Artipenting Dzikir dan Do’a

Kita bersyukur kepada Allah SWT, karena pada setiap peristiwa penting atau dianggap penting, kita seringkali melakukan kegiatan dzikir dan do’a. Tentu hal ini adalah perbuatan yang sangat terpuji, karena dzikir dan do’a merupakan perintah Allah SWT dan karena itu dimasukkan ke dalam kategori ibadah.

Dzikir bermakna ingat, yaitu mengingat Allah dengan lisan dan tindakan, serta mengingat Allah dengan hati (rahasia). Sebagaimana firman Allah:

وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang bergejolak di dalam dada.” (QS al-Mulk, 67: 13)

Adz-Dzikr al-Jahriy adalah dzikir yang diucapkan atau dinyatakan dengan tindakan. Antara lain dzikir yang dilaksanakan setelah mengerjakan shalat, untuk memohon perlindungan Allah dari segala gangguan dan serangan setan yang selalu mengajak ke jalan kesesatan sehingga — karena godaan itu kita bisa jadi akan melanggar perintah Allah dan — bahkan — shalat itu sendiri.

Iblis pun (pernah) menjawab tantangan Allah:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (١٦) ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (١٧)

 “Iblis pun menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”(QS al-A’râf, 7: 16-17)

Adz-Dzikr al-Jahriy dilakukan dengan lisan, dengan menyebut-nyebut bacaan (lafazh): Istighfâr, Tasbîh, Tahmîd, Tahlîl, Takbîr, dan lain-lain, ayat al-Qur’an atau wirid (Wirid adalah: ucapan permohonan [do’a] yang diucapkan secara secara istiqâmah kepada Allah SWT. Wirid [berasal dari bahasa Arab “warada-yaridu-wirdun” jamaknya adalah: aurâd), yang bisa diartikan juga dengan do’a-do’a yang diucapkan berulang-ulang setiap hari. Sedangkan dalam istilah ibadah, wirid  merupakan do`a-do’a yang diucapkan secara berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu, terutama setelah shalat fardhu)

Adz-Dzikr  as-Sirriy  atau Adz-Dzikr Al-Khafiy  — dzikir yang tersembunyi — karena ia dilakukan di dalam hati, tidak menggunakan lisan, melainkan dzawq (perasaan) dan syu`ûr (kesadaran) yang ada di dalam qalbu. Karenanya dzikir ini menjadi tersamar (khafiy) dan hanyapelaku serta Allah SWT saja yang dapat mengetahuinya. Dengan Adz-Dzikr  as-Sirriy atau Adz-Dzikr Al-Khafiy  kita berusaha menghadirkan Allah di dalam hati terus menerus, 24 jam penuh, tanpa terbatas ruang dan waktu.

Dalam Adz-Dzikr as-Sirriy atau Adz-Dzikr Al-Khafiy   orang mengingat Allah, merasakan kehadiran Allah, menyadari keberadaan Allah. Di dalam qalbunya tumbuh rasa cinta, rasa rindu kepada Allah, rasa dekat, bersahabat, seakan melihat Allah. Itulah ihsân, dimana dalam ibadahmu kamu merasa melihat Allah, atau setidaknya merasa sedang dilihat oleh Allah SWT. Inilah dzikir yang hakiki, sebab hubungan manusia dengan Allah SWT tidak terjadi dengan tubuh jasmaninya, melainkan dengan qalbunya.

Firman Allah dalam QS al-Ahzâb, 33: 41-42:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا(٤١)وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا(٤٢)

”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya(41) Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang(42).”

Sedangkan do’a adalah ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT dengan cara-cara tertentu, disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada di sisi-Nya. Secara khusus, do’a biasanya dilafazhkan dengan lisan, meskipun – sebenarnya — bisa juga dinyatakan di dalam hati.

Dan di dalam sebuah hadis riwayat Imam Empat dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah s.a.w. bersabda:

الدُّعَاءُ مُحُّ الْعِبَادَةِ                                       

”Sesungguhnya do’a itu adalah otak (sesuatu yang menjadi penggerak utama dalam) ibadah.”

Kutipan kalimat di atas diambil dari sebuah hadits yang menerangkan tentang salah satu makna dari do’a. Dimana dikatakan bahwa Do’a adalah otaknya ibadah. Mengapa bisa demikian?

Seperti yang kita ketahui, yang disebut dengan do’a adalah sebuah permohonan yang mengarah pada kebaikan. Baik itu permohonan untuk diri sendiri, keluarga, maupun untuk orang lain. Jadi pada prinsipnya ketika kita berdo’a itu berarti kita menginginkan kebaikan untuk dapat terwujud.

Sedangkan ibadah adalah segala perbuatan baik yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan dan aturan agama yang kita anut. Baik itu menyangkut pada perbuatan baik terhadap Allah, perbuatan baik terhadap sesama manusia, maupun perbuatan baik pada lingkungan dan makhluk hidup di sekitar kita.

Adapun kaitan antara do’a dengan ibadah seperti yang diterangkan di atas, dimana dikatakan do’a adalah otaknya ibadah, dapat kita kaji dari memelajari apa sebenarnya fungsi dari otak kita?

Otak adalah sebuah organ tubuh yang sangat penting, dimana salah satunya otak berfungsi memberikan perintah kepada anggota tubuh yang lain untuk menangkap hal-hal yang dibutuhkan atau pun untuk melakukan sesuatu sebagai respon dari perintah yang diberikan oleh otak kita.

Jika ada gangguan pada otak kita, maka dapat menyebabkan kita melakukan sesuatu di luar kesadaran atau pun keinginan kita. Dengan kata lain, kita tidak dapat mengontrol apa yang akan dilakukan oleh organ tubuh kita yang lain.

Hal ini jika kita kaitkan dengan pengertian “do’a adalah otaknya ibadah”, maka jelas bahwa do’a adalah pemberi arah dari setiap ibadah yang kita lakukan. Ketika kita berdo’a untuk menjadi anak yang saleh misalnya, maka setiap ibadah yang kita lakukan akan mencerminkan atau menjadikan kita untuk dapat bersikap santun, bertutur kata yang lembut atau pun melakukan sesuatu yang berarti pada kedua orang tua kita.

Begitu juga ketika kita berdo’a agar menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, maka kita akan senantiasa melakukan ibadah pada orang lain dengan cara tidak merugikan orang lain, menolong orang yang membutuhkan bantuan, dan selalu bersikap baik dan sopan pada orang lain.

Dan ketika kita jarang berdo’a atau pun lupa untuk berdo’a dalam hidup kita, maka tentunya kita akan lebih banyak bersikap di luar konteks ibadah. Seperti, kita akan menghalalkan segala cara termasuk dengan merugikan orang lain, demi mencapai keinginan kita. Atau kita berlaku semena-mena dan menindas orang lain. Bahkan kita bisa saja meninggalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan kepada kita baik itu melalui pendidikan keagamaan, maupun pendidikan sosial yang berupa norma-norma yang ada, hanya untuk kesenangan yang semu.

Mungkin saja banyaknya pelanggaran dan kejahatan yang terjadi saat ini, itu disebabkan karena kita lupa atau lalai dalam berdo’a. Karena itu, yang kita lakukan menjadi sesuatu yang tidak terkontrol bahkan bersifat merusak seperti halnya ketika kita berinteraksi dengan siapa pun.

Seringkali kita ingat untuk berdo’a ketika mendapatkan musibah.  Padahal, dalam keadaan ‘tanpa’musibah pun kita seharusnya tetap berdo’a. Karena ‘kita’ selalu harus mengikatkan diri kita kepada Allah.

Pada umumnya, manusia memahami bahwa setiap musibah mengandung suatu makna yang sangat dalam, bahwa apa pun yang terjadi, hakikatnya berasal dari Allah SWT, dan karena itu seluruh kehidupan kita harus ditata dan dibangun kembali sesuai dengan ketentuan-Nya. Musibah yang terjadi pasti akan berubah menjadi nikmat dan rahmat, bila melahirkan kesadaran tauhid dan keimanan yang mendalam yang terefleksikan dalam perbuatan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia.

Sebaliknya, musibah akan berubah menjadi azab dan laknat, apabila tidak melahirkan kesadaran dan keimanan sedikit pun. Maksiat tetap dilakukan, demikian pula kezaliman dan perbuatan merusak lainnya tetap dilaksanakan.

Karena itu, dzikir dan do’a pada hakikatnya adalah untuk mendorong kita bertobat dan bertingkah laku sesuai dengan aturan Allah SWT serta meninggalkan perbuatan-perbuatan yang mengundang murka-Nya.  Semoga dengan berdzikir dan berdo’a, hati akan bertambah tenang, pikiran bertambah jernih, dan tingkah laku bertambah baik.

Harus diyakini bahwa orang yang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah sama sekali melakukan kesalahan, akan tetapi orang yang kalau melakukan kesalahan segera bertobat dan tidak mengulangi kembali perbuatan salahnya itu. Hal ini sebagaimana dikemukakan pada QS Âli ‘Imrân, 3: 135.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Wallâhu A’lamu bi ash-Shawâb.