Di negeri ini, korupsi telah menjadi semacam “rezim predatorí” yang menghisap negara-bangsa hingga sampai ke sumsumnya. “Rezim predatorí” itu memiliki gigi-gerigi, taring dan taji yang sangat ‘ampuh’ untuk menghisap, mengunyah mematuk dan menggasak seluruh aset bangsa dan bahkan menelan hingga seampas-ampasnya. Kesaktiannya mampu menentukan detak jantung dan derap lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, partai-partai politik besar dan para penguasa modal untuk melakukan perampokan spektakuler atas kedaulatan negara-bangsa ini.

Uang negara dan rakyat bertriliun-triliun dalam waktu sangat singkat mereka sikat. Mereka tak lagi memiliki rasa bersalah dan berdosa kepada ratusan juta rakyat yang diringkus kelaparan, kemiskinan, kebodohan dan dikeroyok berbagai penyakit.

Rasanya, tak cukup hanya sekadar mengandalkan hukum untuk menghancurkan rezim korupsi. Kekuatan mereka bukan hanya pada para koruptornya yang powerful, melainkan juga “kultur dan struktur yang korups”. “Kultur dan struktur itu pun telah melahirkan ‘mental korup’ yang kini mewabah bagaikan penyakit menular yang tak tertanggulangi.

Seberapa berdayakah kita — yang tengah berada di pinggiran peradaban ini — untuk melawannya?