Berceramah tentang ‘kesabaran’ jauh lebih mudah daripada memraktikkannya dalam sikap dan perilaku.

Ini terbukti ketika ‘saya’ tengah membaca sebuah tulisan yang ditulis dengan ‘nalar’ yang acak-acakan. Banyak informasinya, tetapi tidak tertata.

Tetapi, dengan sedikit bersabar, akhirnya saya bisa menangkap gagasan yang dimaui oleh penulisnya.

Dan, selanjutnya saya bisa menulis sebuah artikel tentang ‘puasa’ yang saya tulis dengan perspektif baru: “memuasai syahwat politik dalam konteks keindonesiaan”. Cuma, hasilnya masih berupa draft yang masih sangat kasar.

Masih ada waktu untuk menyelaraskannya!