‘AM DAN KHASH: MEMAHAMI KEUMUMAN LAFAZH DAN KEKHUSUSAN SEBAB

‘AM DAN KHASH

MEMAHAMI KEUMUMAN LAFAZH DAN KEKHUSUSAN SEBAB

Perbincangan di seputar makna ayat al-Quran berkenaan dengan prinsip pemahaman sesuatu yang melatarbelakangi turunnya ayat (asbâbun nuzûl), pada akhirnya memasuki wilayah perdebatan mengenai keberlakuan kaedah kebahasaan (qâ’idah lughawiyyah). Pertanyaannya: “apakah kaedah al-‘ibrah bi ‘umûm al-lafzh berlaku untuk semua ayat tanpa ada pengecualian, sehingga kaedah al-‘ibrah bi khushûsh al-sabab sama sekali tidak mungkin diberlakukan untuk memahami semua ayat (al-Quran), atau sebaliknya, kaedah al-‘ibrah bi khushûsh al-sabab justeru harus didahulukan untuk diterapkan dalam memahami ayat (al-Quran), sehingga kaedah al’-ibrah bi ‘umûm al-lafzh sama sekali tidak mungkin diberlakukan untuk memahami semua ayat (al-Quran), kapan pun dan di mana pun untuk siapa pun dalam konteks apa pun?” Atau, adakah kemungkinan keduanya – masing-masing – bisa dipakai dalam konteks yang berbeda untuk memahami ayat-ayat al-Quran secara sinergis?
Bila sebuah ayat turun karena suatu sebab yang khusus sedangkan lafazhnya umum (general), maka hukum yang terkandung dalam ayat tersebut mencakup sebabnya tersebut dan setiap hal yang dicakup oleh makna lafazhnya, karena al-Quran turun sebagai syari’at umum yang menyentuh seluruh umat sehingga yang menjadi tolok ukur/standar adalah keumuman lafazhnya tersebut, bukan kekhususan sebabnya.
Sebagai satu contoh adalah ayat tentang masalah Li’ân yaitu firman-Nya,
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ
“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, jika dia termasuk orang-orang yang benar.” (QS an-Nûr, 24: 6)
Di dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dari hadis yang diriwayatkan Ibn ‘Abbas r.a., (dinyatakan) bahwasanya Hilâl bin Umayyah telah menuduh isterinya berzina dengan Syuraik bin Sahmâ` di sisi Rasulullah SAW. Lalu beliau berkata,
الْبَيِّنَةُ أَوْ حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ
“Datangkan buktimu atau punggungmu akan dicambuk (hukum Hadd).”
Lalu Hilal pun berkata, “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sesungguhnya aku benar-benar jujur. Mudah-mudahan Allah menurunkan ayat yang dapat membebaskan punggungku dari cambuk (Hukum Hadd)”, lalu turunlah Jibril dan menurunkan firman-Nya,
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ …الح
“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina)” dengan membacanya … hingga akhir ayat, jika dia termasuk orang-orang yang benar.”
Ayat-ayat tersebut turun karena satu sebab, yaitu Hilâl bin Umayyah menuduh isterinya berzina akan tetapi hukumnya mencakup dirinya dan orang selainnya. Dalil penguatnya adalah hadis yang diriwayatkan al-Bukhâri dari Sahl bin Sa’d r.a., bahwasanya ‘Uwaimir al-‘Ijlâniy telah datang menghadap Nabi SAW., seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau ada seorang laki-laki mendapati seorang laki-laki yang lain bersama isterinya (maksudnya: melakukan zina), apakah dia harus membunuhnya lalu kalian membunuhnya setelah itu, atau apa yang harus diperbuatnya?.”
Nabi SAW., bersabda,
قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ الْقُرْآنَ فِيكَ وَفِي صَاحِبَتِكَ فَأَمَرَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُلَاعَنَةِ بِمَا سَمَّى اللَّهُ فِي كِتَابِهِ
“Allah telah menurunkan al-Quran mengenaimu dan isterimu itu. Kemudian beliau memerintahkan mereka berdua (suami-isteri) agar melakukan Mulâ’anah (saling melaknat satu sama lain) terhadap hal yang telah Allah sebutkan di dalam kitab-Nya, lalu dia (Hilal) melakukannya terhadap isterinya tersebut.”
Jadi, di sini Nabi SAW., telah menjadikan hukum yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut mencakup Hilâl bin Umayyah (yang merupakan sebab pertamanya) dan juga orang selainnya.
Bila sebuah ayat turun karena suatu sebab yang khusus sedangkan lafazhnya khusus (spesifik), maka hukum yang terkandung dalam ayat tersebut terikat dengan sebabnya tersebut, sebagaimana yang dimaksud di dalam ayat itu, karena ayat (al-Quran) tersebut turun sebagai syari’at khusus yang hanya menyentuh kepentingan khusus, sehingga yang menjadi tolok ukur/standar adalah kekhususan sebabnya tersebut, bukan keumuman lafazhnya. Namun, menurut pendapat ulama, ayat-ayat tersebut tetap memiliki pesan universal.
Sebagai satu contoh adalah ayat tentang masalah poligami yaitu firman-Nya,
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisâ’, 4: 3)
Ayat tersebut turun dalam konteks ibâhah (kebolehan) setiap muslim untuk melakukan poligami, berkenaan dengan situasi khusus yang menyangkut adanya problem sosial “kemungkinan adanya ketidakadilan terhadap anak-anak yatim yang ada dalam asuhan umat Islam (generasi sahabat) yang dapat diselesaikan dengan satu opsi: “poligami”.
Dengan melihat sebabnya, maka ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa kebolehan itu terkait dengan anjuran untuk memecahkan problem sosial tersebut. Sehingga, poligami yang dilakukan bukan dengan maksud untuk melakukan pemecahan atas problem sosial (seperti yang tersirat dalam teks ayat tersebut), tidak dibolehkan.
Tetapi melihat pesan universalnya, para ulama ada yang berpendapat bahwa poligami itu dibolehkan dengan mempertimbangkan dampat positif-negatif yang akan terjadi (ditimbulkan) ketika (poligami) itu (akan) dilaksanakan. Poligami yang justeru akan berdampak (pada) kezaliman tentu saja tidak dibolehkan; dalam hal ini bisa saja hukumnya “makruh” atau bahkan dlam situasi dan kondisi tertentu bisa berubah menjadi (dapat) “diharamkan”. Sementara itu, poligami yang (diduga kuat akan) menimbulkan kemashlahatan (keadilan) bagi semua pihak yang terkait, mungkin saja tidak hanya dibolehkan; bahkan mungkin saja bisa berubah hukumnya menjadi “disunnahkan”, atau bahkan dalam situasi dan kondisi tertentu bisa “diwajibkan”.
Sehingga ayat tentang kebolehan poligami itu dapat dipahami dan diamalkan menurut konteksnya, tanpa harus kehilangan pesan universalnya.
Dalam hal ini, alangkah lebih baiknya jika para mahasiswa bersedia untuk membaca artikel dan buku-buku yang membahas tentang “asbâbun nuzûl” secara lebih cermat.

(Dikutip dari beberapa situs Kajian Islam dan diselaraskan untuk kepentingan Kuliah Ushul Fiqih pada Fakultas Agama Islam UM Yogyakarta)

Tags: