Al-Quran dan Tuntunan Kegiatan Produksi

Al-Quran dan Tuntunan Kegiatan Produksi

Secara umum, produksi dapat diartikan sebagai suatu proses atau siklus kegiatan ekonomi un tuk menghasilkan barang atau jasa tertentu, dengan meman faatkan sektor-sektor produksi dalam waktu tertentu. Sedangkan dalam Islam, produksi dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk memperbaiki kondisi fisik material dan moralitas sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sesuai syariat Islam, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat (Kahf 1992). Berproduksi sangat dianjurkan dalam Is lam, bahkan Allah perintahkan sesudah menu naikan ibadah shalat : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS 62 : 10).

Dalam Al-Quran banyak kita temukan ayat yang menganjurkan untuk berproduksi, memanfaatkan sumber daya alam yang telah Allah siapkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun Al-Quran juga memberikan ramburambu dalam produksi dan pemanfaatkan SDA dengan jelas dan gamblang. Dalam QS 6 : 10,11,12, dan 18 telah diuraikan secara singkat bahwa Allah telah menyediakan kekayaan alam untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Pada beberapa ayat yang lain (QS 28 : 73, 30 : 23, 4 : 32, 78 : 11), Allah memerintahkan manusia untuk bekerja keras memanfaatkan semua sum ber daya itu seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Prinsip dan tujuan produksi

Tujuan produksi dalam Islam tidak hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan hanya untuk mengoptimalkan keuntung an (profit maximization), walaupun Islam tidak melarang optimalisasi keuntungan, namun keuntungan tersebut harus memperhatian nilai-nilai keadilan dan kebajikan. Tujuan produksi dalam Islam haruslah memiliki dampat positif buat umat manusia dan berorientasi kepada kebahagian (falah) dan kemaslahatan umum, tidak hanya untuk kepentingan produsen semata (QS 28 : 77). Oleh sebab itu, Islam dengan tegas melarang produksi barang dan jasa yang haram dan menimbulkan kerusakan atau bahaya bagi orang lain (QS 5 : 91). Produksi barang dan jasa haruslah halal dan thoyib (QS 6 : 114) dengan memperhatikan skala prioritas kebutuhan primer, skunder dan tersier.

Secara spesifik Siddiqi (1992) menguraikan tujuan produksi antara lain : pemenuhan sarana kebutuhan manusia pada takaran moderat, menemukan kebutuhan masyarakat, persediaan terhadap kemungkinan-kemungkinan di ma sa depan, persediaan bagi generasi mendatang, dan pemenuhan sarana bagi kegiatan sosial dan ibadah kepada Allah. Di dalam Islam semua kegiatan produksi harus sejalan dengan maqasidus syariah, yaitu pertama, menjaga keimanan atau agama (ruhani), seperti kebutuhan ibadah, baik fisik maupun non fisik, seperti shalat, haji, zakat, puasa, kurban dan lain nya. Kedua, memenuhi kebutuhan jiwa (jasmani), seperti makanan, minuman, sarana kesehatan, keselamatan, ketenangan, dan keamanan baik produk maupun jasa dan larangan memproduksi hal-hal yang membahayakan keselamatan umat manusia.

Ketiga, menjaga akal, seperti sarana dan prasarana pendidikan dan pengajaran, media masa dan akses informasi, dan larangan memproduksi minuman keras, atau produk dan jasa yang merusak akal sehat. Keempat, menjaga ke turunan, seperti memproduksi alat dan sarana kesehatan, larangan produk pornografi dan pornoaksi, dan hal-hal yang bisa merusak ge nerasi muda. Kelima, memelihara harta, dengan didirikannya lembaga keuangan syariah, in vestasi, kemudahan akses usaha, dan larangan produk judi dan sejenisnya.

Sumber daya alam dan bekerja

Allah telah menciciptakan alam untuk meme nuhi kebutuhan manusia, dan hal itu hanya bi sa dinikmati dengan usaha atau kerja, seperti yang Allah firmankan “Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu per hiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahte ra berlayar padanya, dan supaya kamu men cari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan su paya kamu bersyukur.” (QS 6 : 14). Dalam ayat lain Allah berfirman “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS 2 : 29).

Manusia dijadikan Allah sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Namun tanpa kegiatan produksi, niscaya manusia tidak mampu melaksanakan tugas sebagai khalifah ini (QS 2 : 30 dan 6 :165). SDA yang sudah ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, “… Dialah yang telah menciptakan kamu dari tanah, dan menyuruh kamu sekalian memakmur kannya…” (Hud: 61).

Namun demikian, pengelolaan SDA haruslah dilakukan secara arif dan sesuai dengan keperluan, tidak boleh rakus dan serakah, serta tidak menimbulkan persoalan degradasi kuali tas lingkungan. Allah menyatakan : “Dan ja nganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi ini setelah keberesannya (harmoni)” (QS 7: 56).

Kemudian selanjutnya, kegiatan produksi baik barang maupun jasa sesungguhnya merefleksikan rasa syukur atas nikmat yang Allah anugrahkan kepada manusia. Allah berfirman : Dan bekerjalah, Wahai Keluarga Daud, seba gai (ungkapan) syukur (QS 34 : 13). Amal ker ja produktif inilah yang akan menentukan nasib manusia di dunia dan di akherat. Allah secara tegas menyatakan : Dan katakanlah wa hai Muhammad, beramallah kamu akan segala apa yang diperintahkan, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan (QS 9 : 105).

Nabi Daud adalah profil pekerja keras yang diabadikan dalam Alquran. Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan Tidaklah ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan suatu makanan, melainkan makan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyulla Daud as, selalu makan dari hasil usahanya (HR. Bukhori). Demikian pula dengan Nabi Idris yang menjadi penjahit yang selalu menye dekahkan kelebihannya dari hasil usahanya. Sedangkan Nabi Zakaria adalah tukang kayu, dan Nabi Musa adalah seorang pengembala, yang digambarkan dalam Alquran bahwa upah gembalaannya dijadikan sebagai mahar untuk menikahi putri Nabi Syuaib (QS 28 : 27) Nabi Muhammad sendiri seorang pedagang dan pengembala kambing. Islam juga memerintahkan agar profesional dalam bekerja, juga ikhlas dan jujur. Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya melakukan pekerjaan secara itqan (professional) (HR. Baihaqi). Karena itu, tuntunan Alquran dan hadits ini seharusnya semakin meneguhkan komitmen umat Islam untuk menjadi umat yang produktif di dalam menghasilkan barang dan jasa. Wallahu a’lam.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Deni Lubis, Dosen Ekonomi Syariah FEM IPB, dalam Rubrik “Iqtishodia, Republika, Kamis, 27 Oktober 2011)

Tags: