Bangga Diri

”Tidak ada kesendirian yang lebih mencekam daripada kesendirian yang dihasilkan oleh ujub,” demikian nasihat Nabi SAW kepada Ali bin Abi Thalib menjelang wafatnya.Apakah ujub itu? Kata ujub satu akar kata dengan kata ajaib (hal-hal yang mengherankan) dan ta’aajub (sikap mengagumi). Dengan kata lain, ujub adalah sikap melihat diri sendiri sebagai ajaib dan menakjubkan.

Syekh Bahauddin al-Amili menjelaskan, ”Tidak ada keraguan ketika seseorang melakukan perbuatan baik, seperti berpuasa dan shalat pada malam hari. Ia akan merasakan semacam kenikmatan dan kesenangan. Kenikmatan dan kesenangan itu bukanlah ujub jika timbul dari perasaaan bahwa Allah Yang Mahakuasa telah melimpahkan pemberian dan nikmat padanya berupa (dorongan untuk) melakukan perbuatan baik.”

Namun, jika kesenangan itu disebabkan keyakinan bahwa perbuatan baik itu sudah merupakan sifatnya dan dialah pelaku perbuatan itu, lalu ia mengagung-agungkan dan menyukainya, dan memandang dirinya bebas dari seluruh kekurangan sehingga seolah-olah telah memberi kebaikan kepada Allah dengan perbuatan itu; semua itu berubah menjadi ujub.

Bila dirumuskan, ujub adalah tindakan mengagung-agungkan dan membesar-besarkan perbuatan baik, perasaan puas dan senang dengannya, tersipu serta terkesima dengan perbuatan baik dirinya, dan merasa terbebas dari kekurangan.”Ada beberapa tingkatan ujub. Salah satunya adalah sifat buruk seseorang tampak baik baginya. Ia menganggapnya sebagai baik dan memuji dirinya, membayangkan ia melakukan perbuatan baik. Tingkat ujub lain tampak pada manusia yang beriman kepada Allah dan ia berpikir telah menguntungkan Allah sehingga mengungkit-ungkit kebaikan di hadapan Allah. Padahal, Allah-lah yang berbuat baik kepadanya (dengan memberinya keimanan itu),” demikian penjelasan Ali bin Musa al-Ridha.

Bagaimana mendiagnosis jika kita mengidap ujub? Secara sederhana, indikasi ujub dalam diri adalah kegemaran untuk mengucapkan, baik secara batin maupun lisan, seperti, ”Kalau bukan saya, mana bisa!” atau ”Untung ada saya!” atau ”Siapa lagi kalau bukan saya!””Katakanlah, ‘Apakah kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang merugi perbuatannya?’ Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan dan terhadap perjumpaan dengan-Nya. Maka, hapuslah amalan mereka dan kami tidak menghitung amalan tersebut pada hari kiamat.” (QS Alkahfi [18]: 103-105).

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan M, Subhi-Ibrahim, “Hikmah”, Republika, Rabu, 7 Januari 2009)