Berdoalah, Allah pun Akan Mengabulkan

Tidak sedikit orang yang ‘kecewa’, karena merasa bahwa doa-doanya tak pernah dikabulkan. Padahal Allah telah berjanji akan mengabulkan setiap doa para hambanya. Mengapa hal itu terjadi? Dan apa sikap terbaik kita?

Berdoa, pada hakikatnya adalah melaksanakan perintah Allah. Karena Allah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu pun telah berfirman, ‘Berdoalah (kalian) kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS al-Mu’min, 40: 60).

Ayat ini menjelaskan tentang kewajiban kita untuk berdoa, dan tentang hak Allah untuk mengabulkan doa para hamba-Nya. Oleh karenanya, agar doa-doa kita terkabul, sudah barang tentu ‘kita’ seharusnya melaksanakan kewajiban kita dengan sebaik-baiknya. Sedangkan perkara hak Allah, yakni apakah akan mengabulkan doa kita atau tidak, sepantasnya kita serahkan sepenuhnya kepada-Nya.

Rasulullah SAW pernah bersabda,

مَامِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْثَرُ.

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu di antara tiga hal: doanya segera dikabulkan, akan disimpan baginya di akhirat, atau dirinya akan dijauhkan dari keburukan yang senilai dengan permohonan yang dipintanya.” Para shahabat pun berkata, “Kalau begitu, kami akan banyak berdoa.” Rasulullah menanggapi, “Allah lebih banyak (untuk mengabulkan doa kalian).” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abu Sa’id al-Khudriy, Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz III. Hal. 18, hadits no. 11149).

Oleh sebab itu, yang terpenting bagi kita adalah mengetahui definisi doa, syarat-syarat berdoa, dan adab-adabnya dengan sebaik-baiknya. Doa yaitu menampakkan kerendahan diri kepada Allah seraya mengajukan permohonan, mengharap kebaikan yang ada di sisi-Nya, mengharap terkabulnya keinginan, dan selamat dari hal-hal yang mengkhawatirkan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan, “doa termasuk obat yang paling mujarab, karena doa adalah musuh bala bencana, menghadangnya dan mengobatinya, menghalangi turunnya dan menghilangkannya atau meringankannya, dan doa adalah senjata orang yang beriman.”
Kalau Anda menginginkan agar ‘doa’ Anda terjawab, berdoalah kepada Allah semata-mata. Janganlah sekali-kali berdoa kepada selain Allah.

Bertawasullah (berdoa kepada Allah melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita, atau pun melalui orang-orang shaleh yang kita anggap memunyai posisi lebih dekat kepada Allah) kepada-Nya dengan tawasul yang sesuai syariat. Berbaik sangkalah kepada-Nya. Janganlah tergesa-gesa ingin dikabulkan. Selain itu, makanlah makanan (juga minumlah minuman) yang halal dan baik.

Dan yang tak kalah penting adalah: “berdoalah dengan khusyu’, mulailah dengan memuji-Nya (mengucapkan hamdalah), bershalawatlah kepada Rasulullah SAW, bersucilah dari hadas dan najis, rendahkanlah suaramu, dan yakinkan kepada dirimu bahwa Allah selalu mendengar permohonanmu, dan pada saat yang tepat akan mengabulkan doamu dengan pilihan yang terbaik (dari-Nya) untukmu. Dan janganlah sekali pun berputus asa untuk tetap memohon kepada-Nya, kapan pun dan di mana pun Anda berada.”

Wallâhu a’lamu bish-Shawâb.