Bersatu Atau Bekerja Sama?

Presiden PKS Tifatul Sembiring membuat tulisan bagus di Republika (26/12/08) berjudul ”Bisakah Umat Bersatu”. Dalam tulisan itu diuraikan sejumlah peristiwa tragis perpecahan umat Islam di berbagai pelosok bumi dari berbagai kurun waktu.

Bang Tifatul bertanya, bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah? Saling menjalin tali asih, saling merendah, dan bukannya saling gengsi. Bisakah kita sesama umat berhenti saling mencurigai, mengintai, membelakangi, dan saling menggunjing?

Dia menulis sangat mungkin dan sangat layak umat ini bersatu. Tokoh-tokoh harapan umat sama-sama menduduki posisi strategis. Diharapkan tokoh umat sering bersilaturahim sehingga menghapus syak wasangka. Betapa sejuknya hati umat menyaksikan pemimpinnya kokoh bersatu.

Apakah betul umat Islam sangat mungkin bersatu? Apa makna bersatu yang dimaksud oleh Tifatul Sembiring? Bersatunya organisasi, bersatunya pendapat, atau paham keagamaan, atau bersatunya tujuan?

Keberadaan organisasi Islam yang beragam adalah fakta nyata yang telah berlangsung puluhan tahun, meliputi organisasi masyarakat, organisasi pemuda, organisasi mahasiswa, organisasi politik, dan lain-lain. Ormas terbesar adalah NU (lahir 1926) dan Muhammadiyah (lahir 1912) tetap utuh sepanjang perjalanan kesejarahannya dan bertambah besar. Ada ormas lain yang lebih tua (PSII) masih bertahan walaupun tidak terlalu besar dan tetap utuh.

HMI masih ada dua termasuk HMI MPO. Nahdlatul Wathan kabarnya terpecah, semoga sudah rukun kembali. Al Irsyad terpecah menjadi dua, yaitu Al Irsyad al Islamiyah (berdiri pada 1914) dan Perhimpunan Al Irsyad (berdiri pada 2007). Yang belakangan kabarnya didukung oleh tokoh sebuah kedubes. Perpecahan ini sudah merembet ke tingkat cabang.

Majelis Mujahidin Indonesia, ormas yang tidak terlalu besar, juga terpecah. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir keluar dan mendirikan organisasi baru bernama Anshorut Tauhid. Perpecahan ini konon akibat perbedaan pandangan tentang kepemimpinan.

Orpol adalah organisasi yang paling rentan terhadap perpecahan, tidak hanya partai Islam. Kita perlu melihat kembali peta politik 1955 saat ada dua partai Islam yang besar, yaitu Masyumi dan NU. Ada lagi PSII dan Perti yang kecil. Kalau kita lihat keberadaan parpol Islam atau berbasis massa Islam pada saat ini, dua partai di atas terpecah menjadi beberapa partai.

Partai Masyumi pernah muncul lagi pada 1999 di tambah Partai Masyumi Baru. Kini partai yang dapat dianggap menjadi penerus Masyumi adalah PKS, PBB, PPP, PAN, dan PMB. Yang dapat dianggap sebagai penerus NU adalah PKB, PPP, PKNU, dan PPNUI. PKB  terbelah lagi menjadi dua.

Kondisi itu menunjukkan amat sulit mempersatukan partai-partai Islam. Mungkin seleksi alam melalui pemilu akan membuat partai yang kurang pemilih harus minggir.

Kalau ada beberapa partai kecil (dengan suara sekitar atau di bawah lima persen) dan satu atau dua partai menengah (sekitar 10% atau lebih), belum tentu partai-partai  itu mau  bergabung menjadi dua partai, yang berasas Islam dan berasas Pancasila. Kita juga tidak bisa memaksa mereka untuk bergabung.

Bersatunya paham keagamaan juga tidak mungkin terjadi. Lebih dari 50 tahun lalu Muhammadiyah berdakwah dengan slogan memerangi TBC (takhayul, bid’ah, dan khurafat). Tetapi, kini Muhammadiyah tidak lagi berdakwah anti-TBC. Ada pengelompokan dalam Muhammadiyah berdasar perbedaan paham keagamaan. Prof Munir Mulkhan mengatakan ada empat kelompok, yaitu Muhammadiyah puritan, Muhammadiyah toleran, Muhammadiyah NU, dan Muhammadiyah Abangan.

Kaum muda mendirikan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Kabarnya banyak yang berpikiran liberal tidak boleh menempati posisi dalam kepengurusan Muhammadiyah dan ada yang sudah dinyatakan tidak boleh diundang menjadi khatib Jumat dalam lingkungan Muhammadiyah.

Di NU juga ada perbedaan pendapat walaupun tidak seheboh Muhammadiyah. Kelompok yang berpikir progresif banyak aktif dalam Lakpesdam dan The Wahid Institute. Mereka juga aktif dalam AKKBB yang terlibat bentrok fisik dengan FPI, yang sebagian juga warga NU.

Hal itu dipicu oleh pertentangan pendapat dalam NU dan Muhammadiyah (mungkin juga ormas Islam lain) antara kelompok aktivis pendukung HAM dan kelompok yang punya kecenderungan kuat terhadap syariat Islam. Aktivis HAM itu bermaksud mempertahankan UUD yang menjamin penegakan HAM.

Akan elok kalau perbedaan pendapat itu diselesaikan dengan dialog yang berbudaya tanpa tekanan fisik. Kalau ada pertentangan pendapat yang tidak bisa dijembatani, ya tidak apa-apa, asal tidak diikuti dengan konflik fisik.

Di Jawa Timur hampir setahun lalu muncul buku yang menyerang praktik keagamaan warga NU. Tentu buku itu memicu reaksi keras dari warga NU.

Dalam dialog yang diadakan di IAIN Surabaya, si penulis tidak hadir. Tokoh Muhammadiyah yang memberi pengantar buku itu hadir dan tidak bisa menjawab pertanyaan seorang tokoh NU. Dia lalu meminta maaf dan menyatakan kata pengantarnya itu tidak benar.

Selain itu ada juga serangan serupa secara terbuka melalui radio atau pengajian umum. Dalam suatu pengajian terbuka di depan tak kurang dari 20 ribu orang di Rembang, saya menyatakan silakan orang berbeda pendapat dalam masalah ubudiyah, tetapi jangan saling menyerang apalagi memusyrikkan. Sebuah Hadis Nabi menyatakan: ”Barangsiapa mengafirkan Muslim lain tanpa dasar, maka dia juga kafir.”

Ini masalah lama NU, Persis, dan Muhammadiyah, yang alhamdulillah sudah tidak muncul lagi. Mengapa kini harus dimunculkan lagi?

Silakan masing-masing pihak menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan, tidak perlu mencampuri cara beribadah pihak lain. Kalau ingin menyampaikan dalam pengajian tertutup, tidak ada masalah.

Dalam anggaran dasar NU, tujuan NU adalah berlakunya ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal jama’ah dan mengikuti salah satu madzhab empat di tengah-tengah kehidupan, dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Saya tidak punya data tentang tujuan ormas Islam lain. Tujuan ormas Islam tentu tidak banyak berbeda dengan tujuan NU, tetapi juga tidak sepenuhnya sama. Rasanya tidak perlu ada upaya mempersatukan tujuan itu karena walaupun ada perbedaan sebenarnya tidak ada pertentangan.

Maka dari tiga aspek tersebut (organisasi, pendapat, dan tujuan), terlihat tidak mudah membuat umat bersatu. Juga tidak perlu dipersatukan, biarkan masing-masing tumbuh sesuai dengan kemampuan, kecuali organisasi yang semula satu lalu terpecah.

Yang penting, jangan terjadi pertengkaran terbuka dan perkelahian fisik sesama umat Islam dan sesama organisasi Islam. Kalau ada perbedaan bisa diselesaikan secara baik.

Kita perlu menggarisbawahi tulisan Bang Tifatul : ”Bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah? Saling menjalin tali asih, merendah, dan bukannya saling gengsi. Bisakah kita sesama umat berhenti saling mencurigai, mengintai, membelakangi, dan saling menggunjing?”

Untuk itu, silaturahim antartokoh organisasi Islam di tingkat nasional harus lebih ditingkatkan. Perlu dibicarakan cara mengurangi gesekan dan meningkatkan kerja sama untuk berjihad melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Hal yang sama juga di tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Adakalanya di tingkat atas tidak terjadi gesekan, tetapi di bawah terjadi.

Kuncinya menahan diri apabila timbul masalah. Menahan diri tidak membuat pernyataan di depan umum, melakukan tabayyun, dan mencari jalan keluar bagi kebaikan bersama. Yang juga penting ialah menjaga komunikasi antar para tokoh Islam, jangan menggunakan bahasa yang tajam, kasar, sinis, meremehkan dan memojokkan. Insya Allah umat Islam bisa bekerja sama walaupun tidak bersatu.

Ikhtisar:
–    Umat Islam bisa belajar dari masa lalu.
–    Menahan diri, mencari jalan keluar bersama, dan menjaga komunikasi menjadi kunci kuatnya kebersamaan.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng, “Opini”, Republika, Jumat, 02 Januari 2009)