Bangga dengan Maksiat

Sebetulnya, Allah senantiasa memberikan hijab pada manusia setiap kali ia melakukan maksiat, dosa, dan kesalahan. Karena itu, tidak setiap dosa dan maksiat tersingkap dan terlihat oleh orang lain guna memberikan kesempatan kepada pelakunya untuk bertobat dan meminta ampunan, sekaligus untuk menjaga kehormatannya.

Namun, anehnya banyak pelaku maksiat yang ketika sudah dihijab dan ditutupi aibnya oleh Allah, justru memperlihatkan aib tersebut secara vulgar dan demonstratif. Lalu, mereka tidak merasa risih dengan pandangan dan komentar orang. Bahkan, bersemangat dan bangga dengan meminta dukungan banyak pihak untuk bisa terus melakukan kemaksiatan dan penyimpangannya secara bebas.

Inilah tragedi moral dan akhlak yang sangat menyedihkan dan memilukan. Sebab, kondisi itu mengundang murka Tuhan dan menutup pintu tobat-Nya. Beliau bersabda, ”Setiap umatku berpeluang mendapat ampunan, kecuali orang yang sengaja berbuat dosa secara terang-terangan. Misalnya, ketika Allah menutup aib seorang hamba, ia malah membuka aib tersebut dengan berkata, ‘Wahai fulan, aku telah melakukan ini dan itu.’ Ia telah menghancurkan kehormatannya sendiri, padahal Allah telah menutupinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pelaku maksiat terbagi dua. Pertama, ada yang sedang bermaksiat, kemudian cepat sadar dan bertobat. Kedua, ada yang telah bermaksiat, ia tidak segera bertobat dari dosanya. Hal ini jika dibiarkan akan melahirkan dosa dan maksiat lain sehingga kemaksiatan tadi menjadi sifat dan tabiat yang melekat. Akibatnya, kalau orang taat risau ketika meninggalkan ketaatan, ia malah risau ketika terhalang dan dilarang melakukan maksiat.

Kalau pelaku ketaatan dibantu dan disokong oleh para malaikat untuk terus melakukan kebaikan, para penggiat dosa dan maksiat akan terus didukung oleh setan, baik dari kalangan jin maupun manusia untuk memelihara dan meningkatkan kualitas dan kapasitas maksiat dan dosanya.

Karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang ketika terjerembab dalam kemaksiatan segera menyadari kesalahannya dan bertobat sebelum ajal tiba. Sebaliknya, orang yang merugi adalah yang asyik berbuat dosa tanpa rasa bersalah. Bahkan, berupaya untuk melebarkan sayap dosanya sehingga ia meninggal dunia

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Fauzi Bahreisy, “Hikmah”, Republika, 25 Oktober 2008)