SUATU saat, dalam suasana malam yang diliputi mendung, Prabu Duryudana bersama gurunya Begawan Durna dan senopatinya –Sengkuni — tengah menerima tamu Patih Brajadenta dari Ksatrian Glagahtinunu.

Kedatangan Brajadenta adalah untuk meminta nasihat kepada Raja Astina, tentang bagaimana dia seharusnya bersikap, karena sebentar lagi Gatotkaca, putra Bima dan Arimbi, akan segera dinobatkan menjadi Raja Pringgondani. Sebenarnya dia tidak perlu begitu, karena dulu ketika kakaknya Prabu Arimba (Penguasa Pringgondani sebelumnya), dikalahkan oleh Bima, kemudian Bima menikahi Arimbi yang merupakan kakaknya juga, Brajadenta beserta adik-adiknya (Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana), telah (pernah) bersumpah untuk menyerahkan Kerajaan Pringgondani kepada kakak perempuannya itu, dengan sebuah ucapan: ”Mongso borongo, aku tak manut sopo sing dadi panguasa Pringgondani mengkone.”

Begawan Durna dan Sengkuni kemudian menghasut hati dan pikiran Brajadenta, bahwa dialah sebenarnya yang berhak memegang tampuk kerajaan Pringgondani, bukannya Gatotkaca yang hanya anak dari kakak perempuannya, Arimbi. Begawan Durna menceritakan bagaimana perang dengan ayah pandawa (Prabu Pandu), menewaskan Prabu Tremboko, ayah dari Brajadenta. Kemudian ditambah cerita patih Sengkuni tentang Werkudoro yang membunuh kakak mereka tertua Prabu Arimba, dan memanas-manasi bahwa Arimbi malah membelot — menikah — dengan Werkudoro. Karena dipanas-panasi (diprovokasi) Brajadenta tambah marah dan bersumpah ‘akan’ merebut tahta Pringgondani.

Niat Brajadenta untuk merebut tahta Pringgondani ditentang adik-adiknya, terutama Brajamusti dan Kala Bendana. Karena mereka telah terikat oleh sumpah, maka mereka harus ‘netepi kautamaning ksatriya’. Mereka berdua berkata: “Kakang Brajadenta, rupaku wis buto elek, di sio-sio lan dielek elek manungso, nanging aku emoh nek kelakuan lan solah tingkahku yo elek, kakang. Aku netepi kautamaning ksatriya, kakang. Aku emoh melu tumindakmu.

Iyo kakang, aku wis suwe awor kowe, weruh kelakuanmu lan tumindakmu kang netepi kautamaning ksatria, lan ngerti sopo sakjatine kowe kakang, la kok awor karo Durna lan Sengkuni sedino wae kowe iso malih arep tumindak netepi angkara murko, kakang. Kata adiknya kala Bendana. Brajadenta marah, ditundung pergi lah kedua adiknya dari hadapannya, bahkan dia berkata “Yo wis, nek ngono sesuk menowo ono perang gedhe antarane aku lawan kowe, ojo wigih-wigih karo aku, ojo mbok anggep aku kakangmu, ning anggepen aku mungsuhmu, dadi parang muko”

Dan akhirnya Brajadenta pun mulai memberontak bersama pasukannya. Dia mulai menuju Pringgondani, ingin merebut tahta kerajaan, dibantu pasukan dari Astina.

Di kerajaan Pringgondani sedang terjadi Pisowanan Agung, dipimpin Kresna, Raja Dwarawati, dihadiri para pendawa dan raja raja sekutunya. Hari itu adalah hari pengukuhan Gatotkaca sebagai raja Pringgondani, yang kemudian mendapat gelar “Prabu Anom Gatotkaca”. Sebelum pengukuhan Kresna sudah bertanya, apakah segala sesuatunya sudah sesuai dengan yang diharapkan, dan tidak terjadi silang sengketa atas tahta ini, sekarang dan nanti di kemudian hari? Bagaimana dengan paman paman Gatotkaca nantinya, apa mereka rela? Kemudian dijawab Arimbi, semua sudah setuju!

Setelah pengukuhan, datanglah Brajamusti dan Kala Bendana dengan tergopoh gopoh. “Ketiwasan kakang mBok Arimbi, kakang Brajadento ngamuk punggung arep ngrebut tahta pringgondani, wis tekan alun-aluning Pringgondani. Dengan pelan Kresna berkata “Nuwun sewu para sesepuh, sumawana adhi-adhi kula Pandhawa, mugi sampun ngantos sami tumut-tumut sabiyantu prakawis ingkang gawat kaliwat punika. Awit sadaya ingkang badhe kedadosan mangke naming prakawisipun kulawarga Pringgandani. Kula lan panjenengan sami punika tamu”. Mendengar perkataan Kresna, Arimbi ‘duka yayah sinipi’ (marah) dan segera keluar paseban menuju alun-alun untuk menghadang langkah Brajadenta

Setelah bertemu Brajadenta dengan marah Arimbi berkata: “E … e …, teka becik banget tumindakmu kowe Brajadenta, olehmu ngatonake regeding bebuden lah watakmu. Kowe gelem nyengkuyung purunanmu Gathutkaca apa ora? Yen ora klakon dakjuwing-juwing kuwandamu dina iki!”

Aku njaluk meneh tahta Pringgondani. Ora perduli karo sumpah. Yen kakang mbok ngalangi anteping karepku, aku ora wedi lan ora bakal ‘gela’ dadi sebab tewas lan matining kakang mbok. Hayoh kene! Kata Brajadenta.

Dan perang hebat pun terjadi antara keduanya. Para prajurit bubar melihat kedua trah Pringgondani bertarung.

Kresna pun bertanya kepada Bima:

“Werkudara, sapa sing padha tukaran kae Werkudara?” “Arimbi karo Brajadenta,” Jawab Bima.

“Ngreti nek bojone gelut karo adhine mbok dipisah! Mengko yen Arimbi mati piye?”

“Mati ya dipendhem!” Wis mongso bodhoa, wong iki perkarane wong Pringgondani, ora arep melu-melu, aku arep turu!

“Wee, lha dalah, yen Arimbi mati bojone isih loro. Saiki Gathutkaca, ngger ibumu dipilara pamanmu, lha kok kowe meneng wae?”

“Kanjeng Rama kemawon mboten wantun ngaten kok, Wa Prabu!”

“Hla, piye, sing direwaringi nganti kaya ngene iku kowe jare. Lanangmu endi Gathutkaca?”

Mendengar keluhan Kresna, Gatotkaca pun dengan terpaksa menghadang langkah pamannya Brajadenta, sebelum terlaksana langkah Gatotkaca dihadang oleh Brajamusti.

“Ngger anakmas, kowe ra bakalan menang lawan kakang Brajadenta, isomu menang kudu ngorbanake salah sawijining pilar kerajaan lan mung aku sing weruh pengapesane kakang Brajadenta, mugo soko iku aku bakal manjining ono epek epek mu kang tengen. Namung kowe ojo kaget lamun sakmengko ono kedadeyan kang nganeh-nganehi.” Mendengar itu Gatotkaca pun mengiyakan karena ia menduga yang dimaksud pilar kerajaan adalah benar benar pilar bangunan ‘Kraton’.

Akhirnya berperanglah Gatotkaca dan Brajadenta, pamannya sendiri.

Perkelahian berlangsung seru dan hebat.

Suatu ketika Brajadenta ‘leno’ (lengah), dan terkenalah pukulan tepat di kepalanya oleh tangan kanan Gatotkaca yang telah disusupi ‘sukma’ Brajamusti.

Bersamaan itu Brajadenta tewas. Kemudian secara tiba-tiba sukma di tangan kanan Gatotkaca keluar dan mengerang kesakitan. Tanpa diduga tanpa dinyana, Brajadenta dan Brajamusti kedua pamannya meninggal bersamaan, mati sampyuh!

Gatotkaca menangisi mayat kedua pamanya.

Lama kelamaan jasad kedua pamannya itu mengecil, lalu masuk ke dalam tangan kanan dan kiri Gatotkaca, menjadi sebuah ‘entitas’ keilmuan. Dan keilmuan itu dikenal dengan keilmuan Brajadenta dan Brajamusti.

Pelan-pelan terdengar suara sukma sang paman, Brajadenta. “Ngger anakmas, mangertio sakjatine aku ora benci lan sengit marang sliramu, aku nguji kaprawiranmu lan kasektenmu kang bakal mimpin Pringgondani sakmengkone, lan iki sakjatine wis dadi pepesthen uripku lan adhi Brajamusti. Aku lan adihi bakal nglindungi awakmu sakwayah wayah mbok butuhke aku ono ning kiwo lan tengen tanganmu dadi Ajian Brajadenta lan Ajian Brajamusti.

Sementara itu sisa pasukan pemberontak yang didukung Astina dapat dipukul mundur. Dan Brajalama akhirnya diangkat menjadi patih baru bergelar Patih Prabakiswa.

Intisari Pelajaran:

  • Sopo salah, seleh. Pandito Durno menghasut orang menuju jalan kejahatan, dan kejahatan tidak akan menang melawan kebaikan dan kebenaran, kapan pun dan di mana pun.
  • Teguh janji apa pun yang terjadi. Brajamusti dan Kala Bendana menepati sumpahnya mengabdi kepada Gatotkaca selaku raja Pringgondani, meski harus berhadapan dengan kakaknya sendiri.
  • Menjadi pimpinan harus berani, melindungi rakyat, mengambil resiko dan mempertanggung jawabkannya. Gatotkaca berani melawan pamannya sendiri, karena dia raja yang harus mengayomi rakyatnya dari tindak angkara murka, meski harus membunuh pamannya sendiri

Tancep Kayon

Bagi penggemar ‘pertunjukan wayang kulit’, pasti mengenal istilah Tancep Kayon. Arti sebenarnya adalah: “menancapkan kayon”, yaitu wayang yang merupakan simbol gunungan. Makna simbolisnya adalah perpindahan adegan, misalnya, dari kisah para ksatria Pandawa menjadi kisah para Kurawa. Namun tancep kayon juga bisa bermakna ‘pertunjukan selesai’. Penonton ‘harus’ pulang dengan kesan masing-masing.

Karena wayang adalah gambaran “bhuwana alit” atau dunia yang kecil, dalam “bhuwana agung” atau kisah keseharian umat manusia, begitu banyak ada kisah yang silih berganti. Namun, intinya (substansinya) ‘tetap’, yaitu perang antara kebenaran dan ketidakbenaran. Lakon Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) versus Polisi Republik Indonesia (Polri) – misalnya — hanyalah sebuah contoh. Tokohnya banyak, yang mendompleng ‘ingin’ menjadi tokoh juga banyak. Di satu sisi ada AS, BW, APD dan Z dan di sisi lain ada BG dan kawan-kawannya. Di seberangnya ada Presiden, Ketua Partai, Para Menteri dan sejumlah Pemangku Kepentingan. Lalu di antara dua sisi itu ada ‘Tim Independen dan Para Pengacara’ dan masih banyak ‘pendekar’ lainnya, baik yang terang-terangan memihak salah satu maupun (secara) sembunyi-sembunyi.

Tiba-tiba tancep kayon, setidaknya diniatkan begitu. Lalu siapa yang benar dan salah? Tak ada yang benar-benar “jelas”, karena yang terpenting adalah: “Kecanggihan Sang Dhalang”.

Tradisi pergelaran memang demikian. Penonton dibiarkan “pulang” dengan pikiran mengambang, tergantung bagaimana dia melihat pertunjukan itu. AS, BW, APP dan Z boleh saja ‘merasa galau’ karena perkara mereka sudah pasti akan berlanjut ke pengadilan. BG juga bisa saja ‘merasa menang’, karena berhasil bermain cantik (atau pun mungkin juga tidak secantik yang diharapkan). Polisi juga bisa saja merasa menang karena berhasil mendapatkan berkas (bukti-bukti) lengkap. Bahwa prosesnya di pengadilan nanti seperti apa, semua tentu bisa berkata dengan catra masing-masing, dan bahkan ada yang dengan sombongnya berkata: “Bukti sebenarnya sudah cukup dan lengkap, tetapi ada arahan agar kami tak meneruskan ke pengadilan. Ini bukan salah kami.”
Jadi kasus KPK versus Polisi ini seperti pagelaran wayang kulit, yang bisa berakhir di awang-awang. Penonton yang kritis — karena itu jarang ada orang kritis nonton wayang kulit — yang ingin ada kemenangan dan kekalahan mutlak akan kecewa berat. Kayon sudah ditancapkan.

Tetapi pertunjukan dengan kisah yang lain pasti akan menyusul karena begitulah dunia wayang. Sebentar lagi akan muncul lakon, dan masih banyak lagi. Ini jadi pertunjukan menarik karena pasti penuh dengan dinamika. Kata sederhananya: “serang-menyerang”. Tak mustahil, dengan alasan demi ketertiban masyarakat, kasusnya akan ditutup dengan gaya pergelaran wayang kulit, tancep kayon.
Orang yang tak suka wayang kulit sulit sekali menerima kenyataan kenapa tontonan itu harus dipelototi semalam suntuk, begitu lamban. Persis dengan lakon di dunia nyata, penyelesaiannya amat lamban. Kita kehilangan banyak waktu.

Nah, ke mana kita harus berguru tentang “masalah ketegasan, kecepatan, dan kepastian?” Kita masih punya banyak ‘panggung teater, tidak ‘Cuma’ gaya pagelaran wayang kulit. Termasuk di dalam kisah-kisah sarat hikmah dalam kitab suci al-Quran, yang bisa kita ambil sebagai ‘ibrah yang luar biasa.

(Dikutip dan diselaraskan dari berbagai sumber di situs internet)