BERPUASA, UNTUK APA?

Oleh: Muhsin Hariyanto

Jawaban halal-haram tentang persoalan kehidupan, meskipun masih diperlukan, ternyata tidak seluruhnya mengobati rasa dahaga umat, termasuk di dalamnya: “problematika puasa”. Pertanyaan orang tentang puasa tidak terbatas pada keinginan orang untuk mendapatkan jawaban tentang  halal-haram. Lebih jauh dari itu, umat Islam sudah sampai pada pertanyaan tentang “untuk apa” kita berpuasa. Pertanyaan aksiologis tentang puasa dari sejumlah muslim kritis ini memerlukan jawaban lebih dalam daripada sekadar jawaban-jawaban yang selama ini banyak dikemas dalam buku-buku pedoman puasa pada umumnya. Saatnya umat Islam, kini berpuasa untuk menjadi “khairu ummah” (umat  yang terbaik)!

Ketika kita telusuri dalam kitab-kitab tafsir, syarah hadis, fikih dan – utamanya – kitab-kitab yang bernuansa tasawuf, perintah berpuasa dengan keragaman bentuk dan cara, ternyata memiliki tujuan sama: “membangun kualitas diri (ketakwaan)”, dengan pola: “pengendalian syahwat”.

Terkait dengan puasa sebagai upaya pengendalian syahwat, Ibnu Katsir — dalam kitab tafsirnya — mengatakan, sejak Nabi Nuh a.s. hingga Nabi Isa a.s. puasa diperintahkan untuk dilakukan tiga hari setiap bulannya (layaknya puasa sunnah ayyâm al-bîdh bagi umat Islam hingga kini). Bahkan, Nabi Adam a.s. diperintahkan untuk tidak memakan buah khuldi, yang ditafsirkan sebagai bentuk ‘puasa’ pada masa itu. Begitu juga Nabi Musa a.s. bersama kaumnya (juga) berpuasa empat puluh hari. Dalam QS Maryam dinyatakan Nabi Zakaria a.s. dan Maryam sering mengamalkan puasa. Nabi Daud a.s. pun melaksanakannya dengan cara “sehari berpuasa dan sehari berbuka” pada tiap tahunnya. Nabi Muhammad s.a.w. sendiri – sebelum diangkat menjadi Rasul — telah mengamalkan puasa tiga hari setiap bulan dan turut mengamalkan puasa ‘Asyura yang jatuh pada hari ke-10 bulan Muharram bersama masyarakat Quraisy yang lain.

Konon, bahkan masyarakat Yahudi yang tinggal di Madinah pada masa itu turut mengamalkan puasa ‘Asyura. Begitu pula, binatang dan tumbuh-tumbuhan (juga) dinyatakan “melakukan puasa” demi kelangsungan hidupnya. Selama mengerami telur, ayam harus berpuasa. Demikian pula ular, berpuasa baginya untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ulat-ulat pemakan daun pun berpuasa, jika tidak ia tak kan lagi menjadi kupu-kupu dan menyerbuk bunga-bunga. Jika berpuasa merupakan sunnah thabî’iyyah (natural tradition, tradisi yang alami) sebagai langkah untuk tetap survive,

Kini, pertanyaan lanjutnya, mengapa manusia enggan melakukannya? Terlebih lagi jika perintah untuk berpuasa diembankan kepada umat Islam – meminjam pernyataan Nurcholish Madjid (1997), tentu saja memiliki makna tersendiri. Karena, ternyata puasa, bagi setiap muslim, bukan saja bermakna menahan dari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, melainkan merefleksikan diri untuk turut-serta hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, memusnahkan kecemburuan sosial serta melibatkan diri dengan sikap tepa-selira dengan menjalin hidup dalam kebersamaan, serta melatih diri untuk selalu peka terhadap lingkungan.

Rahasia-rahasia puasa, ketika simak dalam kajian tafsir al-Quran, ternyata ada pada kalimat terakhir yang teramat singkat pada ayat QS al-Baqarah, 2: 183. Di dalam ayat tersebut Allah SWT mengakhiri ayat tersebut dengan rangkaian kata “la’allakum tattaqûn (agar kalian bertakwa)”, yang esensinya adalah “harapan”, sekaligus “kepastian” perolehan kemampuan setiap pelakunya untuk memroteksi diri dari segala bentuk nafsu-kebinatangan yang menganggap ‘perut besar’ sebagai agama, menjaga jati-diri kemanusian dan sifat-kodrati manusia dari perilaku — layaknya — binatang. Dengan puasa, manusia dapat menghindari diri dari bentuk perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang (di dunia) atau nanti (di akherat),

Dalam hal (ibadah) puasa, Islam “memandang sama” derajat manusia. Mereka yang memiliki sejumlah besar uang dolar, atau yang mempunyai sedikit uang recehan rupiah, atau bahkan orang yang tak memiliki sepeserpun, tetap merasakan hal yang sama, antara lain: “lapar dan daahaga”. Jika (ibadah) shalat dicita-citakan dapat menghapus citra arogansi (kecongkakan) individual manusia, dan – oleh karenanya — diwajibkan bagi setiap insan muslim; ibadah haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia, dan diwajibkan bagi yang mampu; maka ibadah puasa diasumsikan sebagai kefakiran total setiap insan (beriman) yang bertujuan untuk mengetuk sensitivitas (kepekaaan) manusia dengan metode amaliah (praktis), dan memberitahukan kepada setiap pelakunya (setiap orang yang mengamalkan ibadah puasa) bahwa kehidupan yang benar adalah “berada di balik kehidupan” itu sendiri. Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau manusia “turut merasakan” bersama (berempati), bukan sebaliknya. Manusia dapat mencapai derajat kesempurnaan (insân kâmil) tatkala memiliki sensitivitas satu rasa-sakit, bukan turutserta berebut kue “dunia” dengan cara melampiaskan segala macam dorongan hawa nafsu, bahkan dengan cara merebut setiap hak orang lain dalam rangka memuaskan hawa nafsunya.

Pada bulan puasa tahun lalu, penulis sengaja memaparkan dua buah tulisan pada dua media cetak berbeda, Bernas dan Radar Jogja. Penulis katakan, bahwa (ibadah) puasa – dapat dipahami– memiliki multifungsi. Dan – ketika direnungkan — setidaknya ada tiga fungsi utama (ibadah) puasa yang masing-masing berkaitan: (1) tahdzîb (mengarahkan), (2) ta’dîb (membentuk karakter) dan (3) tadrîb (melatih).

Puasa merupakan sarana untuk mengarahkan, membentuk karakter, serta medium latihan untuk mendidik setiap orang “menjadi manusia paripurna”, yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa, yaitu: “takwa”. Takwa dalam pengertian fungsionalnya adalah: “melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya dalam dua dimensi (horisontal dan vertikal)”. Takwa merupakan wujud kesalehan individual dan sosial, dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, “integral” (menyatu) dan tak dapat dipisahkan.

Dinyatakan oleh para psikolog muslim, bahwa ada ‘sejenis’ kaedah kejiwaan, bahwa ketika “cinta” kepada diri sendiri menggelembung menjadi cinta kepada yang ada di luar dirinya karena Allah, maka  rasa sakit yang diderita orang lain pun akan terasa sakit pada dirinya . Di ketika orang yang berpuasa bisa merasakan rasa lapar dan dahaga yang dialaminya, maka dia pun akan bisa merasakan betapa lapar dan dahaga orang-orang yang tak memiliki makanan dan minuman pelepas lapar dan dahaga akan terus menjadi derita bagi “kaum fakir”. Dan oleh karenanya dia pun akan berpikir: “apa yang seharusnya dilakukan untuk melepaskan rasa lapar dan dahaga mereka”. Dari sinilah solidaritas sosial terbentuk sebagai hikmah dari (ibadah) puasa.

Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras untuk mengonsumsi segala bentuk makanan-minuman haram, melakukan aktivitas seksual ilegal, menambah penyakit hati dengan ucapan dan tindakan dosa. Dengan instrumen lapar dan dahaga, pengendalian syahwat terpadu, (dalam berpuasa) kita diharapkan dapat merasakan betapa derita mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari dan mereka yang tengah berperang mealawan hawa-nafsu di berbagai aspek kehidupan, termasuk para politisi kita yang tengah berjihad melawan “thaghut” (sesuatu yang bukan Tuhan, namun di saat tertentu kadang-kadang lebih dimaknai sebagai “tuhan” daripada “Tuhan Yang Sesungguhnya”) . Puasa adalah sebuah manhaj, cara praktis melatih diri, dan dan – tentu saja – kepekaan nurani kemanusiaan kita.

Terkait dengan cinta kita kepada sesama, dalam upaya kita untuk menyempurnakan ibadah kita kepada Allah, adakah cara yang lebih efektif untuk melatih “cinta” daripada berpuasa? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua manhaj yang saling terkait: yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang mengejutkan. Jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai “al-mubasysyir (sang pembawa berita gembira)” dan al-muyassir (pemberi kemudahan). Sebaliknya, bila justeru “kebencian” yang tercipta karena kita lupa untuk “berpuasa”, maka  hubungan kemanusian antarkita bisa jadi menjadi sangat “anergis”, antarmanusia dan komunitas akan tercipta konflik berkepanjangan. Setiap manusia bahkan akan bisa menjadi “serigala” bagi yang lain.

Dengan berpuasa secara benar, (misalnya) al-Aghniyâ’ (orang yang memiliki kemampuan berbagi) yang hatinya selalu diasah dengan “puasa”-nya , telinga-jiwanya akan mampu mendengarkan rintihan suara al-Fuqarâ’ (orang-orang yang membutuhkan uluran tangan) yang selalu merintih dalam kepedihan. Ia tidak serta-merta mendengar itu sebagai suara “pemohon bantuan”, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh dan direspon makna tangisnya dengan kelembutan hati “Sang Dermawan”, yang selalu bersedia untuk membantu dengan uluran tangan-keikhlasan.. Al-Aghniyâ’ akan memaknai itu semua sebagai pengabdian yang tulus kepada Allah, dengan fondasi îmân wa ihtisâb (beribadah dengan ikhlas hanya untuk Allah semata). Semua tindakan di pelbagai aspek kehidupan hanya akan dilakukan “karena Allah”, karena setiap hamba akan selalu sadar bahwa “hanya Dia” (Allah)-lah “Sang Pemilik” segalanya dan tujuan dari semua pengharapannya.

Simpulan pentingnya, ketika kita sudah menjadi “seseorang” yang bermakna dengan kesempurnaan puasa kita, ketika kita mampu dan berkesempatan untuk berbuat sesuatu untuk sesama, kenapa kita tidak berpikir dan segera berbuat untuk menolong siapa pun untuk menjadi “seseorang seperti diri kita?” Dan, saat ini, di ketika hampir semua orang membutuhkan uluran tangan kita, “kita tak boleh menunggu”. Kita harus sadar, bahwa kita tidak hanya dibebani untuk menjadi baik untuk diri kita sendiri, tetapi juga berkewajiban untuk “bersedekah”, menjadikan orang lain sebaik diri kita,  dan bahkan, kalau mingkin, lebih dari itu!

Selamat berpuasa, untuk menjadi “Yang Pertama dan Utama” dalam berlomba untuk bersinergi, menjadi yang terbaik untuk diri kita bersama, menjadi “khairu ummah” (umat yang terbaik).

Fastabiqû al-khairât.

Penulis adalah Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta