Berpolitik Praktis bagi Para Pengusaha, Why Not?”

Ramai-ramai para pengusaha masuk parpol dan terlibat langsung dalam ‘hiruk-pikuk’ politik praktis. Inilah fenomena kontemporer negeri kita tercinta. Ada apa dengan mereka?

Saya, yang ‘sangat awam’ dalam ilmu politik dan dunia politik, apalagi tentang ‘parpol’ dan politik praktis, hanya bisa menduga-duga, bahwa mereka punya keinginan untuk ‘exist’ and ‘attend’. Bahasa gaulnya: “ingin hadir dan dianggap ada”. Oleh karena itu mereka lebih memilih partai kecil atau partai baru. Kalau pilih partai besar, mana mungkin mereka bisa menjadi ‘ruling person’? Bisa-bisa duitnya habis ‘diporotin’ sama makelar politik yang semakin ‘licik’ bermain untuk memanfaatkan para pengusaha dan penguasa dengan tampilan-tampilan kosmetikal mereka.

Mirip dengan para artis yang beberapa dari mereka ternyata juga tak begitu paham dengan apa yang ‘mau’ mereka perbuat. Yang penting ‘ada dan hadir’ di tengah jagat perpolitikan tanpa harus memahami makna kehadirannya. Mereka tengah dimanfaatkan atau memanfaatkan, sampai saya tulis ‘catatan ini’ saya juga belum paham. Yang saya mengerti mereka nampak berser-seri dalam penampilannya. Apalagi ketika diwawancarai oleh para ‘kuli tinta’, apalagi ketika diwawancarai secara eksklusif di ‘Layar Kaca’. Heboh dan ‘Narsis’, itulah komentar beberapa teman saya, meskipun kadang-kadang kelihatan ‘culun’-nya.

Para pengusaha pun tidak semua cukup cerdas untuk bermain. Karena sebagian dari mereka lebih banyak dipermainkan daripada memainkan peran pentingnya di ‘parpol’ yang nereka masuki. Alih-alih dapat kue kekuasaan. Dapat ‘sisa-kue’ itu pun sudah untung, karena mereka ‘nggak’ begitu paham dengan permainan politik yang sarat dengan ‘kebohongan’.

Nah, oleh karenanya, saya sering mengingatkan kepada mereka [murid-murid ‘ngaji’ saya, yang kebetulan juga ada sebagian yang menjadi pengusaha] untuk bersikap hati-hati dan ‘cerdas’ untuk melibatkan diri dalam dunia perpolitikan yang ‘sarat’ dengan ‘hypocrisy’ itu. Meskipun tidak semuanya ‘begitu’. Agar kita tidak terjebak dalam ‘kubangan’ gincu retorika para makelar dan penguasa yang ‘ingin’ memanfaatkan diri kita tanpa alas ‘kejujuran dan keterbukaan’ untuk beramal saleh pada diri kita yang telah banyak berbuat baik bagi diri mereka.

Selamat berpikir, berkontemplasi dan berbuat sesuatu dengan ‘penuh tanggung jawab’, sebagaimana peringatan Allah dalam QS al-Isra’/17: 36,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

Kepada para ‘pengusaha’, sahabat-sahabat saya yang akan, tengah dan telah ‘terjun’ dalam kubangan aktivitas politik praktis, mari kita amalkan ‘ruh’ ayat ini dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah selalu berkenan memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita semua.

Amien.