Bahaya Zina

”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS Al-Israa’: 32). Zina adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. Mengapa? Karena dari zina akan muncul tujuh akibat yang berbahaya. Pertama, merusak hubungan rumah tangga. Kedua, menimbulkan permusuhan atau kejahatan. Ketiga, menodai kesucian nasab (silsilah). Keempat, menimbulkan penyakit yang berbahaya. Kelima, menutup jalan rezeki. Keenam, membuat Allah SWT murka. Ketujuh, membuat pelakunya kekal di neraka.

Begitu besarnya bahaya yang ditimbulkan dari zina, hingga segala perbuatan yang mendekati atau mendorong seseorang berbuat zina dilarang dalam Islam. Bahkan, perbuatan yang mendekati zina itu pun sudah digolongkan zina. ”Telah digariskan bagi manusia nasibnya dari zina dan dibenarkan oleh manusia itu sendiri, yaitu dua mata zinanya memandang, dua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berkata-kata, tangan zinanya meraba, kaki zinanya melangkah, dan hati zinanya keinginan serta berangan-angan, dan yang demikian itu dibenarkan (disetujui) oleh farji-nya atau didustakannya.” (HR Ibnu Majah).

Yang dimaksud dengan memandang, mendengar, berkata-kata, berkeinginan atau berangan-angan adalah terhadap sesuatu yang mendorong kepada zina. Demikian pula gerakan tangan dan kaki yang dimaksud adalah gerakan yang mendorong pada perzinaan.

Satu hal yang mendorong seseorang berbuat zina adalah pornografi dan pornoaksi. Tak sedikit dari merebaknya pornografi dan pornoaksi itu telah menimbulkan banyak kasus perzinaan dan pemerkosaan.

Dan tak sedikit pula dari perzinaan itu telah banyak perempuan hamil di luar nikah, lalu terjadi aborsi dan pembuangan atau pembunuhan bayi. Karena itu, tepat sekali jika pemerintah membuat Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi.

Pelarangan pornografi dan pornoaksi dari berbagai segi sudah benar. Jika tidak ingin moral bangsa ini hancur lebih parah lagi, maka kita tidak boleh ragu menetapkan RUU APP menjadi UU dan diterapkan secara konsisten di masyarakat.

Kalangan yang merasa diuntungkan dengan pornografi dan pornoaksi sudah tentu menolaknya dengan berbagai macam alasan, seperti mengekang kebebasan, kreativitas seni, dan lain-lain. Mereka adalah kelompok yang dirugikan dengan RUU APP.

Namun, jangan sampai karena mempertimbangkan mereka lalu moral bangsa kita jadi hancur. Sungguh kebebasan berekspresi dan kreativitas seni yang bermoral adalah lebih mulia dan bermartabat.

Selain itu, harta yang didapat dari menjual martabat dan kemolekan tubuh tidak diberkahi Allah SWT. ”Setiap badan yang tumbuh dari barang haram, maka nerakalah tempatnya.” (HR Ahmad).

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ruswanto Syamsuddin, “Hikmah”, Republika, Sabtu, 11 Maret 2006)