi diri manusia daripada  kejahatan,  dan  bahwa manusia pada dasarnya cenderung kepada kebajikan.

Al-Quran ٍSurat (QS)  Thaha  (20):  121  menguraikan  bahwa  Iblis menggoda Adam sehingga,

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى ءَادَمُ رَبَّهُ فَغَوَى

Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.

Redaksi ini menunjukkan bahwa sebelum digoda oleh Iblis,  Adam tidak durhaka, dalam arti, tidak melakukan sesuatu yang buruk,dan bahwa akibat godaan itu,  ia  menjadi  tersesat.  Walaupun kemudian  Adam bertobat kepada Tuhan, sehingga ia kembali lagi pada kesuciannya.

Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari  persamaan konsep-konsep  pokok  moral  pada  setiap peradaban dan zaman. Perbedaan — jika terjadi– terletak  pada  bentuk,  penerapan, atau  pengertian  yang  tidak  sempurna terhadap konsep-konsep moral, yang disebut ma’ruf dalam bahasa  Al-Quran.  Tidak  ada peradaban  yang  menganggap  baik  kebohongan,  penipuan, atau keangkuhan.  Pun  tidak  ada  manusia   yang   menilai   bahwa penghormatan  kepada  kedua  orang-tua  adalah  buruk. Tetapi, bagaimana seharusnya bentuk penghormatan itu? Boleh jadi  cara penghormatan   kepada   keduanya   berbeda-beda   antara  satu masyarakat  pada  generasi  tertentu  dengan  masyarakat  pada generasi  yang  lain.  Perbedaan-perbedaan  itu selama dinilai baik oleh masyarakat dan masih dalam  kerangka  prinsip  umum, maka ia tetap dinilai baik (ma’ruf).

Kembali   kepada   persoalan  kecenderungan  manusia  terhadap kebaikan, atau pandangan tentang kesucian manusia sejak lahir,hadis-hadis Nabi Saw. pun antara lain menginformasikannya:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci dan bersih). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya (menjadi) Yahudi, Nasrani atau Majusi. (Hadis Riwayat  al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Seorang  sahabat  Nabi  Saw.  bernama  Wabishah   bin   Ma’bad berkunjung  kepada  Nabi  Saw.,  lalu beliau menyapanya dengan bersabda:

جِئْتَ تَسْأَلُ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ فَضَرَبَ بِهَا صَدْرَهُ وَقَالَ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ يَا وَابِصَةُ ثَلَاثًا الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

“Engkau datang menanyakan kebaikan dan dosa?” “Benar, wahai Rasul,” jawab Wabishah. Rasulullah pun bersabda — seraya merapatkan jari-jemarinya dan menepukkan tangan ke dadanya — : “Tanyailah hatimu, wahai Wabishah sebanyak tiga kali! “Kebajikan adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang      tenteram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa.” (Hadis Riwayat Ahmad dan ad-Darimi).

Dengan demikian menjadi amat wajar  jika  ditemukan  ayat-ayat al-Quran  yang  mengisyaratkan  bahwa  manusia pada hakikatnya –setidaknya pada awal masa perkembangan —  tidak  akan  sulit melakukan   kebajikan,   berbeda   halnya   dengan   melakukan keburukan.

Salah satu frase dalam surat al-Baqarah ayat 286 menyatakan:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Oleh beberapa ulama, frase ini kerap dijadikan  sebagai  bukti apa  yang  disebut  di atas. Dalam terjemahan di atas terlihat bahwa kalimat “yang dilakukan” terulang dua kali: yang pertama adalah  terjemahan  dari kata kasabat dan kedua terjemahan dan kata iktasabat.

Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manar  menyatakan  kata iktasabat,  dan  semua  kata  yang berpatron demikian, memberi arti adanya  semacam  upaya  sungguh-sungguh  dari  pelakunya, berbeda  dengan  kasabat  yang  berarti dilakukan dengan mudah tanpa  pemaksaan.  Dalam  ayat  di  atas,  perbuatan-perbuatan manusia  yang  buruk  dinyatakan  dengan  iktasabat, sedangkan perbuatan yang  baik  dengan  kasabat.  Ini  menandakan  bahwa fitrah   manusia  pada  dasarnya  cenderung  kepada  kebaikan, sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya dengan  keburukan  yang  harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan (ini tentu pada  saat  fitrah  manusia  masih berada dalam kesuciannya).

Potensi  yang  dimiliki  manusia  untuk melakukan kebaikan dan keburukan,  serta  kecenderungannya   yang   mendasar   kepada kebaikan,   seharusnya   mengantarkan  manusia  memperkenankan perintah Allah (agama-Nya) yang dinyatakan-Nya  sesuai  dengan fithrah  (asal  kejadian manusia). Dalam al-Quran surat ar-Rum (30): 30 dinyatakan:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Di  sisi  lain,  karena  kebajikan  merupakan  pilihan   dasar manusia,  kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban, sang manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri:

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Bacalah kitab amalmu (catatan perbuatanmu); cukuplah engkau sendiri yang melakukan perhitungan atas dirimu (QS Al-Isra’ [17]: 14).

PERTANGGUNGJAWABAN

Atas dasar uraian di atas, al-Quran membebaskan manusia  untuk memilih  kedua  jalan  yang tadi disebutkan, tetapi ia sendiri yang harus mempertanggung-jawabkan pilihannya.  Manusia  tidak boleh  membebani  orang lain untuk memikul beban  orang lain untuk memikul dan dipikulkan ke  atas  pundaknya.  Tetapi  dalam al-Quran  Surat  (QS) al-An’am, 6:  (ayat)  164; QS al-Isra’, 17: 15 dan QS al-Baqarah, 2: 286 dinyatakan bahwa tanggung jawab tersebut baru  dituntut  apabila  memenuhi  syarat-syarat tertentu, seperti pengetahuan, kemampuan, serta kesadaran:

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. (QS al-An’am [6]: 164)

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng`azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS Al-Isra’ [17]: 15).

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS Al-Baqarah [2]: 286)

Dari gabungan kedua ayat ini, kita dapat memetik paling  tidak dua kaedah yang berkaitan dengan tanggung jawab, yaitu:

Manusia tidak diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang tidak diketahui atau tidak mampu dilakukannya.

Manusia tidak dituntut mempertanggungiawabkan apa yang tidak dilakukannya, sekalipun hal tersebut  diketahuinya.

Di sisi lain, ditemukan ayat-ayat yang menegaskan bahwa pertanggungjawaban  tersebut  berkaitan  dengan perbuatan yang disengaja, bukan gerak refleks yang tidak melibatkan kehendak.

Al-Quran secara tegas menyatakan:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS al-Baqarah [2]: 225).

… فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ …

…tetapi jika seseorang terpaksa, sedangkan ia tidak menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka  tidak ada dosa baginya… (QS Al-Baqarah [2]: 173).

Dapat juga disimpulkan, bahwa karena manusia diberi  kemampuan untuk  memilih,  maka pertanggungjawaban berkaitan dengan niat dan kehendaknya. Atas dasar ini pula, maka niat  dan  kehendak seseorang  mempunyai  peran yang sangat besar dalam nilai amal sekaligus dalam pertanggungjawabannya.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS an-Nahl [16]: 106) .

Al-Quran surat al-Isra’ ayat 23-24 memerintahkan kepada seorang anak agar menghormati kedua orang-tuanya, khususnya kalau usia mereka sudah tua (karena ketika telah uzur boleh  jadi  mereka melakukan  hal-hal  yang menjengkelkan). Anak dilarang berkata uf (cis),  dan  harus  memilih  kata-kata  yang  baik,  sambil merendahkan  diri  kepada  keduanya:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا(23)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا(24)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia; Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS al-Isra’ [17]: 23-24)

Ayat  ini disusul dengan firman-Nya:

رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

Tuhanmu lebih mengetahui yang ada dalam hatimu. Jika seandainya kamu orang baik-baik (Allah akan memaaafkan sikap dan ke1akuan yang telah kamu lakukan dengan terpaksa, tidak sadar, atau yang berada di luar kontrol kemampuanmu), karena Allah Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (QS Al-Isra’ [17]: 25).

TOLOK UKUR KELAKUAN BAIK

Tolok ukur kelakuan baik dan  buruk  mestilah  merujuk  kepada ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa  yang  dinilai  baik  oleh Allah,  pasti  baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan  sebagai  kelakuan  baik, karena kebohongan esensinya buruk.

Di  sisi  lain, Allah selalu memperagakan kebaikan, bahkan Dia memiliki segala sifat yang terpuji. al-Quran suci Surat (QS) Thaha (20): 8 menegaskan:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

(Dialah) Allah tiada Tuhan selain Dia, Dia mempunyai Sifat-sifat yang terpuji (Al-Asma’ Al-Husna) (QS  Thaha [20]: 8).

Rasulullah  Saw.  juga  memerintahkan  umatnya  agar  berusaha sekuat   kemampuan  dan  kapasitasnya  sebagai  makhluk  untuk meneladani Allah dalam semua sifat-sifat-Nya: “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.”

MENELADANI AKHLAK RASULULLAH SAW

Ketika Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah Saw.,  beliau menjawab: “خُلُقُهُ الْقُرْآنَ”, sebagaimana hadis berikut:

سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

‘Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah Saw, maka dia pun menjawab: “Akhlak beliau. adalah al-Quran (Diriwayatkan oleh Ahmad dari al-Hasan).

Semua sifat Allah tertuang dalam  al-Quran.  Jumlahnya  bahkan melebihi 99 sifat yang populer disebutkan dalam hadis.

Sifat-sifat  Allah  itu  merupakan satu kesatuan. Bukankah Dia Esa di dalam zat, sifat, dan  perbuatan-Nya? Karenanya  tidak wajar   jika  sifat-sifat  itu  dinilai  saling  bertentangan. Artinya, semua sifat  memiliki  tempatnya  masing-masing.  Ada tempat  untuk  keperkasaan  dan  keangkuhan Allah, juga tempatkasih sayang dan kelemah-lembutan-Nya. Ketika  seorang  Muslim meneladani  sifat  Al-Kibriya’  (Keangkuhan  Allah),  ia harus ingat bahwa sifat itu tidak akan disandang oleh Tuhan  kecuali dalam  konteks  ancaman  terhadap  para  pembangkang, terhadap orang yang merasa dirinya superior. Ketika Rasul  Saw  melihat seseorang  yang berjalan dengan angkuh di medan perang, beliau bersabda:

“Itu adalah cara berjalan yang dibenci Allah, kecuali dalam kondisi semacam ini.”

Seseorang yang berusaha  meneladani  sifat  al-Kibriya’  tidak akan   meneladaninya  kecuali  terhadap  manusia-manusia  yang angkuh. Dalam konteks ini ditemukan riwayat yang menyatakan,

التَّكَبُّرُ عَلَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ صَدَقَةٌ

“Bersikap angkuh terhadap orang yang angkuh adalah  sedekah”.

Ketika  seorang  Muslim  berusaha  meneladani   kekuatan   dan kebesaran  Ilahi,  harus  diingat  bahwa  sebagai  makhluk  ia terdiri dan jasad dan ruh, sehingga keduanya  harus  sama-sama kuat. Kekuatan  dan  kebesaran  itu  mesti  diarahkan  untuk membantu yang kecil dan lemah, bukan digunakan untuk  menopang yang salah maupun yang sewenang-wenang. Karena ketika al-Quran mengulang-ulang  kebesaran  Allah,  Al-Quran  juga  menegaskan bahwa:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Luqman [31]: 18)

Jika seorang Muslim meneladani Allah Yang Mahakaya,  ia  harus menyadari   bahwa   istilah   yang  digunakan  al-Quran  untuk menunjukkan sifat  itu  adalah  al-Ghani.  Ini  yang  maknanya adalah  tidak  membutuhkan  — dan bukan kaya materi — sehingga esensi sifat itu (kekayaan) adalah kemampuan  berdiri  sendiri atau  tidak  menghajatkan  pihak  lain,  sehingga  tidak perlu membuang air muka untuk meminta-minta.

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 273)

Tetapi dalam kedudukan manusia sebagai makhluk, ia sadar bahwa dirinya amat membutuhkan Allah:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS Fathir [35]: 15).

Demikian seterusnya dengan sifat-sifat Allah yang  lain, yang harus  diteladaninya,  seperti  Maha  Mengetahui, Maha Pemaaf, Maha Bijaksana, Maha Agung, Maha Pengasih, dan lain-lain.

Adalah merupakan keistimewaan bagi seseorang  atau  masyarakat jika  menjadikan  sifat-sifat  Allah  sebagai  tolok ukur, dan tidak menjadikan kelezatan atau manfaat sesaat  sebagai  tolok ukur kebaikan. Karena kelezatan dan manfaat dapat berbeda-beda antara seseorang  dengan  yang  1ain,  bahkan  seseorang  yang berada  dalam  kondisi dan situasi tertentu juga bisa berbeda,dengan kondisi  lainnya.  Boleh  jadi  suatu  masyarakat  yang terjangkiti penyakit akan menilai keburukan sebagai kebaikan

SASARAN AKHLAK

Akhlak  dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika,jika etika dibatasi pada sopan santun  antar  sesama  manusia,serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah.

Akhlak  lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terdahulu  serta  mencakup  pula  beberapa  hal   yang   tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama) mencakup  berbagai aspek,  dimulai  dari  akhlak  terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang,   tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa).

Berikut  upaya pemaparan sekilas beberapa sasaran  akhlak Islamiyah.

1. Akhlak terhadap Allah

Titik  tolak  akhlak  terhadap  Allah  adalah  pengakuan   dan kesadaran  bahwa  tiada  Tuhan  melainkan  Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, yang  jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkau hakikat-Nya.

Mahasuci engkau — Wahai Allah — kami tidak mampu memuji-Mu; Pujian atas-Mu, adalah yang Engkau pujikan  kepada diri-Mu.

Demikian ucapan para malaikat.

Itulah sebabnya mengapa Al-Quran  mengajarkan  kepada  manusia untuk    memuji-Nya,   Wa   qul   al-hamdulillah   (Katakanlah “al-hamdulillah”). Dalam  al-Quran  surat  an-Naml (27):  93, secara tegas dinyatakan-Nya bahwa,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ ءَايَاتِهِ فَتَعْرِفُونَهَا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ(159)إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ(160)

Mahasuci Allah dan segala sifat yang mereka sifatkan kepada-Nya, kecuali (dari) hamba-hamba Allah yang terpilih (QS Ash-Shaffat [37]: 159-160).

Teramati bahwa semua makhluk  –kecuali  nabi-nabi  tertentu– selalu   menyertakan   pujian   mereka   kepada  Allah  dengan menyucikan-Nya dari segala kekurangan.

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhannya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Asy-Syura [42]: 5).

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلَائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya. (QS  ar-Ra’d [13]: 13).

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS al-Isra’ [17]: 44).

Semua itu menunjukkan bahwa  makhluk  tidak  dapat  mengetahui dengan  baik  dan  benar  betapa  kesempurnaan dan keterpujian Allah  Swt.  Itu  sebabnya   mereka   –sebelum   memuji-Nya– bertasbih  terlebih  dahulu  dalam arti menyucikan-Nya. Jangan sampai  pujian  yang  mereka  ucapkan  tidak   sesuai   dengan kebesaran-Nya.    Bertitik    tolak   dari   uraian   mengenai kesempurnaan Allah, tidak heran kalau  al-Quran  memerintahkan manusia  untuk  berserah  diri  kepada-Nya, karena segala yang bersumber dari-Nya adalah baik, benar, indah, dan sempurna.

Tidak sedikit ayat al-Quran yang memerintahkan  manusia  untuk menjadikan Allah sebagai “wakil”. Misalnya firman-Nya dalam QS Al-Muzzammil (73): 9:

رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا

(Dialah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Allah sebagai wakil (pelindung).

Kata “wakil”  bisa  diterjemahkan  sebagai  “pelindung”.  Kata tersebut  pada  hakikatnya  terambil dari kata “wakala-yakilu” yang berarti mewakilkan.

Apabila seseorang mewakilkan kepada orang  lain  (untuk  suatu persoalan),  maka  ia  telah  menjadikan  orang  yang mewakili sebagai dirinya sendiri dalam  menangani  persoalan  tersebut,sehingga  sang  wakil  melaksanakan  apa yang dikehendaki oleh orang yang menyerahkan perwakilan kepadanya.

Menjadikan  Allah  sebagai  wakil  sesuai  dengan  makna  yang disebutkan   di  atas  berarti  menyerahkan  segala  persoalan kepada-Nya.  Dialah  yang  berkehendak  dan  bertindak  sesuai dengan   kehendak  manusia  yang  menyerahkan  perwakilan  itu kepada-Nya.

Makna seperti itu dapat menimbulkan kesalahpahaman jika  tidak dijelaskan  lebih  jauh.  Pertama  sekali  harus diingat bahwa keyakinan tentang Keesaan  Allah  antara  lain  berarti  bahwa perbuatan-Nya  esa,  sehingga  tidak  dapat  disamakan  dengan perbuatan manusia, walaupun penamaannya sama. Sebagai  contoh, Allah  Maha  Pengasih  (Rahim) dan Maha Pemurah (Karim). Kedua sifat ini dapat pula dinisbahkan kepada manusia, namun hakikat dan kapasitas rahmat dan kemurahan Tuhan tidak dapat disamakan dengan apa yang dimiliki manusia, karena mempersamakan hal itu akan berakibat gugurnya makna keesaan.

Allah Swt., yang kepada-Nya diwakilkan segala persoalan adalah Yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, Mahabijaksana dan semua  maha yang   mengandung   pujian.   Manusia   sebaliknya,   memiliki keterbatasan pada segala hal. Jika  demikian  “perwakilan”-Nya pun berbeda dengan perwakilan manusia.

Benar  bahwa  wakil  diharapkan  dan  dituntut  untuk memenuhi kehendak  yang  mewakilkan.  Namun,  karena  dalam  perwakilan manusia sering terjadi kedudukan maupun pengetahuan orang yang mewakilkan lebih tinggi daripada sang wakil, dapat saja  orang yang  mewakilkan  tidak  menyetujui  atau membatalkan tindakan sang waki1 atau menarik kembali perwakilannya, bila ia  merasa –berdasarkan  pengetahuan  dan  keinginannya–  tindakan sang wakil  merugikan.  Jika  seseorang  menjadikan  Allah  sebagai wakil,  hal  serupa tidak akan terjadi, karena sejak semula ia telah  menyadari  keterbatasan  dirinya,  dan  menyadari  pula Kemahamutlakan Allah Swt. Oleh karena itu, ia akan menerimanya dengan sepenuh hati, baik mengetahui maupun tidak hikmah suatu perbuatan Tuhan.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS al-Baqarah, 2: 216).

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS al-Ahzab [33]: 36).

Demikian salah satu perbedaan antara perwakilan manusia kepada Tuhan dengan perwakilan manusia kepada selain-Nya.

Perbedaan   kedua   adalah   dalam   keterlibatan  orang  yang mewakilkan.

Jika Anda mewakilkan orang lain  untuk  melaksanakan  sesuatu,Anda telah menugaskannya untuk melaksanakan ha1 tertentu. Anda tidak perlu melibatkan diri, karena hal itu  telah  dikerjakan oleh sang wakil.

Ketika  menjadikan  Allah Swt. sebagai wakil, manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya.

Perintah   bertawakal    kepada    Allah    — atau    perintah menjadikan-Nya  sebagai  wakil — terulang dalam bentuk tunggal (tawakkal) sebanyak sembilan  kali,  dan  dalam  bentuk  jamak (tawakkalu)   sebanyak   dua  kali.  Semuanya  didahului  oleh perintah melakukan sesuatu,  lantas  disusul  dengan  perintah bertawakal.  perhatikan  misalnya al-Quran Surat (QS) al-Anfal, 8: (ayat) 61:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Yang lebih jelas lagi adalah dalam al-Quran surat al-Maidah, [5] 23:

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi ni`mat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Jika Anda telah merasa yakin terhadap kesempurnaan Allah,  dan segala  yang dilakukan-Nya adalah baik serta terpuji, Anda pun harus percaya bahwa:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS an-Nisa’ [4]: 79).

Al-Quran memberi contoh bagaimana seharusnya seorang Muslim mengekspresikan keyakinan itu dalam ucapan-ucapannya.

Perhatikan pengajaran Allah dalam al-Quran surat al-Fatihah:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat,bukan jalan orang yang dimurkai, dan bukan (jalan) mereka yang sesat (QS Al-Fatihah [1]: 7).

Di sini, petunjuk jalan menuju kebaikan  dinyatakan  bersumber dari  Allah  yang  memberi  nikmat. Perhatikan redaksi ayat di atas “yang telah  Engkau  anugerahi  nikmat”.  Tetapi,  ketika berbicara  tentang  jalan  orang-orang  sesat  dan  yang  akan mendapat  murka,  tidak  dinyatakan  “jalan  orang-orang  yang Engkau  murkai,”  tetapi  “yang  dimurkai,” karena murka dapat mengandung makna negatif, sehingga tidak wajar disandar kepada Allah.

Perhatikan juga ucapan Nabi Ibrahim a.s.:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (QS Asy-Syu’ara’ [26]: 80).

Karena penyakit merupakan sesuatu yang buruk, tidak dinyatakan bahwa  ia  berasal  dari  Tuhan,  tetapi,  apabila  aku  sakit kesembuhan yang merupakan  sesuatu  yang  terpuji,  dinyatakan bahwa “Dia (Allah) yang menyembuhkan”.

Sekali  lagi,  bacalah  firman  Allah dalam surat Al-Kahf yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa a.s.  bersama  seorang  hamba pilihan Allah (Khidir a.s.).

Ketika  sang  hamba  Allah itu membocorkan perahu, dia berucap “Aku  ingin  merusaknya”  (ayat  79),  ini  disebabkan  karena pembocoran  perahu  tampak  sebagai sesuatu yang buruk. Tetapi ketika ia membangun kembali tembok yang hampir rubuh,  kalimat yang  digunakan  adalah  “Maka Tuhanmu menghendaki” (ayat 82), karena di sana amat jelas sisi positif pembangunan itu. Ketika Khidhir  membunuh  seorang  bocah  dengan  maksud  agar  Tuhan menggantikan  dengan  bocah  yang  lebih  baik,  redaksi yang digunakannya   adalah   “Maka  kami  berkehendak” (ayat  81). Kehendaknya  adalah  pembunuhan,  dan  kehendak  Tuhan  adalah penggantian anak dengan yang lebih baik.

2. Akhlak terhadap Sesama Manusia

Banyak  sekali  rincian  yang  dikemukakan  Al-Quran berkaitan dengan perlakuan terhadap sesama  manusia.  Petunjuk  mengenai hal  ini  bukan  hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif seperti  membunuh,  menyakiti  badan,  atau  mengambil harta  tanpa  alasan  yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan  jalan  menceritakan  aib  seseorang  di belakangnya,  tidak  peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil memberikan materi kepada yang disakiti hatinya itu.

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

Perkataan yang baik dan pemberian ma`af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS al-Baqarah  [2]: 263).

Di sisi lain al-Quran menekankan bahwa setiap orang  hendaknya didudukkan  secara  wajar.  Nabi  Muhammad  Saw.  –misalnya — dinyatakan sebagai manusia seperti manusia  yang  lain,  namun dinyatakan  pula  bahwa  beliau  adalah  Rasul yang memperoleh wahyu dari Allah. Atas dasar itulah beliau  berhak  memperoleh penghormatan  melebihi  manusia  1ain.  Karena  itu,  al-Quran berpesan kepada orang-orang Mukmin:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (QS al-Hujurat [49]: 2).

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS an-Nur [24]: 63).

Petunjuk ini berlaku kepada setiap orang yang harus dihormati.

Al-Quran juga  menekankan  perlunya  privasi  (kekuasaan  atau kebebasan pribadi).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS an-Nur [24]:27).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS an-Nur [24):  58).

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS an-Nisa’ [4]:86).

Setiap ucapan haruslah ucapan yang baik, al-Quran memerintahkan,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS al-Baqarah [2]: 83).

Bahkan lebih tepat jika kita berbicara sesuai  dengan  keadaan dan  kedudukan mitra bicara, serta harus berisi perkataan yang benar,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (QS al-Ahzab [33]: 70).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(11) يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ(12)

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS al-Hujurat  [49]:11-12)

Yang melakukan kesalahan  hendaknya  dimaafkan.  Pemaafan  ini hendaknya  disertai  dengan  kesadaran  bahwa  yang  memaafkan berpotensi  pula  melakukan  kesalahan.  Karena  itu, ketika Misthah  –seorang  yang  selalu dibantu oleh Abu Bakar r.a. — menyebarkan berita palsu tentang Aisyah, putrinya,  Abu  Bakar dan  banyak  orang  lain  bersumpah  untuk tidak lagi membantu Misthah. Tetapi al-Quran turun menyatakan:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa  mereka tidak  akan memberi  bantuan kepada kaum   kerabat (nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah dijalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan, serta berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni kamu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS an-Nur [24]: 22).

Sebagian dari ciri orang bertakwa dijelaskan dalam Quran surat Ali Imran (3): 134, yaitu:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Di dunia Barat, sering dinyatakan, bahwa “Anda boleh melakukan perbuatan  apa  pun selama tidak bertentangan dengan hak orang lain”,tetapi dalam al-Quran ditemukan   anjuran, “Anda hendaknya mendahulukan kepentingan orang  lain  daripada kepentingan Anda sendiri.”

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS al-Hasyr [59]: 9).

Jika ada orang yang digelari gentleman – yakni yang  memiliki harga diri, berucap benar, dan bersikap lemah lembut (terutama kepada wanita) — seorang Muslim yang mengikuti petunjuk-petunjuk  akhlak al-Quran tidak hanya pantas bergelar demikian, melainkan lebih dari itu, dan orang  demikian  dalam bahasa al-Quran disebut al-muhsin.

3. Akhlak terhadap Lingkungan

Yang dimaksud lingkungan di sini adalah  segala  sesuatu  yang berada  di  sekitar  manusia,  baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.

Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   al-Quran   terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.

Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam.  Kekhalifahan  mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.

Dalam  pandangan  akhlak  Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan mengambil  buah  sebelum  matang,  atau  memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan  kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.

Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang   sedang  terjadi.  Yang  demikian  mengantarkan  manusia bertanggung jawab,  sehingga  ia  tidak  melakukan  perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.”

Binatang, tumbuhan,  dan  benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.

Karena itu dalam al-Quran surat al-An’am  (6):  38  ditegaskan bahwa  binatang  melata  dan  burung-burung  pun  adalah  umat seperti manusia  juga,  sehingga  semuanya  –seperti  ditulis Al-Qurthubi  (W.  671  H)  di  dalam  tafsirnya– “Tidak boleh diperlakukan secara aniaya.”

Jangankan dalam masa damai, dalam saat peperangan pun terdapat petunjuk   Al-Quran   yang  melarang  melakukan  penganiayaan. Jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan mencabut atau menebang pepohonan pun terlarang,  kecuali  kalau terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah, dalam  arti  harus  sejalan dengan   tujuan-tujuan   penciptaan   dan   demi  kemaslahatan terbesar.

قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ

Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS al-Hasyr [59]: 5).

Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran  bahwa  apa  pun  yang  berada  di  dalam  genggaman tangannya,   tidak   lain   kecuali    amanat    yang    harus dipertanggungjawabkan. “Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi,  setiap angin sepoi yang berhembus di udara,  dan  setiap tetes   hujan   yang  tercurah  dari  langit  akan  dimintakan pertanggungjawaban   manusia   menyangkut   pemeliharaan   dan pemanfatannya”,   demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw. tentang firman-Nya dalam Al-Quran surat At-Takatsur  (102): 8 yang   berbunyi,  “Kamu  sekalian  pasti  akan  diminta  untuk mempertanggungjawabkan nikmat  (yang  kamu  peroleh).”  Dengan demikian  bukan  saja  dituntut  agar  tidak  alpa  dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk  memperhatikan  apa  yang  sebenarnya  dikehendaki  oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.

مَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (QS al-Ahqaf  [46]: 3).

Pernyataan Tuhan ini mengundang seluruh  manusia  untuk  tidak hanya  memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan bersikap   demi  kemaslahatan  semua  pihak.  Ia  tidak  boleh bersikap sebagai penakluk alam  atau  berlaku  sewenang-wenang terhadapnya.  Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul  dari  pandangan  mitos Yunani  yang  beranggapan  bahwa  benda-benda  alam  merupakan dewa-dewa yang memusuhi manusia sehingga harus ditaklukkan.

Yang menundukkan alam menurut Al-Quran adalah  Allah.  Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ

Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat ni`mat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, (QS az-Zukhruf [43]:13)

Jika  demikian,  manusia  tidak  mencari  kemenangan,   tetapi keselarasan   dengan   alam.  Keduanya  tunduk  kepada  Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat.

Al-Quran menekankan agar umat Islam meneladani  Nabi  Muhammad Saw.  yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk  menyebarkan  rahmat  itu,  Nabi  Muhammad  Saw.  Bahkan memberi  nama  semua  yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan  kesan  adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.

Sebelum  Eropa  mengenal  Organisasi  Pencinta  Binatang  Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan,

اتَّقُوا اللَّهَ فِي هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوهَا صَالِحَةً وَكُلُوهَا صَالِحَةً

Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik.  (HR Abu Dawud dari Sahl bin al-Hanzhaliyyah)

Di samping prinsip kekhalifahan yang disebutkan di atas, masih ada lagi prinsip taskhir, yang berarti penundukan. Namun dapat juga berarti “perendahan”. Firman Allah yang menggunakan  akar kata itu dalam al-Quran surat al-Hujurat ayat 11 adalah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (QS al-Jatsiyah [45]:13).

Ini berarti bahwa alam  raya  telah  ditundukkan  Allah  untuk manusia. Manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama,  manusia  tidak  boleh  tunduk  dan merendahkan  diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga  benda-benda  itu.  Ia  tidak boleh   diperbudak   oleh  benda-benda  itu.  Ia  tidak  boleh diperbudak oleh benda-benda  sehingga  mengorbankan kepentingannya  sendiri.  Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apa pun  asalkan yang   diraihnya   serta  cara  meraihnya  tidak  mengorbankan kepentingannya di akhirat kelak.

Akhirnya kita dapat mengakhiri uraian  ini  dengan  menyatakan bahwa  keberagamaan  seseorang  diukur  dari  akhlaknya.  Nabi bersabda:

خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً حُسْنُ الْمُعَامَلَةِ

Orang yang paling baik adalah orang yang baik dalam berinteraksi antarmanusia.  (HR an-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (amal) seorang mukmin pada hari kiamat, melebihi akhlak yang luhur (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad dari Abu Darda’).

(Dikutip dari tulisan Prfo.Dr. M. Quraish Shihab, dalam: www.media.isnet.org, untuk kepentingan kuliah Agama Islam)