Bala Tentara Hati

Kalaulah ada yang bisa menguasai hal terkecil, seperti perilaku individu hingga yang terbesar sekalipun seperti dunia ini, mungkin ia adalah segumpal darah (mudgah) yang ada di tubuh manusia. Dalam keseharian lebih dikenal dengan sebutan hati nurani (qalb).

Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, jauh sebelum Rene Descartes mencetuskan jargon klasik cogito ergo sum atau ‘aku berpikir maka aku ada’.

”Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal darah (mudgah). Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Tapi, jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati nurani (qalb).” (Muttafaq ‘Alaih)

Layaknya seorang raja yang berpotensi menguasai dunia, tentu saja hati tidak mungkin sendirian. Namun, bila seorang raja biasanya memiliki pasukan segelar sepapan untuk meraih impian tersebut, hati hanya butuh dua hal saja, yaitu syahwat dan emosi.

Dengan dua hal itu, hati dapat menghimpun empat energi luar biasa yang mampu menguasai dunia. Antara lain, as-sab’iyyah (sifat buas hewan), al-bahimiyah (sifat hewan liar), asy-syaithaniyah (setan), dan ar-rabbaniyah (ketuhanan).

Terkait hal ini, jika emosi menguasai hati manusia, ia akan berperilaku layaknya binatang buas, seperti permusuhan, kebencian, dan bahkan menghempaskan manusia dari muka bumi ini. Sedangkan jika syahwat menguasai diri, hati manusia akan berperilaku seperti hewan liar, misalnya, kejahatan, ketamakan, dan seksualitas.

Bagaimana jika kedua-duanya berhasil menguasai hati manusia? Dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulumuddin, Imam Ghazali menuturkan, bila manusia telah dikuasai oleh dua hal tadi, ia akan menjadi sangat cinta terhadap kekuasaan, kebesaran, dan kediktatoran.

Dan, untuk mewujudkan semuanya itu, ia akan melakukan apa saja layaknya setan, termasuk mengadu domba bahkan kekerasan sekalipun.

Dari penjelasaan itu, kita semua jadi bertanya-tanya, kira-kira bagaimana bentuk hati orang-orang yang lebih mencintai kematian (peperangan) daripada kehidupan (perdamaian)?

Siapa pun sebetulnya memiliki potensi yang sama untuk menjadi buas dan liar atau menjadi lembut dan tenteram. Pada dasarnya, siapa pun tentu saja lebih menginginkan kelembutan dan ketenteraman. Akantetapi, untuk mencapainya, tiada jalan lain kecuali melalui mujahadah (mendekatkan diri kepada Allah).

Ironisnya, kebanyakan orang malah lebih memilih menjauhkan diri dari Allah SWT. Padahal, seandainya bala tentara hati tadi diperkuat dengan mujahadah, apa yang diributkan oleh orang banyak saat ini (perdamaian) akan tercipta dengan sendirinya. Wallau a’lam.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ma’ruf Mq, “Hikmah”, Republika, Jumat, 30 Januari 2009)