Ber’valentine‘: “Untuk Apa?”

 Oleh: Muhsin Hariyanto

 وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isrâ’ [17]: 36)

Hari Selasa, 14 Februari 2012 yang akan datang, hampir dapat dipastikan (untuk menyatakan “niscaya”) banyak anak muda di seputar kita yang ‘terjebak’ dalam budaya yang tak semestinya mereka ikuti. Utamanya bagi kalangan anak muda muslim yang seharusnya memahami makna ‘berbudaya’ dalam koridor syari’at Islam. Bahkan, konon memasuki bulan Februari 2012 ini sudah banyak di antara tempat-tempat hiburan (tak terkecuali ‘tempat hiburan malam’) yang telah menyiapkan acara khusus dalam rangka menyambut Hari Valentine, yang diasumsikan sebagai hari ‘kasih-sayang’ bagi siapa pun yang berkeinginan untuk melabuhkan kasih sayang pada siapa pun, dan juga menyediakan ‘pelabuhan’ kasih sayang  bagi siapa pun yang berkeinginan untuk melabuhkan kasih sayangnya. Ironis, di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini masih saja ‘ada’ sejumlah orang yang berbudaya ‘jahiliyah’, tak mau memahami esensi kasih sayang yang semestinya harus disebarluaskan secara proporsional dalam bingkai ‘syari’at Islam’.

Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day) atau disebut juga “Hari Kasih Sayang”, pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya ‘yang gelap’ sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan dalam artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep semacam ini diciptakan.

Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi (Indonesia: pernyatan-pernyataan; Arab: ma’lûmât) dalam bentuk “valentines” (kasih-sayang). Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah ‘Cupido’ (Inggris: cupid; Indonesia: “Dewa Asmara”) bersayap. Mulai abad  ke-10, tradisi penulisan notisi (pernyataan) cinta mengawali produksi kartu capan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan) di Amerika Serikat memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah ‘Natal’, di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat,mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa ‘bunga mawar’ dan ‘cokelat’ . Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai memromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan.

Sebuah ‘kencan’ pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya Valentine itu merupakan hari ‘percintaan’, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal ‘percintaan’ dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat, hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum ‘cinta platonik’ “Happy Valentine’s“, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.

Di negeri kita tercinta – Indonesia —  ini,  di setiap menjelang dan pada tanggal 14 Februari – di setiap tahun berganti – selalu ada ‘pemandangan’ yang seharusnya tak pernah ada dan terjadi di negeri umat Islam ini, dan seharusnya menimbulkan tanda tanya besar bagi setiap muslim yang ada di seluruh belahan negeri ini, ketika di sejumlah ‘toko swalayan’ – misalnya — menyediakan “bunga- bunga berwarna-warni”, yang didominasi warna “merah”,  dan sejumlah kartu ucapan selamat yang umumnya berlogo cheo pad (dewa cinta dalam keyakinan orang romawi kuno), di berbagai hotel dan restoran mewah hampir pasti menyediakan paket valentine, bahkan siaran radio dan televisi disusun sedemikian rupa untuk memeriahkan hari valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari itu.

Penulis sempat bertanya: “apakah ini tradisi yang semestinya dilestarikan oleh umat Islam?” Sambil bergeleng-geleng kepala, ketika penulis menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan ke dalam ‘lap-top’ penulis yang biasanya penulis gunakan untuk menuliskan materi-materi tulisan untuk bahan perkuliahan ini, penulis sempat  bertanya-tanya: “kenapa orang-orang yang mengaku bahwa dirinya beragama Islam itu – dengan sangat bodoh – mengikuti ‘trend’ anak-anak muda (dan bahkan mantan anak-anak muda) non-muslim, yang sebenarnya – sebagai seorang muslim — tak layak berhura-hura  untuk merayakannya? Kenapa mereka dengan serentak mau mengekor orang-orang yang menawarkan budaya ‘rendah’ semacam itu?”

Sejenak penulis mencoba mengunggah materi “sejarah hari valentine” yang ada di beberapa situs internet. Beberapa referensi dalam situs internet itu menjelaskan bahwa “hari valentine” adalah hari kasih sayang bangsa romawi yang menganut kepercayaan “Animisme”,  yang dirayakan semenjak 17 abad yang lalu sebagai ungkapan kasih sayang dewa yang mereka percayai. Peringatan itu – dalam kaca mata sejarah Romawi — berasal dari sebuah legenda bahwa ada seorang yang bernama Romelius (pendiri kota Roma). Dia adalah seorang manusia yang disusui oleh seekor serigala, sehingga ia tumbuh menjadi orang yang berbadan kuat dan berakal cerdas. Bangsa Romawi mengabadikan peristiwa tersebut pada pertengahan bulan Februari dengan prosesi perayaan: “seekor anjing dan domba disembelih, lalu dipilih dua orang perjaka yang berbadan tegap untuk dilumuri tubuhnya dengan darah anjing dan domba. Setelah dilumuri darah anjing dan domba mereka dimandikan dengan air susu. Lalu diarak ke seluruh penjuru kota sambil memegang cambuk yang terbuat dari kulit. Di sepanjang jalan para wanita romawi menyambut hangat lesatan cambuk ke tubuhnya, karena diyakini berkhasiat menyembuhkan penyakit dan mudah mendapat keturunan”. Peristiwa itu – kemudian — dikaitkan dengan kisah seseorang yang bernama Valentine. Dia adalah nama seorang penganut Kristen yang dibunuh oleh Claudius pada tahun 296 M. melalui sebuah penyiksaan karena dia ‘murtad’, berpindah agama dari seorang penganut ‘Animis Romawi’ menjadi seorang Kristiani.

Setelah bangsa Romawi memeluk agama Kristen, mereka tidak membuang tradisi Animis tersebut tetapi menggantinya dengan memperingati hari kematian Valentine sebagai tokoh penyebar cinta dan damai dan prosesi peringatannya dimodifikasi menjadi sebuah tradisi: “pada hari itu (setiap tanggal 14 februari) mereka membuat sebuah perkumpulan massa, lalu menulis nama-nama wanita yang telah memasuki umur nikah pada lembar kertas, lalu digulung. Kemudian dipanggillah seorang pemuda untuk mengambil satu kertas dan membukanya. Nama wanita yang tertulis di kertas tersebut akan menjadi pasangannya selama setahun, andai setelah satu tahun hidup bersama tanpa nikah mereka merasa serasi, mereka pun melanjutkannya dengan pernikahan. Andaikata tidak ada keserasian, maka pada hari valentine tahun mendatang mereka berpisah”.

Perayaan ini ditentang oleh para tokoh agama saat itu dan mereka mengeluarkan larangan memperingatinya karena dianggap merusak akhlak para pemuda dan pemudi. Hingga tulisan ini di‘up-load’, penulis tidak menemukan informasi yang jelas tentang siapa yang menghidupkan kembali ‘tradisi’ ini. Hanya ada beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa di Inggris orang-orang memperingatinya sejak abad XV M.

Lalu (pertanyaannya), menyaksikan budaya “valentine” yang seperti itu, apa sikap kita sebagai muslim?

Ketika kita sadar, bahwa dari asal-usulnya kita ketahui “perayaan hari valentine” adalah suatu upacara suci orang-orang Romawi yang Animis sebagai ungkapan cinta kepada dewa mereka, maka kita bisa — secara sederhana — berkesimpulan bahwa tradisi ini adalah tradisi ‘syirik’, tak ubahnya bagaikan ritual orang-orang Arab penyembah berhala yang mengungkapkan cintanya kepada berhala-berhala yang berada di sekeliling Ka’bah dengan cara mengelilinginya dalam keadaan telanjang tanpa memakai sehelai benang pun sambil bertepuk tangan dan bersiul-siul; Tradisi itu mendapatkan kritik tajam dari Rasulullah s.a.w., yang selanjutnya diluruskan oleh beliau dengan mengedepankan (tawaran) ‘ritual’ thawaf.

Penulis pernah mendengar sebuah komentar dari seseorang yang menyatakan bahwa: “ikut merayakan hari valentine dengan saling berkirim kartu ucapan valentine atau menghadiahkan bunga mawar atau saling berkirim surat cinta atau ikut mengadakan atau hanya sekadar menghadiri acaranya”, hanyalah soal mu’amalah belaka. Jadi, kesimpulannya, hukumnya mubah“.

Benarkah kesimpulan tersebut? Padahal, dalam tradisi itu terkandung beragam unsur madharat, yang antara lain: “orang bisa terjebak dalam ‘syirik’ dalam bentuknya yang sangat jelas”. Belum lagi dampak negatif lainya yang terkait dengan ‘kemaksiatan’ yang bisa terjadi sebagai akibat dari pergaulan bebas yang bisa tercipta dalam lingkungan yang sangat kondusif untuk melahirkan beragam kemaksiatan.

Oleh karena itu, berbagai alasan untuk membolehkannya, ternyata tidak cukup kuat untuk dipegang. Bahkan, dalam rangka untuk menghindari madharatnya, bagi para ‘remaja muslim’ – khususnya — yang masih memiliki hati nurani untuk kembali kepada ajaran Islam, seharusnya berani untuk mengatakan bahwa perayaan “hari valentine” bukanlah sesuatu yang baik untuk dilestarikan, karena ia merupakan perayaan yang bisa bermuara pada “syirik”, baik syirik dalam pengertian hakiki (dalam bentuk pemberhalaan sesuatu) maupun syirik dalam pengertian majazi/kiasan (dalam bentuk mencintai perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan oleh oleh orang yang bersemangat tauhid), dan menjadikannya sebagai perbuatan yang lebih dicintai daripada perbuatan yang seharusnya dilakukan olehnya, dan ‘enggan’ untuk meninggalkannya), yang dalam istilah aqidah sering disebut dengan sebutan “fisq” (kefasikan). Karena, betapa pun gegap-gempitanya perayaan ‘hari valentine’ itu,  ‘anda’ (sebagi muslim) bukanlah orang yang dijamin akan terjaga iman ‘anda’ untuk tetap bersikap istiqamah, “bertakwa” dalam situasi dan kondisi yang tercipta dalam perayaan yang bernuansa “syirik” semacam itu.

Kini, meskipun masih banyak umat Islam yang ikut-serta merayakan “hari valentine” yang disasumsikan sebagai “hari kasih-sayang” ini, sudah saatnya kita alihkan perayaan semacam ini untuk menjadi sebuah acara yang lebih bisa diharapkan ‘memandu’ diri kita “menjadi orang yang selalu bersedia “memelihara dan menuai cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”, dan kemudian kita sebar-luaskan menjadi cinta kepada sesama muslim“.

Semoga – mulai saat ini – kita bisa ber”valentine” karena Allah. Dan oleh karenanya, kita senantiasa berharap: “semoga Allah selalu bersedia menjadikan diri kita menjadi orang yang senantiasa bisa mencintai Allah dan rasul-Nya, dan sekaligus menjadi orang yang mampu untuk saling-bercinta karenaNya, kapan pun dan di mana pun kita berada.

Âmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.

Yogyakarta, 17 Januari 2012

(Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta; Disampaikan pada Pengajian Sabtu Pagi, 17 Januari  2012, di Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta).