Atas Nama “HAM”, Apakah Kita Harus Berkompromi dengan Kemaksiatan?

Sebagian kaum muslimin membiarkan orang-orang meninggalkan shalat, membiarkan pelacuran merajalela, membiarkan wanita membuka aurat mereka di depan umum bahkan membiarkan praktik-praktik kemusyrikan dan enggan menasihati mereka karena khawatir para pelaku maksiat tersinggung hatinya jika dinasihati, kemudian berkata : “Islam ‘kan’ rahmatan li al-‘âlamîn, penuh kasih sayang”. Sungguh aneh.

Islam sebagai rahmat Allah bukanlah bermakna berbelas kasihan kepada pelaku kemungkaran dan membiarkan mereka dalam kemungkarannya. Sebagaimana dijelaskan ath-Thabari dalam tafsirnya: “Rahmat bagi orang orang yang beriman yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah s.a.w.. Beliau s.a.w. memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.

Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang yang beriman adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah (surga). Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasihatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal shalih (kebaikan).

Dan sikap rahmat pun diperlukan dalam mengingkari maksiat. Sepatutnya pengingkaran terhadap maksiat mendahulukan sikap lembut dan penuh kasih sayang, bukan mendahulukan sikap kasar dan keras.

Ingat, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».

“Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasnya.
Tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, kecuali akan memerburuknya” (HR Muslim, Shahîh Muslim, VIII/22, hadits no. 6767)

Sepakat?