Belajar Dari Sang Pemberani

Asiyah (isteri Firaun) dan Masyitah (pelayan Firaun), kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiyah – menebusnya —  di tiang penyiksaannya dan Masyitah – menebusnya — di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Firaun. Itulah harga yang harus mereka bayar dari syajâ’ah (keberanian) mereka. Keberanian untuk menegakkan kalimah tauhid di saat kematian menghadang.

Asiyah (isteri Firaun) dan Masyitah (pelayan Firaun) tidak hanya berdua. Mereka ditemani oleh sosok-sosok tegar yang – dengan lantang – berani menyuarakan dan menyatakan kebenaran dalam tindakan. Mereka – antara lain – Ibrahim a.s., Musa a.s. dan, tentu saja, Muhammad s.a.w., uswah hasanah kita.

Secara manusiawi seseorang memang memiliki sifat khauf (takut). Namun sifat khauf thabi’i (natural/alamiah) di dalam setiap diri manusia sengaja diciptakan oleh Allah — bagi mereka — sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri.

Kita bolejh saja takut terbakar api, tenggelam di kedalam air, terjatuh dalam terkaman binatang buas. Tetapi, semuanya harus berada di bawah control khauf syar’i, yakni “takut” kepada Allah SWT. Rasa takut itulah yang secara indah dan heroik diperlihatkan dalam sejarah kehidupan Ibrahim a.s, Musa dan Muhammad s.a.w. (Sang Idola Kita!).

Keteladan Ibrahim a.s. terlihat pada peristiwa pembakarannya oleh tentara Namrud. Rasa takut (khauf) thabi’i terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut (khauf) syar’i, yakni takut kepada Allah saja. Dan pada saat yang tepat —  pertolongan Allah datang dengan perintah-Nya kepada ‘sang api’ agar menjadi dingin, menyejukkan serta menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.

Keteladanan Musa a.s. ditunjukkan dalam kisah heroiknya ketika menghadapi Sang Tiran (Firaun) dan bala tentaranya. Rasa takut pada kemungkinan tenggelam ke laut merah teratasi oleh ketenangan, optimisme dan keberaniannya, dan karena keyakinannya terhadap pertolongan Allah yang akan kepadanya. Dan benar saja Allah memberinya jalan keluar berupa mukjizat berupa terbelahnya laut merah dengan pukulan tongkatnya sehingga bisa  dilalui oleh Nabi Musa a.s. dan para pengikutnya. Kemudian laut itu menyatu kembali dan menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya.

Keteladanan Muhammad s.a.w. dipertontonkan kepada kita – umatnya – di ketika menghadapi kejaran para pembangkang ajaran Allah. Keberanian, ketawakalan dan kepasrahan kepada Allah yang membuahkan pertolongan-Nya terlihat pada saat beliau bersama sahabat setianya — Abu Bakar Ash-Shiddiq — berada di gua Tsur untuk bersembunyi sebagai bagian dari rencana besar (strategi) hijrahnya ke Yatsrib (Madinah). Di saat kaki-kaki musuh yang lalu lalang di seputar goa itu siap menuju mulut goa, semuanya tidak menggetarkannya. Dan ketika Abu Bakar begitu mengkhawatirkan keselamatannya, beliau menenangkannya dengan berkata, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS at-Taubah [9]: 40). Dan ternyata, “terbukti” Allah SWT memberikan pertolongan melalui makhluk-makhluk-Nya yang lain. Burung merpati yang secara kilat membuat sarang, begitu pula laba-laba di mulut goa, membuat kaum musyrikin Quraisy yang mengejarnya “yakin” bahwa goa itu tak mungkin dilalui oleh manusia. Mereka berlalu, dan selamatlah Muhammad s.a.w. bersama sabahat tercintanya, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ketiga kisah itu melengkapi kisah heroik Asiyah dan Masyitah. Kalau Asiyah dan Masyitah, masing-masing ditakdirkan oleh Allah menjadi syahîdataian (dua wanita yang mati syahid), karena membela kebnenaran. Ketiga orang Nabi dan Rasul Allah itu diselamatkan oleh Allah, karena Allah memiliki rencana yang berbeda bagi mereka masing-masing.

Ada pelajaran bagi bagi kita dari kisah-kisah itu. Namun, yang sering terjadi, tidak banyak orang yang bisa menangkap sinyal-sinyal terang dari Allah dari kisah-kisah serupa, karena hati mereka masih terliput godaan setan dan arahan hawa nafsu.

Keberanian, sebagaimana yang dimiliki oleh Asiyah dan Masyitah, yang terntu saja pasti dimiliki oleh Ibrahim a.s., Musa a.s. dan – tentu saja – Muhammad s.a.w. tidak banyak terwarisi oleh umat Islam. Hingga mereka menikmati sikap pengecut, takut untuk berkata benar, apalagi memperjuangkan kebenaran.

Nabi s.a.w memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati. Penyakit itulah yang menyebabkan umat Islam menjadi “para pengecut”, sehingga tidak lagi disegani oleh musuh-musuhnya. Mereka dipandang sebelah mata.

Di zaman keemasan Islam,  musuh-musuh mersa gentar terhadap umat Islam karena keberanian para mujahidnya yang hadir ke medan perang dengan suka cita karena hanya memiliki dua pilihan sama-sama baik, yakni: hidup mulia dengan meraih kemenangan atau mati syahid di jalan Allah.

Kini, karena terpenjara oleh al-wahn, mereka menjadi pengecut, tidak memiliki daya tahan tinggi terhadap segala tantangan dan kesulitan sehingga mudah surut, menyerah atau berputus-asa. Padahal dalam kehidupan yang semakin berat dan sulit dewasa ini begitu banyak tantangan dan marabahaya yang harus disikapi dan dihadapi dengan asy-syajâ’ah (keberanian), karena al-wahn, tidak akan pernah menjadi bagian dari solusi bagi permasalahan umat Islam.

Saat ini adalah waktu yang tepat bagi umat Islam untuk berbenah diri. Tinggalkan al-wahn, dan seger miliki asy-syajâ’ah.

Dengan modal spiritual) berupa keimanan dan ketakwaan yang mantap. Seharusnya seseorang tidak takut pada apapun dan siapa pun selain Allah. Saatnya kita bermujâhadah melawan segala rasa takut, cemas dan khawatir terhadap setiakp risiko perjuangan untuk menegakkan kebenaran. Dan, tinggalkan keluh-kesah atas beratnya beban perjuangan. Yakinkan pada diri kita bahwa perjuangan para Nabi dan orang-orang shaleh terdahulu jauh lebih berat daripada beban kita, tetapi mereka tetap memiliki “keberanian” untuk berjihad di jalan Allah.

Apalagi ketika kita menjadi pemimpin umat. Perjuangan kita memerlukan “keberanian ekstra”, agar umat pun memiliki keberanian untuk menyatakan yang benar adalah benar, dan memperjuangkannya menjadi sebuah kenyataan. Kita, seharusnya menjadi yang pertama  dan utama. Uswah Hasanah bagi umat kita di ranah mana pun kita berada.

Semoga Allah meridhai apa pun yang kita lakukan.!