Awas, Intelektual Partisan!

Kaum intelektual seharusnya hanya berpihak pada kebenaran ilmiah. Seorang Intelektual adalah ‘mujahid’ yang berjuang atas nama dan untuk menegakkan kebenaran, dan bukan justeru mencari pembenaran.

Kalau seorang intelektual sudah berpihak — misalnya — pada ‘kepentingan’ politik tertentu, maka boleh jadi ia akan tergelincir dalam tindakan ‘prostitusi intelektual’. Penalarannya yang seharusnya ‘rasional’, tiba-tiba bisa — dengan sengaja — berganti dengan penalaran yang bersifat ‘mendustakan kebenaran’ atau ‘membenarkan kedustaan’.

Inilah yang sekarang ditengarai oleh banyak orang ‘tengah terjadi” di negeri kita. Utamanya menjelang ‘hajatan’ Pileg (yang telah berlalu) dan menjelang Pilpres (Juli yang akan datang).

Ingat, “moralitas seorang intelektual sejati’ dipertaruhkan untuk selalu berpihak pada ‘nilai-nilai universal’ dan bukan ‘kepentingan-kepentingan parsial’.

Nah, untuk para intelektual partisan, segeralah bertobat dan kembalilah pada ‘nurani’ anda untuk selalu berbicara dengan ‘sejujur-jujurnya’ dan hanya ‘berpihak pada ‘yang benar’. Dan jangan sekali-kali berpihak pada ‘yang bayar’.

Selamat berkontemplasi!