Benarkah Mayat Disiksa Karena Tangisan?

Ada satu pertanyaan yang sampai saat ini belum ‘ada’ tanda-tanda bahwa umat Islam sudah memahami jawabnya dengan tepat, karena dalam beberapa kesempatan pengajian, pertanyaan ini masih disampaikan oleh para jamaah. Pertanyaan itu adalah: “Benarkah seseorang yang meninggal akan mendapatkan siksa dari Allah karena tangisan keluarganya, karena ada beberapa hadits yang – secara zhahir (tekstual) –bisa dipahami seperti itu?” Salah satunya adalah hadits berikut ini:

عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تَقُولُ وَذُكِرَ لَهَا أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَيِّ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَغْفِرُ اللَّهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَمَا إِنَّهُ لَمْ يَكْذِبْ وَلَكِنَّهُ نَسِيَ أَوْ أَخْطَأَ إِنَّمَا مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَهُودِيَّةٍ يَبْكِي عَلَيْهَا أَهْلُهَا فَقَالَ إِنَّكُمْ لَتَبْكُونَ عَلَيْهَا وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ فِي قَبْرِهَا

“Dari ‘Amrah binti Abdurrahman, ia mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar ‘Aisyah – Ummul Mu’minin — ketika disebutkan kepadanya, bahwa Abdullah bin Umar mengatakan ‘Mayat itu disiksa karena tangisan yang masih hidup.’ Aisyah berkata, “Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Sesungguhnya dia tidak berbohong, tapi dia lupa atau salah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati jenazah seorang wanita Yahudi yang ditangisi oleh keluarganya, lantas beliau bersabda: ‘Kalian menangisinya. Dia disiksa dalam kuburnya’.” (Hadits Riwayat Malik bin Anas dari ‘Amrah binti Abdurrahman, Al-Muwaththa’, juz I, hal. 234, hadits no. 555)

Penjelasan

Kadang-kadang kita tidak bisa memahami dan bisa salah memahami jika hanya meninjau satu dua hadits saja. Bahkan tidak jarang ‘kita’ juga bisa salah sangka dengan maksud sabda Rasulullah SAW karena sesungguhnya kita tidak tahu konteks (kaitan) peristiwa yang melatarbelakangi mengapa Rasulullah SAW bersabda demikian itu. Maka jalan terbaik adalah merujuk pada penjelasan para sahabat yang hadir dan mengetahui pangkal masalahnya.

Seperti halnya kita jumpai banyak hadits yang menyatakan bahwa mayat disiksa atau diazab karena tangisan keluarga yang ditinggalkannya. Secara zhahir atau tekstual kita akan langsung menangkap bahwa mayat tersebut disiksa di alam kuburnya karena tangisan kita.

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Khalil telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dia adalah dari suku Asy-Syaibaniy dari Abu Burdah dari bapaknya berkata; Ketika ‘Umar r.a. terbunuh Shuhaib berkata, sambil menangis:

وَاأَخَاهُ فَقَالَ عُمَرُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَىِّ.

“Wahai saudaraku”. Maka ‘Umar r.a. berkata,: Bukankah kamu mengetahui bahwa Nabi SAW telah bersabda “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan orang yang masih hidup“. (Hadits Riwayat al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 102, hadits no. 1290)

إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “mayat itu diazab karena ratapan keluarganya”. (Hadits Riwayat Muslim dari Abdullah bin Abu Mulaikah, Shahîh Muslim, juz III, hal. 42, hadits no. 2188)

Secara zhahir (tekstual) dan sepintas lalu, bunyi hadits di atas mengesankan bahwa mayit akan disiksa akibat keluarga atau kerabat nya yang menangisi kematiannya. Namun pertanyaannya apa salah si mayit? Apakah si mayit itu ketika hidupnya dulu menyuruh kerabatnya agar menangisinya jika kelak ia sudah meninggal? Bagaimana ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang tidak ia lakukan? Bukankah seseorang tidak memikul dosa orang lain? Mengapa orang disiksa akibat kesalahan yang dilakukan orang lain?

Padahal Allah telah berfirman:

… وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ …

“… orang tidak menanggung dosa orang lain yang berdosa …” (QS al-An’âm/6: 164)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa salahnya si mayit adalah karena ia meminta keluarganya untuk menangisinya seperti dijelaskan pada wanita yahudi ini :

Telah menceritakan kepada kami Ishaq, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abdullah bin Abi Bakar, dari ayahnya, dari Amrah bahwasanya dia telah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Aisyah dan diceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berkata:

إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَىِّ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَغْفِرُ اللَّهُ لأَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَمَا إِنَّهُ لَمْ يَكْذِبْ وَلَكِنَّهُ نَسِىَ أَوْ أَخْطَأَ إِنَّمَا مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى يَهُودِيَّةٍ يُبْكَى عَلَيْهَا فَقَالَ « إِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ عَلَيْهَا وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ فِى قَبْرِهَا ».

“Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan orang yang masih hidup.” Maka Aisyah berkata; “Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Sesungguhnya dia tidak berdusta hanya saja kemungkinan dia lupa atau salah, bahwasanya Rasulullah SAW pernah melewati seorang wanita yahudi yang minta ditangisi, maka Rasulullah bersabda: “Mereka menangisinya, padahal dia (wanita yahudi) betul-betul tengah di siksa dikuburnya.” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dari ‘Amrah binti Abdurrahman, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz VI, hal. 107, hadits no. 23802). Wanita Yahudi itu dikatakan minta ditangisi, maka ia disiksa karenanya

Ada ulama lain yang menjelaskan bahwa di masa hidupnya sang mayit tidak berpesan atau berwasiat kepada keluarganya agar jangan menangisinya. Si mayit disiksa karena ia tidak mengajarkan aqidah kepada keluarganya. Salah satu yang menjelaskan seperti ini adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Sedangkan Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa maksud “disiksa” di sini bukanlah azab kubur atau azab akhirat, melainkan sang mayit menjadi tersiksa atau bertambah sedih mengetahui keluarga yang ditinggalkannya menangisi atau meratapi kematiannya.
Senada dengan itu Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa maksud disiksa di sini bukanlah disiksa sebagaimana jika ia berbuat salah. Melainkan si mayit merasa susah dan tersiksa karena sedih mengetahui keluarganya meratapinya atau tidak mengikhlashkan kepergiannya. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah s.a.w yang bermakna: “Perjalanan jauh adalah sebagian dari siksaan” Orang yang bepergian tidak benar-benar disiksa melainkan ia tersiksa memendam rindu karena jauh dari keluarga (Ar Rûh li Ibn al-Qayyim, hal. 166)

Apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah ini berdasarkan penjelasan Aisyah r.a. ketika ditanya oleh Ibnu Abbas r.a. mengenai hadits “mayat disiksa karena tangisan” ini.

Ibnu Abbas r.a. berkata, ‘Pada waktu Umar sudah wafat, aku menyebutkan hal itu kepada Aisyah r.a., lalu ia berkata:

رَحِمَ اللَّهُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا حَدَّثَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ لَيُعَذِّبُ الْمُؤْمِنَ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَلَكِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ اللَّهَ لَيَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَقَالَتْ حَسْبُكُمُ الْقُرْآنُ {وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى} قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عِنْدَ ذَلِكَ وَاللَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ وَاللَّهِ مَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا شَيْئًا.

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Umar. Demi Allah, Rasulullah tidak bersabda bahwa Allah menyiksa orang-orang mukmin karena ditangisi keluarganya. Akan tetapi, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang kafir itu semakin bertambah siksanya karena ditangisi keluarganya.’ Cukup bagimu al-Qur’an (QS al-Fâthir/35: 18) yang mengatakan, ‘Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.’ Ibnu ‘Abbas berkata seketika itu pula: Dan Allahlah yang menjadikan seseorang tertawa dan menangis.” Berkata Ibnu Abu Mulaikah: “Demi Allah, setelah itu Ibnu ‘Umar tidak mengucapkan sepatah kata pun.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 101, hadits no. 1288)

Lalu bagaimana jika ia sudah berpesan dan sudah mengajari keluarga agar jangan menangisinya namun keluarganya tetap menangisinya? Bagaimana jika ia telah mengajari keluarganya dengan agama yang benar, namun tetap saja keluarganya meratapinya, apakah ia tetap disiksa? Tentu saja penjelasan seperti ini kurang memuaskan.

Rasulullah SAW Menjelaskan Bahwa Mayat Tidak Disiksa Karena Air Mata

Penjelasan mengenai maksud hadits di atas bahwa mayat disiksa karena tangis keluarganya maksudnya bukanlah karena tangisannya itu sendiri melainkan karena lisan yang mengumpat, meratap, dan mengucapkan perkataan kekufuran yang mengingkari takdir atau mempertanyakan keadilan Allah akibat ditinggal oleh orang yang dicintainya:

اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ فَقَالَ : قَدْ قَضَى؟ قَالُوا: لاَ يَا رَسُولَ اللهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَكَوْا فَقَالَ أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ، وَلاَ بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ ، أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ ، وَكَانَ عُمَرُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَضْرِبُ فِيهِ بِالْعَصَا وَيَرْمِي بِالْحِجَارَةِ وَيَحْثِي بِالتُّرَابِ.

“Ketika Saad bin Ubadah sedang sakit, Nabi SAW menjenguknya bersama ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abu Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. Ketika Beliau menemuinya, Beliau mendapatinya sedang dikerumuni keluarganya, Beliau bertanya: “Apakah ia sudah meninggal?”. Mereka menjawab: “Belum, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi SAW menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi SAW menangis, mereka pun turut menangis, maka Beliau bersabda: “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengazab dengan tangisan air mata, tidak dengan hati yang bersedih, namun Dia mengazab dengan ini, ” lalu Beliau menunjuk lidahnya, atau dirahmati (karena lisan itu) dan sesungguhnya mayat itu diazab disebabkan tangisan keluarganya kepadanya”, seraya ‘Umar r.a. memukul tanah dengan tongkat, melempar batu dan menumpahkan tanah.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Umar r.a., Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 106, hadits no. 1304)

Pada hadits di atas, ‘jelas’ bahwa menangis dan hati yang sedih itu adalah sesuatu yang manusiawi, maka Rasulullah SAW pun menangisi orang yang meninggal. Namun tidak boleh rasa sedih itu hingga menyebabkan keluar perkataan yang kufur seperti mencerca Allah, menyangkal adanya takdir kematian, menuduh Allah tidak adil dan lain sebagainya.
Kalaupun keluarganya meratap dan menjerit jerit menangisi kepergian mayat hingga keluar kata-kata kekufuran hal itu tidak menyebabkan mayat disiksa melainkan maksudnya ialah: “mayat tersebut semakin tersiksa (sedih) mendengar keluarganya sampai mengeluarkan kata-kata yang sedemikian rupa”.

Rasulullah SAW Mendiamkan Orang Yang Menangis

Terbukti di saat yang lain Rasulullah SAW mendiamkan saja orang yang menangisi mayat orang yang meninggal,

جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لاَ يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم تَبْكِينَ، أَوْ لاَ تَبْكِينَ مَا زَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ.

“Jabir bin ‘Abdullah r.a. berkata: Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi SAW tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis. Maka Nabi SAW bersabda: “Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiasa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya“. (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 91, hadits no. 1124)

Rasulullah SAW pun Menangis

Bahkan Nabi pun menangis ketika meninggalnya Ibrahim anak laki-laki beliau dari Maria Qibthiyyah,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ، وَكَانَ ظِئْرًا لإِبْرَاهِيمَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

“Dari Anas bin Malik r.a. (dia berkata): “Kami masuk bersama Nabi pada Abu Saif al-Qain (si pandai besi), suami wanita yang menyusui Ibrahim (anak laki-laki Rasulullah dari hasil perkawainan Beliau dengan Maria Qibtihiyah). Lalu, Rasulullah mengambil Ibrahim dan menciumnya. Sesudah itu kami masuk kepadanya dan Ibrahim mengembuskan napas yang penghabisan. Maka, air mata Rasulullah mengucur. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata kepada beliau, ‘Engkau (menangis) wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Wahai putra Auf, sesungguhnya air mata itu (tanda) kasih sayang.’ Kemudian air mata beliau terus mengucur. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya air mata mengalir, dan hati pun bersedih. Namun, kami hanya mengucapkan perkataan yang diridhai oleh Tuhan kami. Sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.‘” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 105, hadits no. 1303)

Demikian pula Beliau (Nabi Muhammad) SAW menangis ketika meninggalnya puteri kecil beliau,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ شَهِدْنَا بِنْتًا لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: وَرَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ- قَالَ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ قَالَ، فَقَالَ: هَلْ مِنْكُمْ رَجُلٌ لَمْ يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَنَا قَالَ فَانْزِلْ قَالَ فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا

“Dari Anas bin Malik r.a. (dia berkata), “Kami menyaksikan puteri Rasulullah. Ia berkata, ‘Rasulullah duduk di atas kubur. Lalu aku melihat kedua mata beliau berlinang. Dia (Anas bin Malik radliallahu ‘anhu) berkata, maka beliau bertanya: “Siapakah di antara kalian yang malam tadi tidak berhubungan (dengan isterinya)?”. Berkata Abu Thalhah: “Aku”. Beliau berkata: “Turunlah engkau ke lahad!”. Dia (Anas bin Malik r.a.) berkata,: “Maka beliau pun ikut turun kedalam kuburnya.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 100, hadits no. 1285)

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ ابْنَةً لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ وَهُوَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَعْدٌ وَأُبَيٌّ نَحْسِبُ أَنَّ ابْنَتِي قَدْ حُضِرَتْ فَاشْهَدْنَا فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا السَّلَامَ وَيَقُولُ إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ مُسَمًّى فَلْتَحْتَسِبْ وَلْتَصْبِرْ فَأَرْسَلَتْ تُقْسِمُ عَلَيْهِ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقُمْنَا فَرُفِعَ الصَّبِيُّ فِي حَجْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَفْسُهُ جُئِّثُ فَفَاضَتْ عَيْنَا النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ مَا هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ وَضَعَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ وَلَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ إِلَّا الرُّحَمَاء

“Dari Usamah bin Zaid (dia berkata), “Puteri Nabi mengirimkan utusan kepada beliau. (Dalam satu riwayat: Aku berada di sisi Nabi, tiba-tiba datang utusan salah seorang puteri beliau dengan membawa pesan) bahwa anaknya meninggal (dalam satu riwayat: menghembuskan napas yang penghabisan), maka datanglah kepadanya (jenazah puteri Beliau). Maka, beliau mengirimkan utusan untuk menyampaikan salam dan pesan, “Sesungguhnya bagi Allah apa yang diambil-Nya dan bagi-Nya apa yang diberikan-Nya. Segala sesuatu di sisi-Nya dengan waktu yang tertentu, maka bersabarlah dan mengharapkan pahala.” Kemudian ia (puterinya) mengutus kepada beliau seraya bersumpah agar beliau mendatanginya. Lalu, Nabi SAW berdiri bersama Sa’d bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, (Ubadah bin Shamit), dan beberapa orang lagi. Lalu dibawalah anak itu kepada Nabi (kemudian beliau dudukkan dia (jenazah itu) dipangkuan Beliau), sedang napasnya tersengal-sengal (menahan sedih) seolah-olah girbah ‘tempat air’ dari kain usang yang kering, lalu kedua mata Beliau berlinang. Sa’ad berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah ini?” Beliau bersabda, “Ini adalah kasih sayang yang dijadikan oleh Allah dalam hati hamba-hamba Nya (yang dikehendaki-Nya), dan Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Usamah bin Zaid, Shahîh al-Bukhâriy, juz VII, hal. 152, hadits no. 5655)

Begitu pula Beliau menangis ketika meninggalnya kerabat Beliau atau Sahabat Beliau,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ فَقَالَ : قَدْ قَضَى؟ قَالُوا : لاَ يَا رَسُولَ اللهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بَكَوْا فَقَالَ أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ ، وَلاَ بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ، أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ، وَكَانَ عُمَرُ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَضْرِبُ فِيهِ بِالْعَصَا وَيَرْمِي بِالْحِجَارَةِ وَيَحْثِي بِالتُّرَابِ.

“Abdullah bin Umar r.a. (dia berkata), “Sa’ad bin Ubadah mengeluhkan sakitnya. Lalu Nabi datang menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud. Ketika beliau masuk kepadanya, ia sedang dikerumuni keluarganya. Nabi SAW bertanya, ‘Sudah meninggal?’ Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rasulullah.’ Lalu Nabi menangis. Ketika orang-orang melihat beliau menangis, mereka pun menangis pula. Beliau bersabda, ‘Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak menyiksa karena air mata dan hati yang sedih, tetapi Allah menyiksa atau mengasihani karena ini.’ Seraya menunjuk ke lidah beliau, atau dirahmati (karena lisan itu) dan sesungguhnya mayat itu diazab disebabkan tangisan keluarganya kepadanya” Seraya ‘Umar r.a. memukul tanah dengan tongkat, melempar batu dan menumpahkan tanah.“ (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Umar, Shahîh al-Bukhâriy, hadits Shahîh al-Bukhâriy, hadits no. 1221)

وَقَالَ عُمَرُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ، أَوْ لَقْلَقَةٌ وَالنَّقْعُ التُّرَابُ عَلَى الرَّأْسِ وَاللَّقْلَقَةُ الصَّوْتُ.

“Umar bin Khattab r.a. berkata, “Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala dan tidak berteriak-teriak’” (Hadits Mauquf, Riwayat al-Bukhari dari Abu Buraidah dari Ayahnya, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 102, hadits no. 1290)

Menangis Boleh Tapi Yang Dilarang Adalah Meratapi dan Meraung

Jadi sebenarnya yang dilarang bukanlah menangis karena sedih melainkan meraung-raung dan meratapi sehingga mengeluarkan kata-kata yang tidak diridhai Allah.

Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ.

“Sesungguhnya air mata mengalir, dan hati pun bersedih. Namun, kami hanya mengucapkan perkataan yang diridhai oleh Tuhan kami. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, 105, hadits no. 1303)

عَنْ عَبْدِ اللهِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ.

“Dari Abdullah (bin Mas’ud) r.a. (dia berkata): Nabi s.a.w bersabda, “Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek leher baju, dan berseru dengan seruan jahiliyah.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 103, hadits no. 1295)

وَقَالَ عُمَرُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، دَعْهُنَّ يَْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ، أَوْ لَقْلَقَةٌ وَالنَّقْعُ التُّرَابُ عَلَى الرَّأْسِ وَاللَّقْلَقَةُ الصَّوْتُ.

“Umar bin Khattab r.a. berkata: “Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala dan tidak berteriak-teriak.” (Hadits Mauquf, Riwayat Bukhari dari Abu Burdah dari Ayahnya, Shahîh al-Bukhâriy, II, 102, no, 1290)
Maka Rasulullah SAW pun mengijinkan menangis seperlunya namun melarang meratapi mayat terlebih jika sampai memukul dada dan merobek pakaian atau melukai diri. Hal ini sering dilakukan wanita Arab sejak jaman dulu. Jika ini terjadi, maka Nabi menyuruh untuk menghardik bahkan melempar batu atau melempar pasir kepada orang yang meratap.

عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ لَمَّا جَاءَ قَتْلُ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ وَجَعْفَرٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ رَوَاحَةَ جَلَسَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُعْرَفُ فِيهِ الْحُزْنُ وَأَنَا أَطَّلِعُ مِنْ شَقِّ الْبَابِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ نِسَاءَ جَعْفَرٍ وَذَكَرَ بُكَاءَهُنَّ فَأَمَرَهُ بِأَنْ يَنْهَاهُنَّ فَذَهَبَ الرَّجُلُ ثُمَّ أَتَى فَقَالَ : قَدْ نَهَيْتُهُنَّ وَذَكَرَ أَنَّهُنَّ لَمْ يُطِعْنَهُ فَأَمَرَهُ الثَّانِيَةَ أَنْ يَنْهَاهُنَّ فَذَهَبَ ثُمَّ أَتَى فَقَالَ وَاللَّهِ لَقَدْ غَلَبْنَنِي ، أَوْ غَلَبْنَنَا الشَّكُّ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ حَوْشِبٍ – فَزَعَمَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : فَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ التُّرَابَ فَقُلْتُ أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَكَ فَوَاللَّهِ مَا أَنْتَ بِفَاعِلٍ وَمَا تَرَكْتَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْعَنَاءِ.

“’Aisyah r.a. berkata, “Ketika berita terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah Ibnu Rawahah sampai kepada Nabi, beliau duduk dan tampak sedih, dan aku melihat dari balik pintu. Lalu, datanglah seorang laki-laki seraya mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya isteri Ja’far meratapi kematian suaminya. Lalu, beliau menyuruh untuk melarang mereka, maka laki-laki itu pergi. Kemudian datanglah ia (untuk kedua kalinya) seraya berkata, ‘Aku telah melarang tetapi mereka tidak menaatinya.’ Beliau menyuruhnya lagi untuk melarangnya. Kemudian lelaki itu pergi (untuk melarangnya). Lalu, ia datang lagi (untuk ketiga kalinya) seraya berkata, ‘Demi Allah, mereka mengalahkanku. Maka, aku menduga bahwa Beliau bersabda, ‘Taburkanlah debu ke dalam mulut mereka.’. Aku berkata kepada laki-laki itu: “Semoga Allah menyumpal hidungmu karena belum melaksanakan apa yang Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam perintahkan, serta kamu (membiarkan) tidak meninggalkan Rasulullah SAW dari kondisinya yang lelah dan kesusahan”. (Hadits Riwayat al-Bukhari dari ‘Aisyah r.a., Shahîh al-Bukhâriy, II, 106, hadits no. 1305)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim, Rasulullah SAW justru menyatakan bahwa Allah tidak mengazab mayit disebabkan tangisan atau perasaan sedih dari orang yang ditinggalkannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ وَجَدَهُ فِى غَشِيَّةٍ فَقَالَ « أَقَدْ قَضَى ». قَالُوا لاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَبَكَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَكَوْا فَقَالَ « أَلاَ تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلاَ بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا – وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ – أَوْ يَرْحَمُ ».

“Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Sa’ad bin Ubadah pernah mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya, sehingga Rasulullah bersama Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud menjenguknya. Ketika beliau hendak masuk ternyata ia sedang dikerumuni keluarganya, maka beliau pun bertanya: “Apakah ia telah meninggal dunia?” Para sahabat menjawab, “Belum wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah SAW meneteskan air mata. Melihat beliau menangis, para sahabatpun ikut menangis. Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Dengarkanlah oleh kalian, sesungguhnya Allah tidak mengazab seseorang karena disebabkan tangisan atau perasaan sedih (dari orang yang ditinggalkannya) akan tetapi Dia mengazab karena disebabkan oleh ini (beliau memberi isyarat pada lisannya), atau Dia akan mengasihinya.” (Hadits Riwayat Muslim dari, Shahîh Muslim, juz III, hal. 40, hadits no. 2176)

ذُكِرَ عِنْدَ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَفَعَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ فَقَالَتْ إِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّهُ لَيُعَذَّبُ بِخَطِيئَتِهِ وَذَنْبِهِ وَإِنَّ أَهْلَهُ لَيَبْكُونَ عَلَيْهِ الآنَ.

“Diceritakan di hadapan ‘Aisyah r.a. bahwa Ibnu ‘Umar r.a. menganggap bahwa Nabi SAW telah bersabda: “Bahwa orang yang telah mati akan disiksa di dalam kuburnya disebabkan tangisan keluarganya”. Maka ‘Aisyah r.a. berkata; “Tidak begitu. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seseorang disiksa karena kesalahan dan dosanya dan sesungguhnya keluarganya menangisinya sekarang.“ (Hadits Riwayat al-Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair, Shahîh al-Bukhâriy, juz V, hal. 98, hadits no. 3978)

سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ، حِينَ مَاتَ رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ: إِنَّ بُكَاءَ الْحَيِّ عَلَى الْمَيِّتِ عَذَابٌ لِلْمَيِّتِ، فَأَتَيْتُ عَمْرَةَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهَا، فَقَالَتْ : قَالَتْ عَائِشَةُ: إِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَهُودِيَّةٍ: إِنَّكُمْ لَتَبْكُونَ عَلَيْهَا، وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ ، وَقَرَأَتْ: {وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى}.

“Ketika Rafi’ bin Khudaij meninggal dia mendengar Ibnu Umar telah menjelaskan bahwa tangisan ratapan terhadap mayit adalah siksa bagi mayit. Lalu saya mendatangi Amrah dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Aisyah berkata; “Oh kok begitu, hanyasanya Rasulullah SAW pernah berkomentar saat kematian wanita yahudi ‘ Sungguh kalian akan menangisi wanita yahudi itu, padahal ia tengah disiksa.’ Lalu (Aisyah) membaca; wa lâ taziru wâziratuwwizra ukhrâ (Seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain)”. (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Amrah binti ‘Abdur Rahman, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz VI, hal. 39, hadits no. 24161). Semua perawi hadits ini tsiqah (bisa dipercaya)

Maka dalam versi hadits di atas, duduk masalah nya adalah seolah salah dengar atau salah tangkap terhadap sabda Rasulullah SAW sedangkan sabda yang benar bahwa sang mayat sedang disiksa kubur sementara keluarganya menangisinya jadi bukan ditambah siksanya karena tangisan keluarganya.

عَبْدُ اللهِ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: تُوُفِّيَتِ ابْنَةٌ لِعُثْمَانَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، بِمَكَّةَ وَجِئْنَا لِنَشْهَدَهَا وَحَضَرَهَا ابْنُ عُمَرَ ، وَابْنُ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم ، وَإِنِّي لَجَالِسٌ بَيْنَهُمَا، أَوْ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى أَحَدِهِمَا ثُمَّ جَاءَ الآخَرُ فَجَلَسَ إِلَى جَنْبِي فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لِعَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ أَلاَ تَنْهَى، عَنِ الْبُكَاءِ فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ. فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَدْ كَانَ عُمَرُ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ بَعْضَ ذَلِكَ ثُمَّ حَدَّثَ قَالَ صَدَرْتُ مَعَ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، مِنْ مَكَّةَ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ إِذَا هُوَ بِرَكْبٍ تَحْتَ ظِلِّ سَمُرَةٍ فَقَالَ اذْهَبْ فَانْظُرْ مَنْ هَؤُلاَءِ الرَّكْبُ قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا صُهَيْبٌ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ادْعُهُ لِي فَرَجَعْتُ إِلَى صُهَيْبٍ فَقُلْتُ ارْتَحِلْ فَالْحَقْ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَمَّا أُصِيبَ عُمَرُ دَخَلَ صُهَيْبٌ يَبْكِي يَقُولُ وَاأَخَاهُ وَاصَاحِبَاهُ فَقَالَ عُمَرُ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَا صُهَيْبُ أَتَبْكِي عَلَيَّ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا مَاتَ عُمَرُ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقَالَتْ رَحِمَ اللَّهُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا حَدَّثَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ لَيُعَذِّبُ الْمُؤْمِنَ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَلَكِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: إِنَّ اللَّهَ لَيَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَقَالَتْ حَسْبُكُمُ الْقُرْآنُ {وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى} قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عِنْدَ ذَلِكَ وَاللَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ وَاللَّهِ مَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا شَيْئًا.

“’Abdullah bin ‘Ubaidullah bin Abu Mulaikah berkata; “Telah wafat isteri ‘Utsman r.a. di Makkah lalu kami datang menyaksikan (pemakamannya). Hadir pula Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas r.a. saat itu aku duduk di antara keduanya”. Atau katanya: “Aku duduk dekat salah satu dari keduanya”. Kemudian datang orang lain lalu duduk di sampingku. Berkata Ibnu ‘Umar r.a. kepada ‘Amru bin ‘Utsman: “Bukankan dilarang menangis dan sungguh Rasulullah SAW telah bersabda: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya?”. Maka Ibnu ‘Abbas r.a. berkata,: “Sungguh ‘Umar r.a. pernah mengatakan sebagiannya dari hal tadi”. Kemudian dia menceritakan, katanya: “Aku pernah bersama ‘Umar r.a. dari kota Makkah hingga kami sampai di Al- Baida, di tempat itu dia melihat ada orang yang menunggang hewan tunggangannya di bawah pohon. Lalu dia berkata,: “Pergi dan lihatlah siapa mereka yang menunggang hewan tunggangannya itu!”. Maka aku datang melihatnya yang ternyata dia adalah Shuhaib. Lalu aku kabarkan kepadanya. Dia (“Umar) berkata,: “Panggillah dia kemari!”. Aku kembali menemui Shuhaib lalu aku berkata: “Pergi dan temuilah Amirul Mu’minin”. Kemudian hari ‘Umar mendapat musibah dibunuh orang, Shuhaib mendatanginya sambil menangis sambil terisak berkata,: Wahai saudaraku, wahai sahabat”. Maka ‘Umar berkata,: “Wahai Shuhaib, mengapa kamu menangis untukku padahal Nabi s,a,w, telah bersabda: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan sebagian tangisan keluarganya“. Berkata, Ibnu ‘Abbas r.a.: “Ketika ‘Umar sudah wafat aku tanyakan masalah ini kepada ‘Aisyah r.a., maka dia berkata,: “Semoga Allah merahmati ‘Umar. Demi Allah, tidaklah Rasulullah SAW pernah berkata seperti itu, bahwa Allah pasti akan menyiksa orang beriman disebabkan tangisan keluarganya kepadanya, akan tetapi yang benar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah pasti akan menambah siksaan buat orang kafir disebabkan tangisan keluarganya kepadanya”. Dan cukuplah buat kalian firman Allah) dalam al-Qur’an (QS al-An’âm/6: 164) yang artinya: “Dan tidaklah seseorang memikul dosa orang lain”. Ibnu ‘Abbas r.a. berkata seketika itu pula: Dan Allahlah yang menjadikan seseorang tertawa dan menangis” (QS al-An’âm/6: 164). Berkata Ibnu Abu Mulaikah: “Demi Allah, setelah itu Ibnu ‘Umar r.a. tidak mengucapkan sepatah kata pun“. (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Abdulllah bin Ubaidillah bin Abu Mulaikah, Shahîh al-Bukhâriy, juz II, hal. 101, hadits no. 1286-1288)

Maka jelaslah di sini bahwa menangis karena kematian keluarga atau kerabat atau sahabat itu adalah sesuatu yang ‘manusiawi’; yang dilarang adalah meratapi dan mengucapkan kalimat yang tidak semestinya kepada Allah. Misalnya mengatakan bahwa Allah tidak adil, mengapa dia yang diambil bukan aku saja, atau kalimat lain yang mengingkari ‘takdir’, atau – dengan kata lain – menunjukkan ketidak-relaan.

Wallâhu A’lamu bish-Shawâb.