Bid’ah: Apa Itu?

Bid’ah: Apa Itu?

A.       Iftitâh

Seringkali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadis Rasulullah shallâllahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya. Tulisan ini — insya Allah — akan sedikit membahas permasalahan bid’ah dengan tujuan agar kaum muslimin bisa lebih mengenalnya sehingga dapat mengetahui hakikat sebenarnya. Sekaligus pula tulisan ini akan sedikit menjawab berbagai kerancuan tentang bid’ah yang timbul beberapa saat yang lalu di website kita tercinta ini. Sengaja kami membagi tulisan ini menjadi empat bagian. Kami harapkan pembaca dapat membaca tulisan ini secara sempurna agar tidak muncul keraguan dan salah paham. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

B.     Agama Islam Telah Sempurna

Perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, syari’at (agama) Islam ini telah sempurna, sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari [syari’at (agama) Islam] yang telah ada.

Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâ’idah [5] : 3)

Seorang mufassir (ahli tafsir) terkemuka -– Ibnu Katsir rahimahullâh -- berkata tentang ayat ini, “Inilah  nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang terbesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga  mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai khâtam al-anbiyâ’ (penutup para nabi), dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau (Nabi Muhammad ) shallallâhu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam haramkan.” (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, pada tafsir QS al-Mâ’idah [5]: 3)

C.    Syarat Diterimanya Amal

Seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat al_Quran,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS al-Kahfi [18] : 110)

Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] selaras dengan ajaran Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (Hadis Riwayat al-Bukhari hadis nomor: 20 dan Muslim nomor: 1718, dari ‘Aisyah r.a.)

Beliau (Nabi Muhammad) shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Hadis Riwayat Muslim, hadis nomor: 1718, dari ‘Aisyah r.a.)

Ibnu Rajab al Hambali mengatakan, “hadis ini adalah hadis yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadis ini merupakan timbangan amalan zhahir (lahir). Sebagaimana hadis innamal a’mâlu bin niyyât [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.” (Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam, halaman 77, Dâr al-Hadîts al-Qâhirah)

Beliau rahimahullâh juga mengatakan: “secara tekstual (manthûq), hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal yang tidak ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tertolak. Secara implisit (mafhûm), hadis ini menunjukkan bahwa setiap amal yang ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tidak tertolak. Jika suatu amalan keluar dari koriodor syari’at, maka amalan tersebut tertolak.

Dalam sabda beliau (Nabi Muhammad) shallallâhu ‘alaihi wa sallam: ‘yang bukan ajaran kami’ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syari’at. Oleh karena itu, syari’atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang. Jadi, apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syari’at dan selaras dengannya, amalan tersebutlah yang diterima. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syari’at, maka amalan tersebut tertolak. (Jâmi’ al-‘ Ulûm wa al-Hikam,  halaman 77-78)

Jadi, ingatlah bahwa sebuah ‘amalan’ (ibadah) dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ‘ikhlas’ dan ‘sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam’. Jika keduaa atau salah satu dari dua syarat ini tidak ada (tidak terpenuhi), maka amalan tersebut tertolak.

D.    Pengertian Bid’ah

1.      Definisi Bid’ah Secara Kebahasaan (Etimologis)

Bid’ah secara bahasa berarti: “membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya”. (Lihat al-Mu’jam al-Wasîth, 1/91, Majma’ al Lughah al-‘Arabiyyah asy-Syâmilah)

Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala,

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS al-Baqarah [2]: 117, al-An’âm [6]: 101), “maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya”.

Juga firman-Nya,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS al- Ahqâf [46]: 9), maksudnya: “aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini”. (Lihat Lisân al-‘Arab, 8/6, Barnâmij al-Muhaddits al-Majaniy – asy- Syâmilah)

2.      Definisi Bid’ah Secara Istilah (Termonologis)

Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh al-Imam asy-Syatibi dalam al-I’tishâm. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen.) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah”.

Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus (dalam pengertian) ibadah dan tidak termasuk di dalamnya (dlam pengertian) adat-istiadat/’urf (tradisi).

Adapun yang memasukkan adat-istiadat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah:

طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ

“Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen.) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat-istiadat/tradisi tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah)”. (Al I’tishâm, 1/26, asy-Syâmilah)

Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullâh mengatakan,

وَالْبِدْعَةُ: مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ

“Bid’ah adalah i’tiqâd (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi al-Kitab dan as- Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmû’ al-Fatâwâ, 18/346, asy- Syâmilah)

Ringkasnya, pengertian bid’ah secara istilah ialah: “suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna”. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh al-Fairuz Abadiy dalam Bashâ’ir Dzawî at- Tamyîz, 2/231, yang dinukil dari Ilm Ushûl Bida’, hal. 26, Dâr ar-Râyah)

Sebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bid’ah secara istilah. Ada yang memakai definisi bid’ah sebagai lawan dari sunnah (ajaran Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Hambali dan az-Zarkasyi. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bid’ah secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, baik yang terpuji dan tercela. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam asy Syafi’i, al ‘Izz bin Abdus Salam, al-Ghazali, al-Qarafi dan Ibn al-Atsir. Pendapat yang lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bid’ah. Dan penjelasan ini akan lebih diperjelas dalam penjelasan selanjutnya. (Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al-Bida’ al-Hâwliyah, Abdullah at-Tuwaijiri, dalam www.islamspirit.com)

Inilah sedikit mukadimah mengenai definisi bid’ah. Dan berikut kita akan menyimak beberapa kerancuan di seputar ‘bid’ah’. Dan penulis akan mengawalinya dengan pembahasan: ‘apakah setiap bid’ah itu sesat?’.

E.    Mengenal Seluk-Beluk Bid’ah: “Berbagai Alasan Dalam Membela Bid’ah” 

Sebelumnya penulis telah menyampaikan sanggahan mengenai “bid’ah hasanah” yang dasarnya adalah dari perkataan Umar ibn al-Khaththab, bahwa sebaik-baik bid’ah yaitu shalat tarawih ini. Berikut kami sajikan beberapa alasan lain dalam membela ‘bid’ah’ dan jawabannya.

1. Mobil, HP dan Komputer termasuk Bid’ah?

Setelah kita mengetahui definisi bid’ah dan mengetahui bahwa setiap bid’ah adalah tercela dan amalannya tertolak, masih ada suatu kerancuan di tengah-tengah masyarakat bahwa berbagai kemajuan teknologi saat ini seperti mobil, komputer, HP dan pesawat dianggap sebagai bid’ah yang tercela. Di antara mereka mengatakan, “Kalau  memang bid’ah itu terlarang, kita seharusnya memakai unta saja sebagaimana di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Menurut kami, perkataan ini muncul karena tidak memahami bid’ah dengan benar.

Perlu sekali ditegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan bid’ah yang tercela sehingga membuat amalannya tertolak adalah ‘bid’ah dalam agama’ dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia yang tidak ada contoh sebelumnya seperti komputer dan pesawat.

Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non- ibadah (‘adat-istiadat), hukum asalnya adalah tidak terlarang (mubâh) sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (sebagaimana dalam Iqtidhâ’ Shirâth al-Mustaqîm, 2/86) dan ulama lainnya.

Asy-Syatibi juga mengatakan, “Perkara non-ibadah (‘adat-istiadat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah ‘bid’ah’. Namun jika  perkara non-ibadah tersebut dijadikan ‘ibadah’ atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam ‘bid’ah’.” (Al-I’tishâm, 1/348)

Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma –- yang merupakan perkara duniawi –, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ

“Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” (Hadis Riwayat Ahmad dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengomentari bahwa sanad hadis ini shahih atas syarat Muslim)

Kesimpulannya: “Komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela. Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya”.

2.      Para Sahabat Pernah Melakukan Bid’ah dengan Mengumpulkan al-Qur’an

Ada sebagian kelompok dalam membela acara-acara bid’ahnya berdalil bahwa dulu para sahabat — Abu Bakar, ‘Utsman bin ‘Affan, Zaid bin Tsabit — saja melakukan ‘bid’ah’. Mereka mengumpulkan al-Qur’an dalam satu ‘mush-haf’ padahal Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Jika kita mengatakan bid’ah itu sesat, berarti para sahabatlah yang akan pertama kali masuk neraka. Inilah sedikit kerancuan yang sengaja kami temukan di sebuah ‘blog’ di internet.

Ingatlah bahwa ‘bid’ah’ bukanlah hanya (sekadar) sesuatu yang tidak ada di masa Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Bisa saja suatu amalan itu tidak ada di masa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan baru dilakukan setelah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam wafat, dan ini tidak termasuk ‘bid’ah’. Perhatikanlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ Fatâwâ-nya berikut.

“Bid’ah dalam agama adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperintahkan dengan perintah wajib ataupun mustahab (dianjurkan).

Adapun jika sesuatu tersebut diperintahkan dengan perintah wajib atau mustahab (dianjurkan) dan diketahui dengan dalil syar’I, maka hal tersebut merupakan perkara agama yang telah Allah syari’atkan, baik itu dilakukan di masa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam atau tidak. Segala sesuatu yang terjadi setelah masa beliau (Nabi Muhammad) (Nabi Muhammad ) shallallâhu ‘alaihi wa sallam namun berdasarkan perintah dari beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam seperti membunuh orang yang murtad, membunuh orang Khawârij, Persia, Turki dan Romawi, mengeluarkan Yahudi dan Nashrani dari Jazirah Arab, dan semacamnya, itu termasuk sunnah beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam.” (Majmû’ Fatâwâ, 4/107-108, Mawqi’ al-Islâm, asy-Syâmilah)

Pengumpulan al-Qur’an dalam satu ‘mush-haf’ ada dalilnya dalam syari’at, karena Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis al-Qur’an, namun penulisannya masih terpisah-pisah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Iqtidhâ’ Shirâth al-Mustaqîm, 2/97), mengatakan: “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya al-Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu al-Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mush-haf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala al-Qur’an dan syari’at telah ‘paten’/baku/tsâbit, setelah wafat beliau (Nabi Muhammad) shallallâhu ‘alaihi wa sallam; begitu pula al-Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan al-Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut ‘bid’ah’, maka yang dimaksudkan adalah ‘bid’ah’ secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya, pen.).”

Perlu diketahui pula bahwa mengumpulkan al-Qur’an dalam satu mush-haf merupakan bagian dari mashlahah mursalah. Apa mashlahah mursalah itu?

Mashlahah Mursalah adalah sesuatu (kebaikan) yang didiamkan oleh syari’at, tidak ditentang dan tidak pula dinihilkan, tidak pula memiliki nash (dalil tegas) yang semisal sehingga bisa diqiyaskan. (Taysîr ‘Ilm Ushûl al-Fiqh, hal. 184, 186, Abdullah bin Yusuf al-Judai’, Mu’assasah ar-Rayyan). Contohnya adalah: “mashlalat ketika mengumpulkan al-Qur’an dalam rangka menjaga agama” (hifzh ad-dîn). Contoh lainnya adalah: “penulisan dan pembukuan hadis”. Semua ini tidak ada dalil dalil khusus dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, namun hal ini terdapat suatu mashlalat yang sangat besar, yaitu untuk menjaga agama (hifzh ad-dîn)..

Ada suatu catatan penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan mashlahah mursalah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (IqtidhâShirâth al- Mustaqîm, 2/101-103) mengatakan, “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu mashlalat, namun beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah mashlalat. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah (perkara) maksiat, maka perkara tersebut adalah mashlalat.”

Contoh penerapan kaedah Syaikhul Islam di atas adalah: adzan ketika shalat ‘ied. Apakah faktor pendorong untuk melakukan adzan pada zaman beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam ada? Jawabannya: Ada (yaitu beribadah kepada Allah). Namun, hal ini tidak dilakukan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam padahal ada faktor pendorong dan tidak ada penghalang. Pada zaman beliau ketika melakukan shalat ‘ied tidak ada adzân maupun iqâmah. Oleh karena itu, adzan ketika itu adalah ‘bid’ah’ dan meninggalkannya adalah sunnah.

Begitu pula hal ini kita terapkan pada kasus mengumpulkan al-Qur’an. Adakah faktor penghalang tatkala itu? Jawabannya: “Ada”. Karena pada saat itu wahyu masih terus turun dan masih terjadi perubahan hukum. Jadi, sangat sulit al-Qur’an dikumpulkan ketika itu karena adanya faktor penghalang ini. Namun, faktor penghalang ini hilang setelah wafatnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam karena wahyu dan hukum sudah sempurna dan paten. Jadi, mengumpulkan al- Qur’an pada saat itu adalah suatu mashlalat.

Kaedah beliau ini dapat pula diterapkan untuk kasus-kasus lainnya semacam ‘Perayaan Maulid Nabi’, Yasinan, dan ritual lain yang telah membudaya di tengah umat Islam. Apakah amalan itu meruapakn bagian dari ibadah atau sekadar ‘urf/adat-istiadat? Kalau amalan tersebut sekadar ‘urf/adat-istiadat, apakah dikerjakan dalam konteks ibadah atau bukan?

3.       Yang Penting ‘Kan’ Niatnya!

Ada pula sebagian orang yang beralasan ketika diberikan sanggahan terhadap bid’ah yang dia lakukan, “Menurut saya, segala sesuatu itu kembali pada niatnya masing-masing.”

Kami katakan bahwa amalan itu bisa diterima tidak hanya dengan niat yang ikhlas, namun juga harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah kami jelaskan pada pembahasan awal di atas. Jadi, syarat diterimanya amal itu ada dua yaitu [1] niatnya harus ikhlas dan [2] harus sesuai dengan tuntunan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, amal seseorang tidak akan diterima tatkala dia melaksanakan shalat shubuh empat raka’at walaupun niatnya betul-betul ikhlas dan ingin mengharapkan ganjaran melimpah dari Allah dengan banyaknya rukuk dan sujud. Di samping ikhlas, dia harus melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS al-Mulk [67] : 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan shawâb (sesuai tuntunan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam).”

Lalu Al-Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai ajaran Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jâmi’ul ‘Ulum wa al-Hikam, halaman 19)

Sekelompok orang yang melakukan (praktik) ‘dzikir’ yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, mereka beralasan di hadapan Ibnu Mas’ud,

وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.

“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Lihatlah orang-orang ini “berniat baik”, namun cara mereka beribadah tidak sesuai sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Mas’ud menyanggah perkataan mereka sembari berkata,

وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ , وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak dapat mencapainya, sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa ada satu kaum yang membaca al-Qur`an namun tidak melampaui tenggorokan mereka, demi Allah, aku tidak tahu siapa tahu mayoritas mereka adalah dari kalian”, Ia pun lantas berpaling dari mereka. ‘Amr bin Salamah berkata: Kami melihat kebanyakan dari yang berada di kelompok jama’ah dzikir tersebut di hari selanjutnya mencaci-maki kami pada hari (perang) Nahrawan bersama orang-orang khawarij”. (Hadis Riwayat ad-Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadis ini jayyid)

Kesimpulan: Tidak cukup seseorang melakukan ibadah dengan dasar karena niat baik, tetapi dia juga harus melakukan ibadah dengan mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kaedah yang benar “Niat baik semata belum cukup.”

4.       Ini ‘Kan’ Sudah Menjadi Tradisi di Tempat Kami!

Ini juga perkataan yang muncul ketika seseorang disanggah mengenai bid’ah yang dia lakukan. Ketika ditanya, “Kenapa kamu masih merayakan 3 hari atau 40 hari setelah kematian?” Dia menjawab, “Ini kan sudah jadi tradisi kami!”

Jawaban seperti ini sama halnya jawaban orang ‘musyrik’ terdahulu ketika membela kesyirikan yang mereka lakukan. Mereka tidak memiliki argumen yang kuat berdasarkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka hanya bisa beralasan,

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (QS az-Zukhruf [43] : 22)

Setiap tradisi itu hukum asalnya mubâh, “boleh” dilakukan selama tidak bertentangan dengan prinsip (hokum) syari’at dan selama tidak ada unsur ‘ibadah’ (mahdhah) di dalamnya. Misalnya, bersikap santun ketika berbincang-bincang dengan orang yang lebih tua, ini adalah tradisi yang bagus dan tidak bertentangan dengan syari’at. Namun, jika ada tradisi dzikir atau do’a tertentu pada hari ‘ketiga, ketujuh, atau keempat puluh setelah kematian’, maka ini adalah ‘bid’ah’ karena telah mencampurkan-adukkan antara ‘ibadah’ dalam tradisi dan mengkhususkannya pada waktu tertentu tanpa dalil. Inilah yang disebut dengan bid’ah idhâfiyyah.

Jadi, “bid’ah” juga bisa terdapat dalam tradisi (adat-istiadat) sebagaimana perkataan asy-Syatibi, “Perkara non-ibadah (‘adat-istiadat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah ‘bid’ah’. Namun jika  perkara non-ibadah tersebut “dijadikan ibadah” atau “diposisikan sebagai ibadah”, yang (seolah-olah) diwajibkan untuk diselenggarakan dengan cara, pada waktu dan tempat tertentu, dan bila tidak dikerjakan diangggap (diasumsikan) sebagai kesalahan dalam beragama (melaksanakan syari’at Islam), maka dapat dimaknai bahwa pengamalan ini adalah ‘mewajibkan’ saesuatu yang tidak wajib. Atau dengan kata lain menganggap ‘sunnah’  sesuatu yang tidak disunnahkan, maka amalan ini bisa termasuk dalam (amalan) ‘bid’ah’.” (Al-I’tishâm, 1/348)

Dan — sedikit tambahan — bahwa tradisi yang diposisikan ‘sebagai ibadah’ sebenarnya ‘malah’ akan menyusahkan umat Islam sendiri. Misalnya saja tradisi ‘selamatan kematian pada hari ke-7, 40, 100, atau 1000 hari’. Syari’at sebenarnya ingin meringankan beban pada hambanya. Namun, karena melakukan bid’ah (idhâfiyyah) semacam ini, beban hamba (Allah) tersebut bertambah. Sebenarnya melakukan amalan semacam ini tidak ada tuntunannya, ‘malah’ — dalam banyak hal — dijadikan sebagai sesuatu yang (seolah-olah) “wajib”,  sehingga membebani hamba (Allah). Bahkan kadang-kadang penulis menyaksikan sendiri di sebuah desa yang masih laris — di sana — tradisi selamatan kematian. Padahal kehidupan kebanyakan warga di desa tersebut adalah warga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Lihatlah, bukannya dengan meninggalnya keluarga, dia diringankan bebannya oleh tetangga sekitar. Malah tatkala kerabatnya meninggal, dia harus mencari ‘utang’ di sana-sini agar bisa melaksanakan selamatan kematian yang sebenarnya tidak ada tuntunannya. Akhirnya karena kematian kerabat bertambahlah kesedihan dan beban kehidupan.  Kami memohon kepada Allah, semoga Allah memperbaiki kondisi bangsa ini dengan menjauhkan kita dari berbagai amalan yang tidak ada tuntunannya. Jadi selamat ini bukannya Sesutu yang yang membawa kemashlahatan (berkah), ‘malah’ menciptakan bayak kemadharatan.

5.    Banyak Umat Islam di Indonesia, bahkan para Kyai dan Ustadz Melakukan Hal Ini

Ada juga yang berargumen ketika ritual bid’ah – seperti Maulid Nabi Muhammad s.a.w. yang diselenggakan dengan cara tertentu, yang seolah-olah merupakan bagian dari ibadah yang harus ditunaikan dengan pola  sepeerti itu — yang ia lakukan dibantah, sembari mengatakan: “Perayaan (atau ritual) ini kan juga dilakukan oleh sebagian besar umat Islam Indonesia, bahkan oleh para Kyai dan Ustadz. Kok hal ini dilarang?!”

Alasan ini justeru adalah membuktikan pencarian ‘alasan’ orang yang tidak pandai berdalil. Suatu hukum dalam agama ini seharusnya dibangun berdasarkan al-Kitab (al-Quran), as-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin). Adapun adat-istiadat (tradisi) di sebagian negeri, perkataan sebagian Kyai/Ustadz atau ahli ibadah, tidak bisa menjadi dalil untuk menyanggah perkataan Allah dan Rasul-Nya.

Barangsiapa meyakini bahwa adat-istiadat (tradisi) yang menyelisihi ‘sunnah’ ini telah disepakati karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya, maka keyakinan semacam ini jelas salah dan keliru. Ingatlah, akan selalu ada dalam umat ini di setiap waktu yang melarang berbagai bentuk perkara bid’ah yang menyelisihi sunnah seperti perayaan ‘maulid’ ataupun ‘tahlilan’ yang diselenggarakan dengan upacara ritual tententu, yang solah-olah dianggap sebagai bagian dari ibadah mahdhah (ibadah yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin kesepakatan sebagian negeri muslim dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan umat Islam), apalagi dengan amalan sebagian kelompok?

Ketahuilah, mayoritas ulama tidak mau menggunakan amalan penduduk Madinah (di masa Imam Malik) –- tempat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berhijrah — sebagai dalil dalam beragama. Mereka menganggap bahwa amalan penduduk Madinah bukanlah sandaran hukum dalam beragama tetapi yang menjadi sandaran hukum adalah sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin kita berdalil dengan kebiasaan sebagian negeri muslim yang tidak memiliki keutamaan sama sekali dibanding dengan kota Nabawi Madinah?! (Disarikan dari Iqtidhâ’ Shirâth al-Mustaqîm, 2/89 dan Al-Bid’ah wa Âtsâruhâ asy-Syai’ fî al-Ummah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, 49-50, Dâr al-Hijrâh)

Perlu diperhatikan pula, tersebarnya suatu perkara atau banyaknya pengikut bukan dasar bahwa perkara yang dilakukan adalah benar. Bahkan apabila kita mengikuti kebanyakan manusia maka mereka akan menyesatkan kita dari jalan Allah dan ini berarti kebenaran itu bukanlah diukur dari banyaknya orang yang melakukannya. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS al-An’âm [6] : 116)

6.    Baca al-Qur’an ‘Kok’ Dilarang?!

Ini juga di antara argumen dari pelaku bid’ah ketika diberitahu mengenai bid’ah yang dilakukan, “perbuatan seperti ini ‘kan’ bid’ah.” Lalu dia bergumam, “Masa baca al-Qur’an saja dilarang?!” Atau ada pula yang berkata, “Masa baca dzikir saja dilarang?!”

Untuk menyanggah perkataan di atas, perlu sekali kita ketahui mengenai dua macam bid’ah yaitu bid’ah haqîqiyyah dan idhâfiyyah.

Bid’ah haqîqiyyah adalah setiap bid’ah yang tidak ada dasarnya sama sekali baik dari al-Qur’an, As Sunnah, ijma’ kaum muslimin, dan bukan pula dari penggalian hukum yang benar menurut para ulama baik secara global maupun terperinci. (Al-I’tishâm, 1/219)

Di antara contoh bid’ah haqîqiyyah adalah puasa ‘mutih’ (dilakukan untuk mencari ilmu sakti), mendekatkan diri pada Allah dengan kerahiban (hidup membujang seperti para biarawati), dan mengharamkan yang Allah halalkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Ini semua tidak ada contohnya dalam syari’at.

Bid’ah idhâfiyyah adalah setiap bid’ah yang memiliki 2 sisi yaitu [1] dari satu sisi memiliki dalil, maka dari sisi ini bukanlah bid’ah dan [2] di sisi lain tidak memiliki dalil maka ini sama dengan bid’ah haqîqiyyah. (Al I’tishâm, 1/219)

Jadi bid’ah idhâfiyyah dilihat dari satu sisi adalah perkara yang disyari’atkan. Namun ditinjau dari sisi lain yaitu dilihat dari enam aspek adalah bid’ah. Enam aspek tersebut adalah waktu, tempat, tatacara (kaifiyyah), sebab, jumlah, dan jenis.

Contohnya bid’ah idhâfiyyah adalah: dzikir setelah shalat atau di berbagai waktu secara berjama’ah dengan satu suara. Dzikir adalah suatu yang masyrû’ (disyari’atkan), namun pelaksanaannya dengan tatacara semacam ini tidak disyari’atkan dan termasuk bid’ah yang menyelisihi sunnah.

Contoh lainnya adalah puasa atau shalat malam hari Nishfu Sya’bân (pertengahan bulan Sya’ban). Begitu pula shalat raghâ’ib pada malam Jum’at pertama dari bulan Rajab. Kedua contoh ini termasuk bid’ah idhâfiyyah. Shalat dan puasa adalah ibadah yang disyari’atkan, namun terdapat bid’ah dari sisi pengkhususan zaman (waktu), tempat dan tatacara. Tidak ada dalil dari al-Kitab (al-Quran) dan As Sunnah yang mengkhususkan ketiga hal tadi.

Begitu juga hal ini dalam acara ‘yasinan’ dan ‘tahlilan’. Bacaan ‘tahlil’ adalah bacaan yang disyari’atkan. Bahkan barangsiapa mengucapkan bacaan ‘tahlil’ dengan memenuhi konsekuensinya maka dia akan masuk surga. Namun, yang dipermasalahkan adalah pengkhususan waktu, tatacara dan jenisnya. Perlu kita tanyakan manakah dalil yang mengkhususkan pembacaan tahlil pada hari ke-3, 7, dan 40 setelah kematian. Juga manakah dalil yang menunjukkan harus dibaca secara berjama’ah dengan satu suara. Mana pula dalil yang menunjukkan bahwa yang harus dibaca adalah bacaan lâ ilâha illallâh, bukan bacaan tasbih, tahmid atau takbir. Dalam acara ‘yasinan’ juga demikian. Kenapa yang dikhususkan hanya surat ‘Yasin’, bukan surat al-Kahfi, as-Sajdah atau yang lainnya? Apa memang yang teristimewa dalam al-Qur’an hanyalah surat ‘Yasin’ bukan surat lainnya? Lalu apa dalil yang mengharuskan baca surat ‘Yasin’ setelah kematian? Perlu diketahui bahwa kebanyakan dalil yang menyebutkan keutamaan (fadhîlah) surat ‘Yasin’ adalah dalil-dalil yang lemah bahkan sebagian palsu.

Jadi, yang kami permasalahkan adalah bukan puasa, shalat, bacaan al-Qur’an maupun bacaan dzikir yang ada. Akan tetapi, yang kami permasalahkan adalah pengkhususan waktu, tempat, tatacara, dan lain sebagainya. Manakah dalil yang menunjukkan hal ini?

Semoga sanggahan-sanggahan di atas dapat memuaskan pembaca sekalian. Kami hanya bermaksud mendatangkan perbaikan selama kami masih berkesanggupan.

F.    Mengenal Seluk-Beluk Bid’ah: “Dampak Buruk Bid’ah 

Sudah sepatutnya kita menjauhi berbagai macam bid’ah mengingat dampak buruk yang ditimbulkan. Berikut beberapa dampak buruk dari bid’ah.

1.       Amalan Bid’ah Tertolak

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, hadis nomor: 20 dan Muslim, nomor: 1718 dari ‘Aisyah r.a.)

Orang yang berbuat bid’ah inilah yang amalannya merugi. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Aal-Kahfi [18] : 103-104)

2.       Pelaku bid’ah terhalangi untuk bertaubat selama dia terus menerus dalam bid’ahnya. Oleh karena itu, ditakutkan dia akan mengalami sû’ al-khâtimah

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

“Allah betul-betul akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (Hadis Riwayat ath-Thabrani. Dikatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb wa at-Tarhîb, hadis nomor:  54)

3.       Pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan tidak akan mendapatkan syafa’at beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

“Aku akan mendahului kalian di al-haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al-haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu“.  (Hadis Riwayat al-Bukhari, hadis nomor: 7049 dari Abdullah bin Mas’ud r.a.)

Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى

“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, hadis nomor: 7051, dari Abu Sa’id al-Khudriy r.a.)

Inilah do’a laknat untuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbuat bid’ah.

Ibnu Baththal mengatakan, “Demikianlah, seluruh perkara bid’ah yang diada-adakan dalam perkara agama tidak diridhoi oleh Allah karena hal ini telah menyelisihi jalan kaum muslimin yang berada di atas kebenaran (al haq). Seluruh pelaku bid’ah termasuk orang-orang yang mengganti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membuat-buat perkara baru dalam agama. Begitu pula orang yang berbuat zholim dan yang menyelisihi kebenaran, mereka semua telah membuat sesuatu yang baru dan telah mengganti dengan ajaran selain Islam. Oleh karena itu, mereka juga termasuk dalam hadis ini.” (Lihat Syarh Ibnu Baththâl, 19/2, Asy Syâmilah) -Semoga Allah menjauhkan kita dari berbagai perkara bid’ah dan menjadikan kita sebagai umatnya yang akan menikmati al haudh sehingga kita tidak akan merasakan dahaga yang menyengsarakan di hari kiamat, Âmîn Yâ Mujîba ad-Du’â’!

4.       Pelaku bid’ah akan mendapatkan dosa jika amalan bid’ahnya diikuti orang lain

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (Hadis Riwayat Muslim,  hadis nomor: 1017, dari Jabir bin ‘Abdullah r.a.)

Perhatikanlah hadis ini. Sungguh sangat merugi sekali orang yang melestarikan bid’ah dan tradisi-tradisi yang menyelisihi syari’at. Bukan hanya dosa dirinya yang akan dia tanggung, tetapi juga dosa orang yang mengikutinya. Padahal bid’ah itu paling mudah menyebar. Lalu bagaimana yang mengikutinya sampai ratusan bahkan ribuan orang? Berapa banyak dosa yang akan dia tanggung? Seharusnya kita melestarikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa harus melestarikan tradisi dan budaya yang menyelisihi syari’at? Jika melestarikan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam -seperti mentalqinkan mayit menjelang kematiannya bukan dengan talqin setelah dimakamkan- kita akan mendapatkan ganjaran untuk diri kita dan juga dari orang lain yang mengikuti kita. Sedangkan jika kita menyebarkan dan melestarikan tradisi ‘tahlilan, yasinan, maulidan’, lalu diikuti  oleh generasi setelah kita, apa yang akan kita dapat? Malah hanya dosa dari yang mengikuti kita yang kita peroleh.

G.    Marilah Bersatu di Atas Kebenaran

Penulis menyinggung masalah ‘bid’ah’ ini bukanlah dengan maksud untuk memecah belah kaum muslimin sebagaimana disangka oleh sebagian orang jika kami menyinggung masalah ini. Yang hanya kami inginkan adalah bagaimana umat ini bisa bersatu di atas kebenaran dan di atas ajaran Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang benar. Yang kami inginkan adalah agar saudara kami mengetahui kebenaran dan sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang kami ketahui. Kami tidak ingin saudara kami terjerumus dalam kesalahan sebagaimana tidak kami inginkan pada diri kami. Semoga maksud kami ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib a.s.,

إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS Hûd [11] : 88)

Inilah sedikit pembahasan mengenai ‘bid’ah’, kerancuan-kerancuan di dalamnya dan dampak buruk yang ditimbulkan. Semoga dengan tulisan yang singkat ini kita dapat semakin mengenalinya dengan baik. Hal ini bukan berarti dengan mengetahuinya kita harus melakukan ‘bid’ah’ tersebut. Karena sebagaimana perkataan seorang penyair,

عَرَّفْتُ الشَّرَّ لاَ لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَقِّيْهِ …
وَمَنْ لاَ يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ

Aku mengenal kejelekan, bukan berarti ingin melakukannya, tetapi ingin menjauhinya
Karena barangsiapa tidak mengenal kejelekan, mungkin dia bisa terjatuh di dalamnya

Yâ Hayyu, Ya Qayyûm. Wahai Zat yang Maha Hidup lagi Maha Kekal. Dengan rahmat-Mu, kami memohon kepada-Mu. Perbaikilah segala urusan kami dan janganlah Engkau sandarkan urusan tersebut pada diri kami, walaupun hanya sekejap mata. Âmîn Yâ Mujâbas Sâ’ilîn.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahû samî’un qarîbum mujîbud da’awât. Alhamdulillâhilladzî bi ni’matihî tatimmush shâlihât, wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa shahbihî wa sallam.

H.  Bid’ah Dalam Perkara Duniawi

Dalam masalah duniawi, tidak ada bid’ah, walaupun dinamakan bid’ah (secara bahasa). Manusia membuat mobil, pesawat, komputer, telepon, kabel, atau benda-benda buatan manusia yang lain semua ini tidak dikatakan bid’ah walaupun memang disebut bid’ah dari segi bahasa, namun tidak termasuk bid’ah dalam istilah agama. Karena bid’ah secara bahasa artinya segala sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, itu semua disebut bid’ah. Sebagaimana dalam ayat:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Allah adalah Pencipta langit dan bumi” (QS al-Baqarah [2]: 117)

Maksud ayat ini yaitu Allah Ta’ala membuat mereka (langit dan bumi) yang sebelumnya tidak ada.

Demikian, secara bahasa memang istilah bid’ah secara mutlak dimaknai sebagai segala sesuatu yang belum ada sebelumnya. Andai perkara-perkara duniawi yang demikian biasanya tidak disebut sebagai bid’ah, semua itu tidak tercela walau dikategorikan sebagai bid’ah secara bahasa. Bahkan tidak diingkari, karena bukan perkara agama dan bukan perkara ibadah. Misalnya, jika kita katakan dibuatnya mobil, komputer, pesawat atau semisalnya adalah bid’ah, maka bid’ah di sini dari segi bahasa. Dan semua itu bukanlah kemungkaran dan tidak boleh diingkari. Yang diingkari adalah perkara-perkara baru dalam hal agama semisal: shalawat-shalawat bid’ah, atau ibadah bid’ah lain. Inilah yang diingkari.

Karena syariat Islam harus dibersihkan dari bid’ah. Yang menjadi syari’at Islam adalah apa yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, bukan apa yang diada-adakan oleh manusia baik berupa shalawat, puasa, atau ibadah lain yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena agama ini telah sempurna, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” (QS al-Mâidah [5]: 3)

(Sumber: Fatâwâ Nûrun ‘Alâ qd-Darb, juz 3 halaman 21 http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=275&PageNo=1&BookID=5, Penerjemah: Yulian Purnama
dalam www.muslim.or.id)

I.       Suplemen: “Mengenal Seluk-Beluk Bid’ah, Adakah Bid’ah Hasanah?”

“Setiap bid’ah adalah tercela”. Inilah yang masih diragukan oleh sebagian orang. Ada yang mengatakan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, ada pula bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Untuk menjawab sedikit kerancuan ini, marilah kita menyimak berbagai dalil yang menjelaskan hal ini.

1.      Dalil dari As-Sunnah

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallâhu ‘anhumâ, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda: “Hendaklah kalian selalu waspada di waktu pagi dan petang. Aku diutus, sementara antara aku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah).” Kemudian beliau melanjutkan bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadis Riwayat Muslim, hadis nomor: 867)

Dalam riwayat an-Nasa’i dikatakan,

وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (Hadis Riwayat an-Nasa’i, hadis nomor:  1578. Hadis ini dikatakan shahih oleh Syaikh al-Albani di dalam kitab Shahîh wa Dha’îf Sunan an-Nasâ’i)

Diriwayatkan dari Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ « أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ».

“Kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari. Kemudian beliau mendatangi kami lalu memberi nasihat yang begitu menyentuh, yang membuat air mata ini bercucuran, dan membuat hati ini bergemetar (takut).” Lalu ada yang mengatakan, “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan. Lalu apa yang engkau akan wasiatkan pada kami?” Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian adalah budak Habsyi. Karena barangsiapa yang hidup di antara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang pada sunnahku dan sunnah al-Khulafâ’ al-Muhtadîn ar-Râsyidîn yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian (maksudnya peganglah dengan teguh). Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Hadis Riwayat Abu Dawud, hadis nomor: 4607 dan Tirmidzi, hadis nomor: 2676 dari Irbadh bin Sariyah. Hadis ini dikatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abî Dâwud dan Shahih wa Dha’if Sunan Tirmidzi)

2. Dalil dari Perkataan Sahabat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ

“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabraniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 10610. Al-Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya tsiqah/terpercaya)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (Hadis Riwayat ath-Thabraniy dalam al-Mu’jam al-Kabîr, hadis nomor: 8770. al-Haitsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawâ’id, bahwa para periwayat (rawi)-nya adalah periwayat yang dipakai dalam kitab shahih)

Itulah berbagai dalil yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat.

3.      Kerancuan: Bid’ah Ada Yang Terpuji?

Inilah kerancuan yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian orang bahwa tidak semua bid’ah itu sesat namun ada sebagian yang terpuji yaitu bid’ah hasanah.

Memang kami akui bahwa sebagian ulama ada yang mendefinisikan bid’ah (secara istilah) dengan mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang tercela dan ada yang terpuji karena bid’ah menurut beliau-beliau adalah segala sesuatu yang tidak ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Imam Asy Syafi’i dari Harmalah bin Yahya. Beliau rahimahullah berkata,

الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ: مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة

“Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela.” (Lihat Hilyah al-Awliyâ’, 9/113, Dâr al-Kitâb al-‘Arabiy, Beirut-Asy-Syâmilah dan lihat Fath al-Bâri, 20/330, Asy-Syâmilah)

Beliau rahimahullah berdalil dengan perkataan Umar bin al- Khaththab tatkala mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan shalat Tarawih. Umar bin al-Khaththab berkata:

نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, hadis nomor: 2010)

Teks lengkap hadis tersebut adalah sebagai berikut:

وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

“Dan dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata; “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallâhu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh makmum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar pun berkata: “Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik”. Kemudian Umar pun memantapkan keinginannya itu, lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam”. (Hadis Mauquf dari  ‘Umar ibn al-Khaththab r.a., Riwayat al-Bukhari, hadis nomor: 1871, dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy)

Pembagian bid’ah semacam ini membuat  pemahaman sebagian orang rancu dan salah paham. Akhirnya sebagian orang mengatakan bahwa bid’ah itu ada yang baik (bid’ah hasanah) dan ada yang tercela (bid’ah sayyi’ah). Sehingga untuk sebagian perkara bid’ah seperti merayakan ‘Maulid Nabi’ dengan tata-cara tertentu yang seolah-olah menjadi bagian dari ibadah (mahdhah) atau Shalat Nishfu Sya’ban yang tidak ada dalilnya atau pendalilannya kurang tepat; mereka membela bid’ah mereka ini dengan mengatakan ‘Ini kan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah)’. Padahal kalau kita lihat kembali dalil-dalil yang telah disebutkan di atas baik dari sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan sahabat,  semua riwayat yang ada menunjukkan bahwa bid’ah itu tercela dan sesat. Oleh karena itu, perlu sekali pembaca sekalian mengetahui sedikit kerancuan ini dan jawabannya agar dapat mengetahui ‘hakikat bid’ah’ yang sebenarnya.

4.      Sanggahan Terhadap Kerancuan: “Ketahuilah Semua Bid’ah Itu Sesat”

Perlu  diketahui bersama bahwa sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bahwa  sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama, pen.),setiap bid’ah adalah sesat’, dan ‘setiap kesesatan adalah di neraka’ serta peringatan beliau terhadap perkara yang diada-adakan dalam agama, semua ini adalah dalil tegas dari beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Maka tidak boleh seorang pun menolak kandungan makna berbagai hadis yang mencela setiap bid’ah. Barangsiapa menentang kandungan makna hadis tersebut maka dia adalah orang yang hina. (Iqtidhâ’ Shirât al- Mustaqîm, 2/88, Ta’lîq Dr. Nashir Abdul Karim al-‘Aql)

Tidak boleh bagi seorang pun menolak sabda beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, lalu mengatakan ‘tidak semua bid’ah itu sesat’. (Iqtidhâ’ Shirât al- Mustaqîm, 2/93)

Perlu pembaca sekalian pahami bahwa lafazh ‘kullu’ (artinya: semua) pada hadis,

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Setiap bid’ah adalah sesat”, dan hadis semacamnya dalam bahasa Arab dikenal dengan lafazh umum.

Asy-Syatibhi mengatakan, “para ulama memaknai hadis di atas sesuai dengan keumumannya, tidak boleh dibuat pengecualian sama sekali. Oleh karena itu, tidak ada dalam hadis tersebut yang menunjukkan ada bid’ah yang baik.” (Dinukil dari Ilm Ushûl Bida’, hal. 91, Dar ar-Rayyah)

Inilah pula yang dipahami oleh para sahabat generasi terbaik umat ini. Mereka menganggap bahwa setiap bid’ah itu sesat walaupun sebagian orang menganggapnya baik. Abdullah bin ‘Umar radhiyallâhu ‘anhumâ berkata,

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Lihat Al-Ibânah al-Kubrâ li Ibni Baththah, 1/219, Asy-Syâmilah)

رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

Juga terdapat kisah yang telah masyhur dari Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu ketika beliau melewati suatu masjid yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang duduk membentuk lingkaran. Mereka bertakbir, bertahlil, bertasbih dengan cara yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dengan mengatakan,

فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ.

“Hitunglah dosa-dosa kalian. Aku adalah penjamin bahwa sedikit pun dari amalan kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepat kebinasaan kalian! Mereka sahabat nabi kalian masih ada. Pakaian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga belum rusak. Bejananya pun belum pecah. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, apakah kalian berada dalam agama yang lebih baik dari agamanya Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu kesesatan (bid’ah)?”

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (Hadis Riwayat ad-Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadis ini jayyid)

Teks lengkap hadisnya sebagai berikut:

أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ قُلْنَا لَا فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعًا فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا خَيْرًا قَالَ فَمَا هُوَ فَقَالَ إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوسًا يَنْتَظِرُونَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ وَفِي أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ كَبِّرُوا مِائَةً فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً فَيَقُولُ هَلِّلُوا مِائَةً فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً وَيَقُولُ سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً قَالَ فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ قَالَ مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ وَانْتِظَارَ أَمْرِكَ قَالَ أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ قَالُوا يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ قَالُوا وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَالَ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ

“Telah mengabarkan kepada kami al-Hakam bin al-Mubarak telah memberitakan kepada kami ‘Amr bin Yahya ia berkata: “Aku mendengar ayahku menceritakan dari ayahnya, ia berkata: ‘Dahulu kami pernah duduk di depan pintu Abdullah bin Mas’ud radhiyallâhu ‘anhu sebelum shalat subuh, ketika ia keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid. Kemudian Abu Musa al-’Asy’ari radhiyallâhu ‘anhu datang menemui kami dan bertanya: ‘Apakah Abu Abdur Rahman telah datang menemui kalian?’, kami menjawab: ‘belum’, lalu beliau duduk bersama kami hingga (Abu Abdur Rahman) datang. Tatkala ia datang, kami semua berdiri dan menghampirinya, Abu Musa berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdur Rahman, baru saja di masjid aku melihat satu kejadian baru yang tidak aku sukai. Setahuku, alhamdulillâh, sekali pun itu diniati kebaikan. Ia bertanya: ‘apakah itu gerangan?’, ‘Jika kamu masih hidup kamu akan melihatnya’, Kata Abu Musa. Abu Musa melanjutkan: ‘Aku melihat di masjid, sekelompok orang yang (duduk) melingkar sambil menunggu shalat, setiap lingkaran ada seorang (pemandu) nya dan tangan-tangan mereka membawa kerikil, lalu si (pemandu) berkata: ‘ucapkanlah takbir seratus kali’ dan mereka bertakbir seratus kali, ‘dan ucapkanlah tahlil seratus kali’ lalu mereka bertahlil seratus kali, ‘dan ucapkanlah tasbih seratus kali’ lalu mereka mengucapkan tasbih seratus kali. Abu Abdurrahman bertanya: ‘Lantas apa yang telah kau katakan kepada mereka? ‘ Abu Musa menjawab: ‘Aku belum berkata apa pun kepada mereka, karena aku menunggu pendapatmu atau perintahmu’. Abu Abdurrahman berkata: ‘Tidak sebaiknyakah kamu perintahkan saja mereka untuk menghitung dosa-dosa mereka, serta kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan hilang?. Kemudian Abu Abdurrahman beranjak dan kami pun beranjak bersamanya, hingga ia sampai di lokasi jama’ah dzikir yang diceritakannya. Ia berdiri di hadapan mereka, dan berkata: ‘Apa yang sedang kalian lakukan? ‘, mereka menjawab: ‘Wahai Abu Abdur Rahman, ini adalah batu-batu kerikil untuk menghitung takbir, tahlil dan tasbih’. Ia berkata: ‘Hendaklah kalian menghitung dosa-dosa kalian (saja), aku menjamin amal kebaikan kalian tidak akan hilang, celakalah kalian umat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, alangkah cepatnya masa kehancuran kalian, padahal mereka para sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam masih banyak, dan baju mereka belum basah, juga periuknya belum pecah, demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman tangannya, sesungguhnya kalian seakan-akan memiliki agama yang lebih baik dari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam, atau kalian sengaja hendak membuka pintu kesesatan?, mereka menjawab: ‘Demi Allah wahai Abu Abdur Rahman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan’. Abu Abdurrahman menjawab: ‘Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi ia tidak dapat mencapainya, sesungguhnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami bahwa ada satu kaum yang membaca al-Qur`an namun tidak melampaui tenggorokan mereka, demi Allah, aku tidak tahu siapa tahu mayoritas mereka adalah dari kalian”, Abu Abdurrahman lantas berpaling dari mereka. ‘Amr bin Salamah berkata: ‘Kami melihat kebanyakan dari yang berada di kelompok jama’ah dzikir tersebut dihari selanjutnya mencaci-maki kami pada hari (perang) Nahrawan bersama orang-orang Khawarij “. (Hadis Mauquf Riwayat ad-Darimi, hadis nomor: 206, dari ‘Amr bin Yahya)

Lihatlah kedua sahabat ini — yaitu Ibnu Umar dan Ibnu Mas’ud — memaknai bid’ah dengan keumumannya, tanpa membedakan adanya bid’ah yang baik (hasanah) dan bid’ah yang jelek (sayyi’ah).

5.      Beralasan Dengan Shalat Tarawih Yang Dilakukan Oleh Umar

a.      Sanggahan Pertama

Adapun shalat tarawih (yang dihidupkan kembali oleh Umar ibn al-Khaththab) maka dia (shalat tarawih itu) bukanlah bid’ah secara syar’i. Bahkan shalat tarawih adalah sunnah beliau (Nabi Muhammad) shallallâhu ‘alaihi wa sallam dilihat dari perkataan dan perbuatan beliau. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat tarawih secara berjama’ah pada awal Ramadhan selama dua atau tiga malam. Beliau juga pernah shalat secara berjama’ah pada sepuluh hari terakhir selama beberapa kali. Jadi shalat tarawih bukanlah bid’ah secara syar’i. Sehingga yang dimaksudkan bid’ah dari perkataan Umar ibn al-Khaththab bahwa ‘sebaik-baik bid’ah adalah ini’ yaitu bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah secara syar’i. Bid’ah secara bahasa itu lebih umum (termasuk kebaikan dan kejelekan) karena mencakup segala yang ada contoh sebelumnya.

Perlu diperhatikan, apabila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan dianjurkan atau diwajibkannya suatu perbuatan setelah beliau wafat, atau menunjukkannya secara mutlak, namun hal ini tidak dilakukan kecuali setelah beliau (Rasulullah) shallallâhu ‘alaihi wa sallam wafat (maksudnya dilakukan oleh orang sesudah beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam, pen), maka boleh kita menyebut hal-hal semacam ini sebagai bid’ah secara bahasa. Begitu pula agama Islam ini disebut dengan muhdats/bid’ah (sesuatu yang baru yang diada-adakan) –sebagaimana perkataan utusan Quraisy kepada raja an-Najasiy mengenai orang-orang Muhajirin-. Namun yang dimaksudkan dengan muhdats/bid’ah di sini adalah muhdats secara bahasa karena setiap agama yang dibawa oleh para Rasul adalah agama baru.  (Disarikan dari Iqtidhâ’ Shirât al-Mustaqîm, 2/93-96)

b.     Sanggahan Kedua

Baiklah kalau kita mau menerima perkataan Umar bahwa ada bid’ah yang baik. Maka kami sanggah bahwa perkataan sahabat jika menyelisihi hadis Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak bisa menjadi hujah (pembela). Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat sedangkan Umar ibn al-Khaththab menyatakan bahwa ada bid’ah yang baik. Sikap yang tepat adalah kita tidak boleh mempertentangkan perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan perkataan sahabat. Perkataan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang mencela bid’ah secara umum tetap harus didahulukan dari perkataan yang lainnya. (Faedah dari Iqtidhâ’ Shirât al-Mustaqîm)

c.    Sanggahan Ketiga

Anggap saja kita katakan bahwa perbuatan Umar adalah pengkhususan dari hadis Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Jadi perbuatan Umar ibn al-Khaththab  dengan mengerjakan shalat tarawih terus menerus adalah bid’ah yang baik (hasanah). Namun, ingat bahwa untuk menyatakan bahwa suatu amalan adalah bid’ah hasanah harus ada dalil lagi baik dari al- Qur’an, as-Sunnah atau ijma’ kaum muslimin. Karena ingatlah –- berdasarkan kaedah ushul fiqih — bahwa sesuatu yang tidak termasuk dalam pengkhususan dalil tetap kembali pada dalil yang bersifat umum.

Misalnya mengenai acara ‘selamatan kematian’. Jika kita ingin memasukkan amalan ini dalam bid’ah hasanah maka harus ada dalil dari al-Qur’an, as-Sunnah atau ijma’. Kalau tidak ada dalil yang menunjukkan benarnya amalan ini, maka dikembalikan ke keumuman dalil bahwa setiap perkara yang diada-adakan dalam masalah agama (baca: ‘setiap bid’ah’) adalah sesat dan tertolak.

Namun yang lebih tepat, lafazh umum yang dimaksudkan dalam hadis  ‘setiap bid’ah adalah sesat’ adalah termasuk lafazh umum yang tetap dalam keumumannya (‘âm baqiya ‘alâ umûmiyyatihi) dan tidak memerlukan takhshîsh (pengkhususan). Inilah yang tepat berdasarkan berbagai hadis dan pemahaman sahabat mengenai bid’ah.

Lalu pantaskah kita orang-orang saat ini memakai istilah sebagaimana yang dipakai oleh sahabat Umar ibn al-Khaththab?

Ingatlah bahwa umat Islam saat ini tidaklah seperti umat Islam di zaman Umar radhiyallâhu ‘anhu. Umat Islam saat ini tidak seperti umat Islam di generasi awal dahulu yang memahami maksud perkataan Umar ibn al-Khaththab. Maka tidak sepantasnya kita saat ini menggunakan istilah bid’ah (tanpa memahamkan apa bid’ah yang dimaksudkan) sehingga menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat. Jika memang kita mau menggunakan istilah bid’ah namun yang dimaksudkan adalah definisi secara bahasa, maka selayaknya kita menyebutkan maksud dari perkataan tersebut.

Misalnya HP (Hand Phone) ini termasuk ‘bid’ah’ secara bahasa. Tidaklah boleh kita hanya menyebut bahwa HP ini termasuk bid’ah karena hal ini bisa menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

Kesimpulan: “Berdasarkan berbagai dalil dari as-Sunnah maupun perkataan sahabat, setiap bid’ah itu sesat. Tidak ada bid’ah yang baik (hasanah). Tidak tepat pula membagi bid’ah menjadi lima: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram karena pembagian semacam ini dapat menimbulkan kerancuan di tengah-tengah umat.

6.      Hukum Bid’ah Dalam Islam

Hukum semua bid’ah adalah terlarang.  Namun, hukum tersebut bertingkat-tingkat.

Tingkatan Pertama: Bid’ah yang menyebabkan kekafiran sebagaimana bid’ah orang-orang Jahiliyah yang telah diperingatkan oleh al- Qur’an. Contohnya adalah pada ayat,

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا

“Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”.” (QS al-An’âm [6]: 36)

Tingkatan Kedua: Bid’ah yang termasuk maksiat yang tidak menyebabkan kafir atau diperselisihkan kekafirannya. Seperti bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij, Qadariyah (penolak takdir) dan Murji’ah (yang tidak memasukkan amal dalam definisi iman secara istilah).

Tingkatan Ketiga: Bid’ah yang termasuk maksiat seperti bid’ah hidup membujang (kerahiban) dan berpuasa diterik matahari.

Tingkatan Keempat: Bid’ah yang makrûh, seperti berkumpulnya manusia di masjid-masjid untuk berdo’a pada sore hari saat hari Arafah.

Jadi setiap bid’ah tidak berada dalam satu tingkatan. Ada bid’ah yang besar dan ada bid’ah yang kecil (ringan).

Namun bid’ah itu dikatakan bid’ah yang ringan jika memenuhi beberapa syarat sebagaimana disebutkan oleh asy Syatibi, yaitu:

  1. Tidak dilakukan terus menerus.
  2. Orang yang berbuat bid’ah (mubtadi’) tidak mengajak pada bid’ahnya.
  3. Tidak dilakukan di tempat yang dilihat oleh orang banyak sehingga orang awam mengikutinya.
  4. Tidak menganggap remeh ‘bid’ah’ yang dilakukan.

Apabila syarat di atas terpenuhi, maka bid’ah yang semula disangka ringan lama kelamaan akan menumpuk sedikit demi sedikit sehingga jadilah bid’ah yang besar. Sebagaimana maksiat juga demikian. (Pembahasan pada point ini disarikan dari Al-Bida’ al-Hawliyyah, Abdullah at-Tuwaijiri, www.islamspirit.com)

Semoga kita selalu mendapatkan petunjuk Allah.

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Muhammad Abduh Tuasikal,
dimurâja’ah oleh: Aris Munandar, dalam http://www.muslim.or.id)

Tags: