Bahaya Hedonisme

  Akhlak, Hikmah   30 Januari 2012

Bahaya Hedonisme

Baru-baru ini kita telah dihebohkan oleh kabar perilaku hedonisme yang melanda kalangan elite (wakil rakyat). Hedonisme adalah gaya hidup yang hanya mengutamakan kenikmatan bendawi sebagai satu-satunya tujuan hidup. Ajaran agama menggambarkan, kegandrungan gaya hidup hedonis itu seakan mereka hanya hidup hari ini saja, sedangkan kehidupan akhirat mereka lalai. (QS ar-Rum [30]: 7).

Dalam mindset hedonis, dunia hari ini merupakan wadah aji mumpung untuk mengoleksi hiasan hidup duniawi. Baginya, setumpuk kemewahan akan dikuasai demi memenuhi selera pribadi. Tak peduli kemewahan itu didapat dari mana dan dengan cara apa, yang penting kelezatan hidup berada digenggamannya. Mereka mengklaim, apa yang diperolehnya adalah dari dirinya dan hanya untuk dirinya. Sementara dimensi spritual yang berfungsi sebagai lokomotif dan energi penggerak kehidupan hari depan sangat diremehkan.

Meremehkan dimensi spiritual ini dalam bahasa teologi disebut dengan istilah degaibisasi, yaitu sikap menafikan keyakinan terhadap adanya sesuatu yang gaib. Seperti sikap tidak percaya adanya tuhan, akhirat, surga, neraka, dan hari kiamat.

Sikap demikian sangat berbahaya karena mendorong tumbuhnya aroganisme individu yang tidak percaya lagi pada aturan normatif seperti undang-undang dan agama. Akibatnya, semua yang bernilai lahiriah seperti status, harta, dan kedudukan, diterabas tanpa mengindahkan norma dan aturan yang berlaku. Semua yang ada di dunia ini diambil, tak peduli milik orang atau negara.

Watak hedonis ini jelas sangat berbahaya dan mengancam kemaslahatan umat. Alquran menyebutnya manusia seperti ini seperti Qarun, orang sangat gemar dengan kepuasan dunia sesaat. Qarun adalah manusia hedonis yang sehari-harinya menimbun harta dan emas di dalam istananya. Pintunya dikunci dengan gembok yang besar hingga tak seorang pun mampu mengangkatnya. (QS al-Qashash [28]: 76).

Namun, Qarun sangat congkak pada rakyatnya yang telah memperjuangkannya menjadi orang terkenal. Saat berjumpa dengan rakyatnya, ia memamerkan harta bendanya. Ia mengklaim semua harta yang dimilikinya adalah hasil usahanya sendiri. (QS al-Qashash [28]: 78).

Ia tidak percaya Tuhan yang telah memberkahi hartanya. Qarun benar-benar tersihir oleh gelimang kenikmatan duniawi. Ia tidak mengetahui arti masa depan di akhirat kelak.

Atas kesombongannya itu, Allah menghukumnya dengan cara menjungkirbalikkan istana megahnya, hingga Qarun pun terbenam dalam reruntuhan istana bersama harta bendanya. Tak satu pun dari para kroni dan orang-orang di sekitarnya yang sanggup menolongnya. (QS al-Qashash [28]: 81).

Inilah bahaya dan ancaman bagi ‘Qarun-Qarun’ di masa saat ini yang gemar bergelimang dengan watak hedonismenya. Oleh karena itu, bagi kaum elite yang telah diberi amanah memimpin atau mewakili rakyat, hendaknya menjauhi perilaku hedonis agar negeri ini tidak akan terisi oleh para pemimpin yang kerjanya hanya mengais harta, namun malah mendatangkan malapetaka. Jadilah pemimpin yang jujur, adil, dan bijaksana. Jauhkan sikap sombong, angkuh, congkak, dan bergaya hidup mewah.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Prof.Dr.H. Fauzul Iman, M.A., “Hikmah”, Republika, Sabtu, 24 Desember 2011)

Tags: