Berbagi Catatan Erwin Daryanto, Rabu,19/03/2014 15:09 WIB: “Jokowi dan Kisah Petruk Jadi Ratu”

ERWIN DARIYANTO – detikNews

Jakarta – Di terassebuah rumah di Desa Karangkadempel yang sejuk ki Lurah Petruk tengah duduksambil menyantap rujak jeruk. Rujak racikan sang istri dinikmati sambilmenghisap sebatang rokok kretek kesukaanya.

Puntung rokok di tangan terjatuh saat dari balikdinding terdengar sayup-sayup pekik kata, ‘Merdeka!’. Rupanya kata itudiucapkan oleh salah satu Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan PuanMaharani dan disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi.

Pandangan Petruk yang semula ke arah pematang sawah didepan rumah, kini beralih ke ruang tamu. Di ruangan mungil itu sang istrinampak serius menyaksikan siaran televisi. “Dukung Bapak Joko Widodo sebagaicalon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,” kata Puan yangmembacakan titah dari sang Ibu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Pandangan Petruk kembali berpaling dari televisi.Rokok yang terjatuh dia pungut kembali. Dihisapnya dalam-dalam rokok yangtinggal separuh batang itu. Asapnya mengepul menyusup melalui celah-celahjemari tangan, lalu melayang melintasi wajahnya yang gosong akibat terlalu seringterpapar sinar matahari.

Ingatan Ki Petruk kini kembali ke masa puluhan tahunsilam. Saat itu dia secara tidak sengaja mendapat ‘mandat’ berupa tiga wahyukeprabon. Tiga wahyu tersebut adalah wahyu Maningrat yang menyebarkan bibitratu, wahyu Cakraningrat sebagai penjaga ratu, dan wahyu Widayat yang melestarikanhidupnya sebagai ratu.

Ketiga wahyu tersebut semestinya singgah sementara ditubuh Abimanyu. Nantinya wahyu akan diserahkan ke Parikesit sebagai pewaris tahtakerajaan Hastina Pura setelah Pandhawa pergi. Parikesit adalah putra Abimanyu.

Sayang karena saat itu Abimanyu tengah sakit, ketigawahyu tersebut pergi dan hinggap di tubuh Petruk. Ki Petruk pun menjadi ratu disebuah kerajaan yang dia beri nama Lojitengara dengan gelar Prabu Wel-GeduwelBeh

Namun rupanya untuk menjadi seorang raja tak cukupbermodal ketiga wahyu tersebut. Petruk memerlukan singgasana kerajaan HastinaPura. Maka diperintahlah kedua patih Lojitengara, Bayutinaya, Wisandhanu untukmencurinya.

Tahta berhasil dicuri dan dibawa ke Lojitengara.Namun Prabu Wel-geduwel Beh gagal, setiap hendak duduk di atas singgasana, diaterjungkal. Melalui penasihat kerajaan, Petruk mendapat bisikan agar mencarisebuah boneka yang harus dia gendong saat duduk di singgasana.

Bayutinaya dan Wisandanu kembali diperintahkanuntuk mencari boneka tersebut. Kedua patih berhasil membawa sebuah ‘boneka’.Rupanya boneka tersebut adalah Abimanyu yang sedang sakit. Saat dipangku PrabuWel-Geduwel Beh itulah Abimanyu sembuh dari sakitnya. Petruk sadar tak bisamenduduki tahta kerajaan tanpa memangku Abimanyu, orang yang berhak atas tigawahyu ‘keprabon’ Hastina Pura.

Lamunan Petruk pun terhenti saat api dari rokokyang dia pegang menyulut ujung telunjuknya. Dia kembali terngiang ‘titah’Megawati di layar televisi tadi yang memberikan mandat kepada Joko Widodo(Jokowi) menjadi calon presiden. Petruk menerjemahkan perintah Megawatitersebut sebagai penunjukkan Jokowi sebagai ‘raja’, yang akan memimpin negeriini. Dia pun tak keberatan, karena selama ini sedah merasakan sentuhankepemimpinan Jokowi.

Namun ada dua hal yang mengganjal di hatinya.

Pertama, keikhlasan Megawati selalu ketua umumpartai yang menurut seorang politisi menjadi boarding pass calonpresiden. Apabila tidak ikhlas tentu di kemudian hari Mega akan meminta’imbalan’ atau bahkan mengungkit jasa-jasanya itu kepada Jokowi. Petrukberharap Megawati ikhlas memberi mandat kepada Jokowi.

Ganjalan kedua, adalah soal indepedensi Jokowisaat nanti duduk di singgasana. Keraguan Petruk ini setelah melihat dua harisebelum ‘titah’ dibacakan, Jokowi secara mendadak mau ikut Megawati ‘nyekar’ kemakam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Padahal saat itu adalah jam kerja diaselaku gubernur.

Petruk hanya berharap jika nanti benar-benarmenjadi raja, Jokowi tak lagi sekadar menurut pada perintah Megawati. Karenasetelah menjadi raja, Jokowi tak hanya menerima mandat dari Megawati, melainkanseluruh rakyat.

Lamunan Petruk kembali terhenti. Dari balik tembokterdengar sayup tembang, ‘Sinom Rujak Jeruk’ yang membuatnya mengantuk.

Jak rujak rujak rujak jeruk

Sepincuk nggo tombo ngantuk

Nora mathuk, ndilalah tansah kepethuk

Jak rujak rujak rujak uni

Rujake wong edi peni

Tubuh Ki Petruk merebah, di atas dipan bambu diatertidur saat matahari belum sepenuhnya tenggelam di ufuk barat.

*) Erwin Dariyanto adalah jurnalis di detikcom. Tulisan inimewakili pendapat pribadi, bukan pendapat institusi di mana penulis berkarya.

 

(http://news.detik.com/read/2014/03/19/150927/2530507/103/1/jokowi-dan-kisah-petruk-jadi-ratu.Diakses, Selasa 8 Juli 2014)