Alquran dan Pendidikan

Sedemikian erat hubungan antara pendidikan dan Alquran, terasa tidak mungkin sampai pada sasaran jika berbicara pendidikan tanpa menyinggung Alquran. Berbicara pendidikan tanpa Alquran sama artinya berbicara tentang membangun manusia tanpa petunjuk dan arah. Kalau dilakukan, itu sekadar sampai pada sisi-sisi artefak, belum menyentuh aspek laten, yang lebih substantif.

Jika Rasulullah SAW diutus ke bumi untuk melakukan bimbingan kehidupan umat manusia ke jalan yang benar, agar mereka selamat di dunia dan akhirat, bukankah sesungguhnya dengan demikian Muhammad adalah sebagai pendidik yang sempurna. Muhammad adalah seorang pendidik yang tak ada seorang pun menyamainya. Dalam bahasa sehari-hari, seorang guru juga disebut pendidik. Tapi, sebutan guru lebih menonjol ketimbang pendidik.

Pendidik selalu sekaligus sebagai guru, dan guru belum tentu sebagai pendidik. Guru matematika, bahasa, biologi, dan kimia belum tentu melakukan peran-peran pendidik kehidupan secara menyeluruh. Muhammad SAW sebagai seorang ummi–tidak pintar membaca dan menulis. Dia tidak sanggup menjadi guru membaca, tapi mampu menjadi pendidik secara sempurna.

Dalam salah satu ayat Alquran diterangkan tugas Rasulullah SAW adalah yatluu alaihim ayatihi, wayuzakkihim, wayuallimuhumul kitaab wal hikmah. Ada empat tahap yang seharusnya dilakukan seorang pendidik, yaitu (1) tilawah, membaca jagad raya. Membaca atau iqro’ sesungguhnya awal kegiatan yang seharusnya dilakukan seorang pendidik.

(2) Tazkiyah menyucikan. Seorang anak terdidik harus dijauhkan dari apa saja yang mengotori, jiwa maupun raganya. Peserta didik harus bersih dan selalu dibersihkan. Apa yang dimakan harus bersih, baik, halal dan berberkah. Demikian pula, jiwanya tidak boleh terkotori semua penyakit hati seperti kufur, iri hati, dengki, tamak, suka marah, dendam, dan permusuhan.

(3) Taklim, pendidik memberikan pengajaran. Mengajarkan sesuatu yang dibutuhkan, mulai dari memberi nama, istilah, konsep, dalil-dalil tentang berbagai hal yang dikuasai seorang pendidik. (4) Hikmah. Pendidik harus mengajarkan tentang hikmah. Dalam Alquran terdapat kisah, yaitu tentang kehidupan Lukman al Hakim. Ia adalah seorang yang menyandang hikmah.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Prof.Dr. Imam Suprayogo, “Opini”, Republika, Rabu, 19 November 2008)