Berhati-hatilah Terhadap Sang Ruwaibidah

Saya — penulis — pernah menulis sebuah artikel di Majalah “Suara Muhammadiyah”  mengenai “Fenomena Ruwaibidhah Kontemporer”. Tidak penulis duga sebelumnya, ternyata tulisan ini mendapatkan perhatian dan komentar yang sangat banyak dan beragam.

Saya katakan, bahwa pada suatu kesempatan Rasulullah s.a.w. pernah memberikan ‘warning’ (peringatan dini) kepada umatnya agar berhati-hati terhadap Ruwaibidhah, simbolisasi seseorang yang ‘berlagak pakar, padahal tidak memiliki otoritas untuk berfatwa. Dia, bak “tong kosong” (yang) — dalam terminologi ‘Aidh al-Qarni — disebut sebagai: al-Ahmaq, seorang yang bodoh namun tidak sadar akan kebodohannya, maka dia lebih tepat disebut sebagai orang ‘pandir’, dan inilah yang disebut oleh para ulama sebagai “Jâhil Murakkab” (orang yang sangat bodoh).

Seorang Ruwaibidhah akan selalu mencitrakan diri sebagai seorang pakar, memerankan dirinya sebagai ‘pengumbar fatwa’ yang berdusta atas nama kebenaran, yang karena kepiawainnya membangun citra dan kehebatan retorikanya, dirinya menjadi (seolah-olah) ‘Sang Maestro’ pada bidangnya. Karena di’blow-up’ oleh berbagai media, pendapatnya dikutip oleh para muqallid (pengikut setianya)-nya dengan satu keyakinan bahwa apa pun yang dikatakannya selalu benar, atau minimal lebih otoritatif dari siapa pun yang sebenarnya lebih memiliki otoritas dalam bidangnya.

Saya katakan, bahwa sampai detik ini pun ‘Para Ruwaibidhah’ ini masih banyak berkeliaran dan menebar pesona, dan pengikutnya pun luar biasa banyak dan cukup fanatik.

Apakah ini merupakan pertanda bahwa ‘taqlid-buta‘ semakin membudaya?