BEKAL UTAMA AKTIVIS DAKWAH

Dakwah bukanlah pekerjaan ringan. Bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil-lalu, atau dengan tanpa perencanaan yang matang. Tiada dakwah yang berhasil tanpa aktor (pelaku) yang mau berkhidmat dengan kesiapan prima, fisik dan spiritual maupun finansial. Dan. Bahkan, lebih dari itu semua,  banyak hal yang dibutuhkan oleh seseorang ketika memilih profesinya sebagai “Da’i”. Dengan bekal utama itu, “Sang Da’i” akan berhasil mengemban misinya, menjadikan Islam sebagai rahmah bagi semuanya, di mana pun dan kapan pun.

Allah berfirman:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushshilat, 41: 33-35).

Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (Da’i), agar selalu bersemangat dan memiliki sikap istiqâmah, tidak pernah gentar dan merasa ‘getir’, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal QS Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah.

“Mereka berkata: “Hati Kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru Kami kepadanya dan telinga Kami ada sumbatan dan antara Kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya Kami bekerja (pula).” (QS Fushshilat, 41: 5).

Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman. Setiap disampaikan kepada mereka ajaran Allah, mereka menolaknya dengan segala cara, entah dengan menutup telinga, menutup mata, atau dengan mencari-cari alasan dan lain sebagainya.

Dakwah di jalan Allah adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa dakwah manusia akan tersesat jalan, jauh dari tujuan yang diinginkan Allah SWT. Para rasul dan nabi yang Allah pilih dalam setiap fase adalah dalam rangka menegakkan risalah dakwah ini. Di dalam al-Quran, Allah SWT tidak pernah bosan mengulang-ulang seruan untuk bertakwa dan menjauhi jalan-jalan setan. Tetapi manusia tetap saja terlena dengan panggilan hawa nafsu, terpedaya dengan indahnya dunia sehingga lupa kepada akhirat. Dalam QS al-Infithâr, 82: 6 Allah berfirman:

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.”

Dalam ayat lain:

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (QS al-Qiyâmah, 75: 20-21).

Perhatikan bagaimana pahit-getir yang harus ditempuh para pegiat dakwah (Da’i). Sampai kapan manusia harus terus terombang-ambing dalam gemerlap dunia yang menipu kalau tidak ada seorang pun yang bergerak untuk melakukan dakwah? Di sini tampak bahwa tugas dakwah pada hakikatnya bukan hanya tugas para Da’i, melainkan tugas semua manusia yang mengaku dirinya sebagai hamba Allah – tak perduli apa profesinya – lebih-lebih mereka yang telah meletakkan dirinya sebagai aktivis dakwah.

Karenanya, persoalan dakwah bukan persoalan nomor dua, melainkan persoalan pertama dan harus diutamakan di atas segala kepentingan. Bila kita mengaku mencintai Rasulullah s.a.w., maka juga harus mengaku bahwa berjuang di jalan dakwah adalah segala-galanya. Karena Rasulullah s.a.w. dan sahabat-sahabatnya tidak saja mengurbankan segala waktu dan hartanya bahkan jiwa raganya untuk dakwah kepada Allah. Bagi mereka rumah dan harta yang telah mereka bangun sekian lama di kota Makkah memang merupakan bagian dari kehidupan yang sangat mahal dan berharga. Tetapi mempertahankan iman dan menegakkan ajaran Allah di bumi adalah di atas semua itu. Karenanya mereka tidak pikir-pikir lagi untuk berhijrah dengan meninggalkan segala apa yang mereka miliki. Mereka benar-benar paham bahwa iman dan dakwah pasti menuntut pengurbanan. Karenanya dalam berbagai pertempuran para sahabat berlomba untuk melibatkan dirinya. Mereka merasa berdosa jika tidak ikut terlibat aktif. Tidak sedikit dari mereka yang telah gugur di medan tempur. Semua ini menggambarkan kesungguhan dan kejujuran mereka dalam menegakkan risalah dakwah yang taruhannya bukan hanya harta benda melainkan juga nyawa.

Dakwah Adalah Tugas yang Sangat Mulia

Ayat di atas dibuka dengan pernyataan: waman ahsanu qawlan. Sayyid Quthub ketika menafsirkan ayat ini: “Kalimat-kalimat dakwah yang diucapkan sang Da’i adalah kal;imat yang paling baik, ia berada pada barisan pertama di antara kalimat-kalimat yang baik yang mendaki ke langit.” (lihat: Sayyid Quthub, Fî Zhilâlil Qurân, vol.5, h. 3121).

Kata waman ahsanu diulang di beberapa tempat dalam al-Qur’an untuk menegaskan tingginya kualitas beberapa hal.

Pada QS an-Nisâ’, 4: 125 Allah berfirman:

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”

Dalam QS al-Mâidah, 5: 50:

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Dan pada ayat di atas (QS Fushshilât, 44: 33):

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Perhatikan semua ayat-ayat tersebut secara seksama, betapa tugas dakwah sangat Allah muliakan. Peringkatnya sangat tinggi, setara dengan kualitas hukum Allah dan penyerahan diri kepadaNya secara total.

Adalah suatu keharusan seorang Da’i, menyerahkan hidupnya kepada Allah SWT. Ia tidak kenal lelah menjalani tugas-tugas dakwah. Ia pun tidak mengharapkan keuntungan duniawi di baliknya, kecuali hanyalah ridhaNya. Dalam QS Yâsîn. 36: 21 Allah berfirman:

“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Andaikata Allah membuka jalan rezeki baginya melalui jalan-jalan tak terduga, seperti kata Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim an-Naisaburi dalam kitab Al-Kayfu wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qurân, Juz I (Beirut: Dâr Ihyâ at-Turâts al-’Arabiy, 1422 H), hal. 142: “فهو خير على خير (fahuwa khairun ‘alâ khair)“. Yang penting jangan sampai seorang Da’i orientasinya dunia. Sebab, bila seorang Da’i juga berorientasi dunia, kepada apa dia mau berdakwah, bukankah tema utama dakwah adalah ajakan untuk mempersiapkan diri menuju akhirat?

Berdakwah Dengan Amal

Ayat selanjutnya menegaskan pentingnya amal shalih: wa amila shâlihâ. Mengapa? Apa hubungannya dengan dakwah? Bahwa seorang Da’i jangan hanya ‘ngomong’ saja, sementara perbuatannya jauh atau bahkan bertentangan dengan apa yang disampaikannya. Benar, bahwa perkataan dakwah adalah paling baiknya perkataan, tetapi itu kalau diikuti dengan amal shalih. Jika tidak, maka perkataan itu akan menjadi bumerang yang akan menyerang sang Da’i itu sendiri.

Dalam QS ash-Shaf, 61: 3, Allah berfirman:

“Amat besar kebencian Allah, bila kamu hanya mengatakan tanpa mengerjakannya.”

Karenanya Rasulullah s.a.w. tidak hanya berbicara, melainkan — lebih dari itu — seluruh perbuatannya merupakan contoh amal shalih.

Allah SWT memberikan rekomendasi yang luar biasa dalam QS al-Qalam, 68: 4,

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Ibnu Katsir — ketika menafsirkan ayat ini — menyebutkan riwayat dari ‘Aisyah r.a.: “Bahwa akhlak Rasulullah s.a.w. adalah al-Quran (lihat: Tafsir Ibn Katsir, vol.4, h. 629). Dalam hadis-hadis yang diriwayatkan para ulama tidak semua berupa ucapan Rasulullah s.a.w., melainkan banyak sekali yang berupa cerita para sahabat mengenai perilaku dan sikap Rasulullah s.a.w. Banyak sekali hadis-hadis yang berupa ucapan pendek, to the point, tidak ‘bertele-tele’, mudah dihafalkan. Suatu gambaran betapa keberhasilan dakwah Rasulullah s.a.w. adalah karena setiap yang diucapkannya langsung ada contohnya dalam bentuk amal nyata dari sikap dan akhlaknya yang sangat mulia.

Menampilkan Diri Sebagai Seorang Muslim Adalah: “Dakwah”

Di antara ciri utama berdakwah kepada Allah, tidak saja mengamalkan ajaranNya dan menjauhi segala yang dilarang melainkan lebih dari itu menampilkan diri sebagai seorang Muslim di manapun ia berada, Allah berfirman pada ayat berikut:  وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ [Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri] (QS Fushshilât, 41: 33)

Dengan kata lain tidak cukup seorang mengamalkan Islam hanya dengan shalat, membayar zakat dan menjalankan haji, sementara dalam hidup sehari-harinya tidak mencerminkan Islam, misalnya ia tidak merasa berdosa dengan mempertontonkan auratnya di mana-mana, bergandengan tangan dengan wanita bukan istrinya di depan banyak orang, melakukan kemaksiatan, kezaliman, korupsi, judi, perzinaan dengan terang-terangan. Anehnya, dia merasa malu untuk menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya. Ia tidak merasa bangga sebagai seorang muslim. Bahkan Islam yang dipeluk digerogoti ajarannya sedikit demi sedikit, dengan sikap memperdebatkan prinsip-prinsipnya yang sudah baku, mencari-cari dalil untuk membangun keraguan terhadap kebenaran Islam.

Seorang aktivis dakwah sejati selalu bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Ia tidak takut menampilkan Islam sebagai pribadinya. Sungguh krisis umat Islam di mana-mana kini adalah krisis keberanian untuk menampilkan wajah Islam yang sebenarnya. Islam mengajarkan kedisiplinan, kebersihan, dan akhlak mulia, tetapi umat Islam di mana-mana selalu terkesan jorok, kotor dan beringas. Islam mengajarkan kejujuran, dan ketegasan dalam menegakkan hukum, tetapi penipuan dan korupsi justeru merebak di tengah masyarakat yang mayoritasnya umat Islam. Mengapa ini semua terjadi? Bukankah orang-orang non-muslim sudah sedemikian jauh menampilkan dirinya sebagai bangsa yang bersih, disiplin dan lain sebagainya?

Benar, jika kemudian saya mendengar penyataan salah seorang muallaf : “Saya masuk Islam bukan karena umat Islam, melainkan karena kebenaran Islam. SeanDa’inya umat Islam mampu menampilkan Islam dengan sebenar-benarnya, niscaya mereka akan berbondong-bondong masuk Islam.” Bahkan ada ungkapan yang sangat terkenal dan diulang-ulang hampir dalam setiap seminar di dalam di luar negeri: al-Islâm mahjûbun bil muslimîn (kebenaran Islam terhalang oleh orang-orang-orang Islam sendiri). Perhatikan realitasnya, apa yang sedang berlangsung dalam diri umat Islam di mana-mana. Ya, kalau tidak berperang di antara mereka sendiri, mereka dizalimi oleh pemimpinnya sendiri yang mengaku muslim.

Karenanya menampilkan Islam secara jujur dalam diri sebagai pribadi, dalam rumah tangga, dalam bermasyarakat dan dalam berbangsa dan bernegara adalah sebuah keniscayaan, dan menurut ayat di atas termasuk perbuatan yang sangat baik dan mulia. Oleh sebab itu pada ayat berikutnya Allah mengajarkan agar seorang Da’i selalu menyadari posisinya yang sangat mulia. Jangan sampai – karena suatu saat kelak menghadapi cobaan berupa munculnya orang-orang yang menolak dakwahnya dan lain sebagainya – ia kemudian bersikap emosional. Sehingga perkataannya lepas kontrol, lalu membalas cercaan mereka dengan cercaan. Atau lebih dari itu ia kemudian putus asa, lalu menjadi lesu dan patah arang. Akibatnya dakwah yang sangat Allah muliakan, ia lalaikan begitu saja.

Tidak! Tidak demikian pribadi seorang aktivis dakwah. Seorang aktivis dakwah selalu menjiwai ayat ini: وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ  (walâ tastawil hasanatu walas sayyi’ah). Benar, tidak akan pernah sama antara kebaikan dan keburukan. Kata-kata dakwah tetap lebih mulia dari kata-kata pencerca. Pertahankan kata-kata yang baik itu untuk terus menghiasi lidah sang Da’i. Jangan sampai terpengaruh emosi para pencerca lalu ditukar menjadi cercaan pula. Karenanya Allah ajarkan konsep: ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (idfa’ billatî hiya ahsan), balaslah dengan ucapan yang lebih baik dan dengan cara yang lebih baik. Kata ahsan juga diulang pada ayat lain: وَ جادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ [wajâdilhum billatî hiya ahsan] (QS an-Nahl, 16: 125), suatu sikap yang harus selalu menghiasi pribadi seorang Da’i setiap saat dan di manapun ia berada, lebih-lebih saat menghadapi penolakan, cercaan dan makian. Di saat seperti itu seorang Da’i, harus benar-benar tampil sempurna, bijak dan tenang. Mengapa? Sebab ia membawa misi Allah Yang Maha Perkasa. Maka ia harus selalu yakin dan percaya diri dengan posisinya. Tidak perlu bersikap tidak percaya diri apalagi rendah diri.

Bahkan pada ayat selanjutnya Allah mengajarkan agar ia selalu tampil dengan penuh persahabatan, sekalipun mereka mencerca dengan penuh permusuhan. Perhatikan bagaimana Allah mengajarkan cara berdakwah yang efektif, di mana kemudian cara ini menjadi salah satu pilar utama dalam ilmu komunikasi modern. Setelah itu Allah menegaskan bahwa untuk itu semua seorang Da’i tidak cukup hanya dengan bermodal semangat, melainkan lebih dari itu harus mempunyai sifat sabar dan selalu memohon kepada Allah agar mendapatkan nasib yang baik, di dunia dan di akhirat. Tanpa sifat sabar dan doa untuk memperoleh nasib yang baik, segala proses akan menjadi sia-sia. Sebab segala kemenangan tidak akan pernah dicapai tanpa pertolonganNya.

Wallâhu A’lamu bi ash-Shawâb.

Dikutip dan diselaraskan dari: http://www.dakwatuna.com/2007/bekal-utama-aktivis-dakwah, untuk kepentingan diskusi internal.