Bejana Berhubungan Bank Syariah

Ada suatu untold story, kisah di balik berita, dari dampak dikeluarkannya fatwa haramnya bunga bank, yang telah sama kita saksikan. Dana dari perbankan konvensional mengalir deras ke perbankan syariah. Dari sudut pandang syariah, hal ini dapat diartikan efektifnya fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. Namun sebenarnya ada kisah yang belum banyak diungkap orang tentang hijrahnya dana ke perbankan syariah tersebut.

Kisahnya diawali dengan kebijakan BI menurunkan suku bunga SBI yang tentu saja secara otomatis diikuti oleh perbankan konvensional menurunkan suku bunga simpanannya. Penurunan suku bunga SBI yang relatif cepat itu diikuti dengan penurunan bunga simpanan perbankan konvensional sampai pada level 6 persen. Padahal pada saat itu bagi hasil perbankan syariah masih bertengger pada level 9 persen. Inilah yang membuat perbankan syariah menjadi gadis manis yang dikerubuti nasabah yang selama ini menaruh dananya di bank konvensional. Sudah halal, bagi hasilnya satu setengah kali dari bunga bank konvensional.

Aliran dana mulai terasa pada awal Desember 2003, yang diduga berasal dari Dana Pensiun yang memang sensitif terhadap return. Jadi sebenarnya aliran dana telah terjadi sebelum dikeluarkannya fatwa tanggal 16 Desember 2003. Ibarat bejana berhubungan, bila return bagi hasil lebih besar daripada bunga, maka dana mengalir dari perbankan konvensional ke perbankan syariah. Aliran ini semakin deras setelah fatwa dikeluarkan.

Nah, masuknya dana ke perbankan syariah mengakibatkan bank-bank syariah kelebihan dana. Sebagian kelebihan dana tersebut meluap ke SWBI sehingga jumlah SWBI yang sebelumnya berkisar pada besaran Rp 600-800 miliar, melonjak mencapai Rp 2,3 triliun pada medio Maret 2004. Suatu lonjakan fantastis mencapai 3-4 kali volume normal sebelumnya. Keadaan ini tidak disia-siakan oleh kalangan pasar modal dengan menerbitkan berbagai obligasi syariah untuk menyerap kelebihan likuiditas tadi. Hukum bejana berhubungan juga berlaku di sini, dana yang tadinya disimpan di SWBI mulai mengalir ke obligasi syariah, meskipun jumlah obligasi syariah yang diterbitkan pada awal 2004 hanya berkisar Rp 300 miliar.

Banyaknya dana yang belum dapat disalurkan oleh perbankan syariah mengakibatkan bagi hasil bank syariah turun, karena pendapatan yang sama harus dibagi kepada lebih banyak dana. Bagi hasil perbankan syariah yang tadinya berada pada level 9 persen melorot ke level 6 persen. Akibatnya, pada medio April 2004 aliran dana masuk ke perbankan syariah tidak lagi sebesar periode Desember-Maret 2004. Bagi hasil perbankan syariah saat itu kurang lebih sama dengan bunga perbankan konvensional, yaitu pada level 6 persen. Ibarat dua bejana yang berhubungan, bila ketinggian air di kedua bejana tersebut sama, maka aliran air dari satu bejana ke bejana lainnya akan terhenti.

Dalam perekonomian yang semakin terbuka, pengaruh global semakin terasa. Bukan saja bejana perbankan syariah yang berhubungan dengan bejana perbankan konvensional, namun juga bejana-bejana yang ada di Indonesia saling berhubungan dengan bejana-bejana yang ada di luar negeri. Naiknya harga minyak internasional telah mendorong berbagai pihak berpikir dan mengantisipasi naiknya biaya produksi yang pada akhirnya akan mendorong timbulnya inflasi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, dalam benak berbagai pihak muncul ekspektasi bahwa BI akan menaikkan suku bunga. Logikanya adalah bila bunga SBI dinaikkan, maka uang akan mengalir ke BI sehingga mengurangi jumlah uang yang beredar, dan berikutnya menekan laju inflasi. Ekspektasi ini tidak jauh meleset, BI memang menaikkan suku bunga SBI, dan juga suku bunga penjaminan simpanan sampai 7,25 persen. Akibatnya mudah ditebak, suku bunga simpanan perbankan konvensional pun naik pada level itu, padahal bagi hasil perbankan syariah masih pada level 6 persen. Dengan teori bejana berhubungan berarti akan ada aliran dana dari perbankan syariah ke perbankan konvensional, meskipun jumlahnya tidak signifikan karena perbedaannya hanya tipis dan adanya pengaruh kekuatan fatwa. Mengalirnya dana kembali ke perbankan konvensional tidak mengkhawatirkan bank-bank syariah karena memang perbankan syariah masih kelebihan likuiditas. Bahkan dampak positifnya adalah bagi hasil perbankan syariah mulai merayap naik ke level 7-8 persen.

Gejala membaiknya perekonomian Amerika Serikat yang dikonfirmasi dengan pernyataan gubernur bank sentralnya, Greenspan, tentang perlunya menaikkan bunga sebesar 0,25 persen juga telah mendorong berbagai pihak berpikir dan mengantisipasi menguatnya nilai dolar. Bila bunga dolar naik, maka simpanan dalam bentuk dolar menjadi lebih menarik dibandingkan simpanan dalam bentuk rupiah. Dengan teori bejana berhubungan, kita mengantisipasi bahwa BI akan menaikkan bunga rupiah agar rupiah tetap menarik dipegang. Pada kenyataannya, BI memang menaikkan bunga sehingga pasar seakan mendapat konfirmasi bahwa cara berpikir dan antisipasi mereka benar.

Yang kemudian terjadi adalah nilai dolar menguat mencapai level Rp 9.200. Menguatnya dolar ini lebih disebabkan adanya berbagai pihak di pasar yang berpikir dan mengantisipasi bahwa dolar akan menguat, bukan karena ada perubahan fundamental melemahnya ekonomi Indonesia dan menguatnya ekonomi Amerika Serikat. Secara riil ekonomi Indonesia masih sama ketika dolar pada level Rp 8.500, dan secara riil ekonomi Amerika masih menghadapi masalah defisit anggaran pemerintah dan defisit neraca perdagangan.

Persoalannya adalah, ketika yang berpikir dan mengantisipasi menguatnya dolar tersebut adalah bank-bank atau perusahaan besar, yang kemudian mengimplementasikan antisipasi mereka dengan membeli dolar besar-besaran, maka tak ayal lagi dolar terus menguat. Keadaan bertambah parah jika pembelian dolar dilakukan dengan transaksi forward atau swap. BI telah memperingatkan empat bank asing yang melakukan hal itu, namun dalam sistem kurs mengambang dan kebebasan mobilitas modal, pertanyaannya adalah dalil peraturan apa yang secara spesifik dapat digunakan BI untuk mencegah mereka membeli dolar, selain dalil etika dan dalil tugas BI menjaga kestabilan rupiah?

Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) membolehkan perbankan syariah membeli dolar secara spot dan melarang transaksi forward dan swap. Artinya potensi perbankan syariah ikut mengeruhkan suasana dengan membeli dolar besar-besaran jauh lebih kecil dibandingkan potensi yang dimiliki perbankan konvensional. Kebolehan membeli secara spot memang masih membuka peluang untuk ikut memancing di air keruh, namun fatwa DSN menutup kemungkinan ini dengan melarang transaksi bay’ najasy. Dalam ilmu fikih, menguatnya dolar karena naiknya permintaan dolar secara semu atau memanipulasi naiknya permintaan dolar, disebut bay’ najasy. Seandainya saja jiwa fatwa-fatwa DSN ini diadopsi menjadi peraturan BI yang diberlakukan pada perbankan syariah maupun perbankan konvensional, insya Allah rupiah tidak akan mudah dipermainkan. Banyak hal sebenarnya dalam ilmu fikih yang dapat menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Adiwarman A. Karim, dalam http://www.geocities.com/comment_indonesia/commentkliping200405.htm)