BERGURU PADA KEHIDUPAN

“tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira (ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadîd, 57: 22-23)

Sesungguhnya, kehidupan adalah guru kita untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Di kala sedang terhimpit kesulitan, kita bisa belajar darinya: bagaimana agar kita di masa mendatang bisa terhindar dari kesulitan dan bagaimana kita akan menghadapi kesulitan jika itu terjadi lagi. Atau, bagaimana bersikap yang terbaik ketika kemalangan tak terelakkan.

Begitupun, ketika kita memperoleh anugerah suatu kebahagiaan. Seharusnya kita bisa memetik pelajaran dari kebahagiaan tersebut. Bagaimana kita bisa memperoleh kebahagiaan untuk hari esok dan bagaimana cara kita untuk mengungkapkan suatu kebahagiaan agar kita terlindung di jalan Allah SWT.

Tidak hanya sebatas itu, yang bisa kita jadikan sebagai guru dalam kehidupan. Tetapi, semua yang ada dalam kehidupan ini bisa kita jadikan guru untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Tak terkecuali satu tarikan napas untuk melangsungkan kehidupan kita. Karena itu, mengandung suatu pembelajaran bagi kita dalam mengatur hidup, makna sebuah rasa syukur, menghargai hal yang terlihat sepele, dan sebagainya.

Dan, masih ada satu lagi guru kehidupan tak kalah penting untuk kita sadari dalam kehidupan, yaitu kematian. Satu kejadian yang tak mungkin kita hindari dengan cara apa pun, ketika sudah sampai saatnya Allah SWT menghendaki Karena, dengan mengingat kematian, kita bisa menghargai betapa nikmatnya waktu hidup yang singkat ini sehingga kita harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Bersyukur untuk bisa menghargai waktu.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Âli ‘Imrân, 3: 185:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Semoga dengan ini kita tergolong sebagai orang yang beruntung dan senantiasa menjadikan kehidupan sebagai guru untuk mengarungi bahtera kehidupan yang berliku. Selalu menjadi muslim dalam suka dan duka. Menjadi pribadi-pribadi muslim yang hakiki, kapan pun, di mana pun dan dalam situasi dan kondisi apa pun.

Insyâallâh.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta