Berpikir Kontekstual

Berpikir Kontekstual

Saat Nabi Sulaimaan ‘alaihis-salaam menerima khabar burung dari Hud-hud perihal Ratu Balqis dan kerajaannya, beliau tidak langsung menerima atau menolaknya. Namun beliau menjalankan apa yang diatur dalam syari’at Allah dengan melakukan check dan re-check atau tabayyun dan tatsabbut (meneliti dan memercayai) terhadap khabar tersebut.

Banyak orang yang keliru memahami makna tabayyun dan tatsabbut terhadap penerimaan khabar. Apabila datang seseorang yang dikenal keadilannya atau kejujurannya menyampaikan satu khabar kepadanya, dengan cepat ia membenarkannya dan sekaligus melakukan konsekuensi dari apa yang dipesankan oleh khabar tersebut.

Oleh karena itu, jika ada yang mendebat salah seorang di antara mereka terhadap khabar yang disampaikannya, maka dengan cepat ia menukas: “Telah mengkhabarkan kepadaku seorang yang aku percayai begini dan begitu …”,  seakan-akan urusannya selesai sampai kalimat tersebut tanpa ada celah untuk meragukan atau sekadar menambah yakin terhadap keakuratan berita dengan melakukan penelusuran khabar yang disampaikannya itu. Tentu saja semua hal itu dimungkinkan, karena barangkali khabar yang sampai kepada kita tersebut bertolak belakang dengan apa yang telah kita ketahui sebelumnya atau bertolak belakang dengan khabar yang disampaikan oleh orang selainnya, dan oleh karenanya memerlukan sikap kritis kita.

Meminjam istilah ‘Ulûm al-Hadîts, kewajiban tabayyun dan tatsabbut (check dan re-check) tidaklah bertentangan dengan asas diterimanya khabar dari seorang rawi (periwayat) yang tsiqah (‘âdil dan dhâbith). Akan tetapi ada sebagian khabar yang memang membutuhkan tabayyun dan tatsabbut yang lebih akurat untuk bisa dipercaya dan diterima, termasuk nanti pada saat kita menerima khabar tentang penampakan Hilâl Ramâdhan dan/atau Syawwal, meskipun Rasulullah s.a.w. pernah memercayai kesaksian seorang Badui, yang tentu saja – menurut pendapat beliau – “tsiqahcredible, bisa dipercaya) dalam konteks ruang dan waktu, di mana dan kapan beliau berada.

Yang kita perlukan sekarang dan di masa yang akan dating adalah: “berpikir kontekstual”. Dan jangan selalu terjebak dalam pemikiran ‘tekstual’, apalagi “taqlid buta” (memercayai sepenuhnya tanpa sikap kritis sedikit pun).

Bukankah begitu?

Tags: