Al-Quran: “Sahabat Terbaik Kita”

Sesulit apapun kehidupan yang sedang dijalani, dan seberat apapun perjuangan yang sedang dihadapi, pasti akan terasa lebih ringan dan damai jika ada sahabat yang selalu setia menyertai, dibanding jika semuanya harus ditanggung seorang diri.  Dan sebaliknya, keberhasilan spektakuler yang kita raih pun terasa tak berarti apabila tidak ada siapa-siapa untuk tempat berbagi. Demikianlah hidup ini jadi ‘miris’ sekali jika selamanya harus dijalani sendiri, maka itu sahabat yang setia harus kita cari sebagai teman berbagi apa saja yang kita alami.

Sebelum mencari sahabat manusia, kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan al-Quran. Dikarenakan dalam al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar. Sebaliknya apabila kita jauh dari al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita, maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya, sebagaimana telah dijelaskan dalam  firman Allah:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Quran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS az-Zukhruf/43: 36).

Pada ayat yang lain Allah berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا (٢٧) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (٢٨) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا (٢٩) وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا (٣٠)

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata: ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. Berkata Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS al-Furqân/25: 27-30).

Fenomena menarik yang digambarkan ayat di atas adalah penyesalan orang-orang zalim karena mereka sudah salah memilih sahabat. Sahabat yang mereka pilih ternyata sahabat yang tidak bertanggung jawab setelah mereka dipengaruhi agar berpaling dari al-Quran. Ayat di atas juga mengindikasikan keterkaitan yang cukup kuat antara bagaimana memilih sahabat dan penunjukan al-Quran sebagai sahabat sejati. Dan pada ayat yang ke-30 Nabi pun mengadu kepada Allah menyangkut sikap kaumnya yang acuh tak acuh terhadap al-Quran.

Term khalîlan (خليلاً) yang bermakna sahabat yang digunakan Allah SWT pada ayat tadi secara eksplisit menunjukkan bahwa manusia sangat membutuhkan seorang sahabat. Kebutuhan sahabat itu dapat kita tunjukkan pada saat ini dengan aktivitas yang sengaja dilakukan untuk mendapatkan sahabat seperti meng-upload biodata ke media, chatting dan sebagainya. Ketika kita mendengar kata sahabat maka di dalam benak kita akan tergambar seseorang yang sangat akrab dan selalu hadir di tengah-tengah kita baik dalam keadaan suka maupun duka.

Sebelum mencari sahabat manusia kita sebaiknya bersahabat terlebih dulu dengan al-Quran. Dikarenakan dalam al-Quran kita dapat menemukan panduan hidup yang benar bagaimana memulai persahabatan yang positif dan kiat-kiat mengenali sifat sahabat yang baik. Di dalam sebuah ayat diungkapkan bahwa,

” الْأَخِلاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلا الْمُتَّقِينَ “

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS az-Zukhruf/43: 67)

Apabila kita jauh dari nilai-nilai al-Quran dan tidak menjadikannya sahabat kita maka hidup kita akan mudah diperdaya oleh rayuan dan bujukan setan untuk dijadikan sahabatnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Ilahi:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yaitu al-Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang akan menjadi temannya.” (QS az-Zukhruf/43: 36).

Intinya, dalam kehidupan kita hanya memiliki dua pilihan untuk dijadikan sahabat: al-Quran atau setan. Manakala kita bersahabat dengan al-Quran maka kita akan selamat di jalan Allah. Sebaliknya bersahabat dengan setan kita akan merugi dan jatuh ke lembah kehancuran dan kesesatan. Agar kita terhindar dari persahabatan dengan setan, al-Quran telah memberikan tips, yaitu sering-sering membaca ta’awwudz yaitu ungkapan “أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ”. (aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) (QS an-Nahl/16: 98).

Selain itu, alasan yang cukup kuat mengapa kita harus bersahabat dengan al-Quran. Karena kita sebagai seorang muslim pasti sepakat bahwa al-Quran adalah معجزة خالدة (mu’jizatun khâlidah), mukjizat abadi. Keberadaannya diyakini sebagaimana kata pepatah “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.” Ia akan senantiasa صالح في كل زمان ومكان (shâlihun fî kulli zamânin wa makânin), selalu relevan di setiap waktu dan tempat.

Jadi kita sangat beruntung bila dapat bersahabat dengan al-Quran. Hanya saja, untuk menjadikan al-Quran sebagai sahabat karib, tentu kita harus memosisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat-sahabatnya. Yakni menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasihatnya, mengikuti petuahnya dan ingin selalu dekat di sisinya, dalam hal ini dengan selalu membaca dan memahaminya.

Dengan begitu kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat. Terlebih lagi, al-Quran sendiri memperkenalkan  dirinya sebagai kitab petunjuk (hidâyah) yang berfungsi mengeluarkan manusia dari kegelapan (zulumat) menuju cahaya (nûr).

Dengan kata lain, al-Quran merupakan pedoman hidup bagi umat Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ternyata manfaat dari bersahabat dengan al-Quran selain akan kita peroleh di dunia juga di akhirat nanti, karena membaca al-Quran, meskipun belum mengerti maknanya, akan dibalas setiap hurufnya dengan sepuluh kebajikan.

Kapan kita – umat Islam – akan mulai bersahabat dengan al-Quran?  Jawabnya ada di relung hati kita masing-masing.

(Dikutip dan disempurnakan dari http://palembang. tribunnews.com/view/7219/al-quran_sahabat_terbaik)