Alquran untuk Kemanusiaan

Alquran menjadi petunjuk kehidupan buat manusia. Umat manusia di masa depan harus semakin mampu mengamalkan ajaran Alquran. Merupakan sebuah perbuatan yang terasa sia-sia bila Alquran terus didengungkan di mana-mana, tapi akhlak kita tidak bertambah baik. Justru semakin memperbesar dosa, bila kita rajin melombakan tilawatil Quran, tetapi akhlak dan moral kita semakin melorot ke bawah.

Kita ingat, bahwa Timur Tengah jahiliyah yang tidak dikenal dalam peta sosial maupun peradaban besar umat manusia di manapun, hanya dalam waktu kurang dari 50 tahun telah berhasil menciptakan peradaban baru yang gemilang.Peradaban baru dari agama Islam itu, kemudian menjadi inspirasi hidup berperikemanusiaan, berperikeadilan, egaliter, dan antifeodalisme.

Dengan pedoman Alquran pula, umat manusia mula-mula belajar empirisme, melatih kebiasaan pembuktian, menjauhi syirik, dan membuat landasan penting bagi pengembangan sains dan ilmu pengetahuan.

Dalam ayat-ayat Alquran, manusia berkali-kali didorong untuk bepergian meninggalkan tempat kelahiran, termasuk juga perintah menunaikan haji bagi mereka yang mampu. Ajaran ini secara tidak langsung menciptakan lalu lintas perdagangan lokal, regional dan global, turisme, dan berbagai ekspedisi ilmu pengetahuan.

Berbagai contoh itu menunjukkan bahwa Alquran tidak membuat umat menjadi statis. Justru, Alquran menjadikan manusia dinamis, suka mengembara, berekspedisi mencari ilmu, serta melakukan perdagangan demi menyejahterakan diri dan masyarakatnya.

Peringatan Nuzulul Quran kini mestinya menambah penghayatan dan pengamalan kita terhadap Alquran secara mendalam dan kontekstual. Karena telah menghayati dan mengamalkan ajaran Alquran, kita diharapkan menumbuhkan keadilan, persamaan, dan kejujuran untuk kemanusiaan secara terus-menerus. Nilai-nilai yang menjadi fungsi dan isi bacaan-bacaan Alquran seperti itu yang mesti dikembangkan di masa sekarang dan akan datang.

(Dikutp dan diselaraskan dari tulisan KH Tarmizi Taher, “Hikmah”, Republika, 16 Agustus 2008)