ANTARA SYARI’AH DAN FIQH

Di bawah ini saya tuliskan sedikit penjelasan tentang Syari’ah dan Fiqh. Seringkali kita tidak bisa membedakan keduanya, sehingga kita menjadi “alergi” dengan perbedaan pendapat. Atau, biasanya, kita “jengkel” kepada ulama yang punya pendapat lain, seraya berkata, “kita kan umat yang satu, kenapa harus berbeda pendapat!”. Dari penjelasan di bawah ini nanti akan terlihat bahwa kita bersatu pada masalah Syari’ah dan dimungkinkan untuk berbeda pendapat dalam masalah Fiqh.

Syari’ah memiliki pengertian yang amat luas. Tetapi dalam konteks hukum Islam, makna Syari’ah adalah aturan yang bersumber dari nash (teks) yang Qath’iy. Sedangkan Fiqh adalah aturan hukum Islam yang bersumber dari nash yang Zhanniy.

Penjelasan singkat ini membawa kita harus memahami apa yang disebut Qath’iy dan apa pula yang disebut Zhanniy.

1. Nash Qath’iy

Qath’iy itu terbagi dua: dari sudut datangnya atau keberadaannya dan dari sudut lafazhnya.Semua ayat al-Quran itu merupakan Qath’iy al-Tsubût:. Artinya, dari segi “datangnya” ayat Quran itu bersifat pasti dan tidak mengalami perubahan. Tetapi, tidak semua ayat Quran itu mengandung Qath’iy al-Dilalâh. Qath’iy al-Dilalâh adalah ayat yang lafazhnya tidak mengandung kemungkinan untuk dilakukan penafsiran lain. Jadi, pada ayat yang berdimensi Qath’iy al-Dilalâh tidaklah mungkin diberlakukan penafsiran dan ijtihad, sehingga pada titik ini tidak mungkin ada perbedaan pendapat ulama. Sebagai contoh: Kewajiban shalat tidaklah dapat disangkal lagi. Dalilnya bersifat Qath’iy, yaitu “aqîmû al-shalâh” Tidak ada ijtihad dalam kasus ini sehingga semua ulama dari semua mazhab sepakat akan kewajiban shalat.

Begitu pula halnya dengan hadis. Hadis mutawatir mengandung sifat Qath’iy al-Wurûd (Qath’iy dari segi keberadaannya). Tetapi, tidak semua hadis itu Qath’iy al-Wurûd: (hanya yang mutawatir saja) dan juga tidak semua hadis mutawatir itu bersifat Qath’iy al-Dilalâh. Jadi, kalau dibuat bagan sbb:

Qath’iy al-Tsubût atau Qath’iy al-Wurûd: semua ayat al-Quran dan Hadis mutawatir

Qath’iy al-Dilalâh: tidak semua ayat al-Quran dan tidak semua hadis mutawatir

2. Nash Zhanniy

Zhanniy juga terbagi dua: dari sudut datangnya dan dari sudut lafazhnya. Ayat Quran mengandung sejumlah ayat yang lafazhnya membuka peluang adanya beragam penafsiran. Contoh dalam soal menyentuh wanita ajnabiyah dalam keadaan wudhû’, kata “au lâmastum al-nisâ’” dalam al-Quran:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. (QS an-Nisa’, 4: 43) terbuka untuk ditafsirkan.

Begitu pula lafazh “qurû’”

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS al-Baqarah, 2: 228) terbuka untuk ditafsirkan.

Ini yang dinamakan Zhanniy al-Dilalâh.

Selain hadis mutawatir, hadis lainnya bersifat Zhanniy al-Wurûd:. Ini menunjukkan boleh jadi ada satu ulama yang memandang shahih satu hadis, tetapi ulama lain tidak memandang hadis itu shahih. Ini wajar saja terjadi, karena sifatnya adalah Zhanniy al-Wurûd:. Hadis yang Zhanniy al-Wurûd: itu juga ternyata banyak yang mengandung lafazh Zhanniy al-Dilalâh. Jadi, sudah terbuka diperselisihkan dari sudut keberadaannya, juga terbuka peluang untuk beragam pendapat dalam menafsirkan lafazh hadis itu.

Zhanniy al-Wurûd: : selain hadis mutawatir

Zhanniy al-Dilalâh: lafazh dalam hadis mutawatir dan lafazh hadis yang lain (masyhûr, ahad)

Nah, Syari’ah tersusun dari nash Qath’iy sedangkan Fiqh tersusun dari nash Zhanniy.

Contoh praktis:

(a) kewajiban puasa Ramadhan (nashnya Qath’iy dan ini syari’ah),
(b) kapan mulai puasa dan kapan akhir Ramadhan itu (nashnya Zhanniy), dan ini fiqh! Catatan: hadis mengatakan harus melihat bulan, namun kata “melihat” mengandung penafsiran.

(a) membasuh kepala saat berwudhu itu wajib (nash Qath’iy dan ini Syari’ah) (b) sampai mana membasuh kepala itu? (nashnya Zhanniy ), dan ini fiqh! Catatan: kata “bi” pada famsahû biru’ûsikum terbuka untuk ditafsirkan.

(a) memulai shalat harus dengan niat (nash Qath’iy dan ini Syari’ah) (b) apakah niat itu dilisankan (dengan ushallî) atau cukup dalam hati, dan ini fiqh! Catatan: sebagian ulama memandang perlu niat itu ditegaskan dalam bentuk “ushallî ” sedangkan ulama lain memandang niat dalam hati saja sudah cukup

(a) Judi itu dilarang (nash Qath’iy dan ini Syari’ah)(b) apa yang disebut judi itu? apakah “undian” juga (termasuk) judi? Ini fiqh! Catatan: para ulama berbeda dalam mengurai unsur suatu perbuatan bisa disebut judi atau bukan.

(a) riba itu diharamkan (nash Qath’iy dan ini syari’ah) (b) apa bunga bank itu termasuk riba? Ini fiqh ! Catatan: para ulama berbeda dalam memahami unsur riba dan ‘illat (ratio legis) mengapa riba itu diharamkan

(a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash Qath’iy dan ini Syari’ah) (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? Ini fiqh! Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat (apakah mau ditutup dengan jilbab atau dengan kertas koran atau dengan kain biasa). Nah, masalahnya apakah paha lelaki itu termasuk aurat, sehingga wajib ditutup? Apakah rambut wanita itu termasuk aurat sehingga wajib ditutup? Para ulama berbeda dalam menjawabnya.

Jadi, tidak semua hal kita harus berbeda pendapat. Juga tidak semua perbedaan pendapat bisa dihilangkan. Kita tidak berbeda pendapat dalam hal Syari’ah namun boleh jadi berbeda pendapat dalam hal fiqh.

Kalau ulama berbeda dalam fiqh, nggak usah diributkan karena memang wilayah fiqh terbuka beragam penafsiran. Juga tidak perlu buru-buru mencap “ini bid’ah dan itu sesat” Apalagi sampai menuduh ulama pesanan. Perhatikan dulu apakah perbedaan itu berada pada level syari’ah atau level fiqh.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Nadirsyah Hosen dalam http://irdy74.multiply.com/journal/item/132 dan beberapa sumber di situs internet, untuk kepentingan  kajian internal)