Birrul Wâlidain Sepanjang Masa

Masing banyak orang yang ragu untuk melanjutkan aktivitas birrul wâlidain (berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua), setelah keduanya berpulang ke rahmatullâh. Padahal Abdullah bin Abbas r.a. – sahabat sekaligus saudara sepupu Rasulullah s.a.w. — pernah berkisah,

« أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا فَقَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ لِي مَخْرَفًا وَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْتَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا ».

Bahwa seorang laki-laki berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal apakah akan memberikan manfaat baginya apabila aku bersedekah untuknya? Kemudian beliau berkata: “Ya.” Orang tersebut berkata; sesungguhnya saya memiliki kebun kurma dan saya meminta persaksian anda bahwa saya telah mensedekahkannya untuknya. (HR al-Bukhari, Shahîhal-Bukhâriy, IV/8, hadits no. 2756; HR at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidziy, III/41, hadits. No. 671; HR Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, III/78, hadits no. 2884 dan HR an-Nasa’i, Sunan an-Nasâiy, VI/252, hadits no. 3655)

Hadits ini, menurut para ulama, merupakan ‘pijakan-dasar’ bagi setiap anak (shalih) yang ingin beramal shalih untuk kedua orang tuanya, meskipun keduanya telah tiada. Bahkan, dalam beberapa kitab syarah hadits, sabda Rasulullah s.a.w. ini sering dikaitkan dengan hadits lain, misalnya hadits yang berasal dari Abu Hurairah r.a., yang menyatakan bahwa Rasulullah s,a.w. pernah bersabda:

« إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ».

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal. Yaitu: sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR al-Bukhari, Shahîh Muslim, V/73, hadits no. 4310; HR Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, III/77, hadits no. 2882; HR at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidziy, III/660, hadits no. 1376; HR an-Nasa’i, Sunan an-Nasâi,VI/251, hadits no. 3651; HR Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, II/272, 8831; HR Ibnu Huzaimah, Shahîh ibn Huzaimah, IV/122, hadits no. 2494; HR Ibnu Hibban, Shahîh ibn Hibbân, VII/286, 3016; HR Abu Ya’la, Musnad Abî Ya’lâ, XI/343, hadits no. 6457; HR al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubrâ, VI/278, 13011; HR Abu ‘Awanah, Mustakhraj Abî ‘Awânah, VII/36, hadits no. 4700 dan HR ath-Thabarani, Ad-Du’â’ li ath-Thabarâniy, I/375, hadits no. 1250)

Simpulan penting dari hadits di atas, adalah: “Bakti anak kepada kedua orang tua tidak hanya dibatasi pada waktu mereka masih hidup, tetapi masih dapat dilakukan setelah mereka meninggal dunia, di antaranya adalah melestarikan sedekah yang pernah dilakukan oleh keduanya, mengamalkan ilmu yang telah diajarkan oleh keduanya dan – secara khusus – ‘dengan mendoakannya’. Doa yang menyertai ilmu yang  bermanfaat dan sedekah yang telah diwariskan oleh kedua orang tua, merupakan bagian dari bakti anak (shalih) bagi kedua orang tuanya, meskipun keduanya sudah tiada .

Memang bisa kita pahami. bahwa setelah meninggal dunia pahala orang tua (dari amalannya sendiri) sudah benar-benar terputus, kecuali dari tiga hal: “sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang mendoakannya.” Hadits ini menjelaskan tentang terputusnya pahala dari amalan diri seseorang apabila yang bersangkutan telah meninggal dunia. Namun, tidak ada penjelasan bahwa pahala dari amalan orang lain (yang diniatkan untuknya) ikut-serta terputus. Bahkan menilik hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:

« مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا ».

“Siapa pun yang pernah mengajak orang lain untuk berbuat baik, maka dia akan memeroleh pahala (kebaikan) seperti pahala (kebaikan) yang diperoleh orang lain yang telah melakukan kebaikan yang pernah diajarkan olehnya – selamanya – tanpa mengurangi nilai (pahala) kebaikan orang yang telah mengamalkannya, disebabkan oleh ajakan yang pernah dilakukan olehnya. Sebaliknya, siapa pun yang pernah mengajak orang lain untuk melakukan perbuatan dosa, maka dia akan memeroleh dosa atas dasar perbuatan dosa orang yang pernah diajak berbuat dosa olehnya – selamanya – tanpa mengurangi nilai (dosa) perbuataan dosa orang yang telah melakukan perbuatan dosa disebabkan oleh ajakan yang pernah dilakukan olehnya.” (HR Muslim, Shahîh Muslim, VII/62, hadits no. 6980; HR Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, IV/331, hadits no. 4611; HR at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidziy,  V/43, hadits no. 2674; HR Ibnu Majah, Sunan ibn Mâjah, I/141, hadits no. 205; HR Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal, II/397, hadits no. 9149; HR Ibnu Hibban, Shahîh ibn Hibbân, I/318, hadits no. 112 dan HR al-Bazzar, Musnad al-Bazzâr, XV/85, hadits no. 8338)

Artinya, pahala bagi keduanya tetap akan bisa mengalir, meskipun keduanya telah menghadap ‘Sang Khaliq’. Atau, dengan kata lain, pahala dan dosa seseorang (termasuk kedua orang tua kita) itu akan tetap ‘bisa’ mengalir tanpa henti disebabkan oleh perbuatannya di masa lalu,.

Pahala sedekah – misalnya – tetap bisa mengalir kepada kedua orangtua kita, disebabkan oleh sedekah seseorang anak shalih yang berniat untuk bersedekah bagi kedua orang tuanya yang telah mendidiknya dengan ‘sangat baik’, sehingga ‘dia’ – setelah mendapatkan pola asuh terbaik dari kedua orang tuanya — menjadi seseorang yang gemar bersedekah. Sebagaimana ilustrasi yang diceritakan oleh ‘Aisyah r.a., dari sabda Rasululah s.a.w:

« أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ ».

“Bahwa pernah suatu saat ada seorangl aki-laki bercerita kepada Rasulullah s.a.w.: “Ibu saya meninggal secara mendadak, dan saya yakin seandainya dia masih sempat untuk berbicara, dia akan‘ \bersedekah’. Apakah ibu saya (bisa) mendapatkan pahala (sedekah), andaikata saya bersedekah, dengan niat bersedekah untuk ibu saya itu? Rasulullah s.a.w.pun  menjawab: “ya (ada pahala bagi ibumu dengan sedekahmu itu).” (HR al-Bukhari, Shahîh al-Bukhâriy, II/127, hadits no. 1388 dan HR Muslim, Shahîh Muslim, V/73, hadits no. 4308) .

Bahkan ada ada sebuah riwayat lain dari Abu Usaid Malik Bin Rabi’ah as-Sa’idi r.a. yang menguatkannya:

« بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».

“Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w.., tiba-tiba datang seorang laki-laki dari Bani Salamah, lalu ‘dia’ berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Atas pertanyaan itu, beliau (Rasulullah s.a.w.) pun menjawab: ”Ya, yaitu dengan cara mendoakan, memintakan ampun, menunaikan janji (keduanya) setelah mereka tiada, menyambung (tali) persaudaraan yang tidak akan pernah akan tersambung kecuali karena keduanya, dan memuliakan para sahabat-karib keduanya.” (HR Abu Dawud, Sunan Abî Dâwud, IV/500, hadits no. 5144; HR Ibnu Majah, Sunan ibn Mâjah, IV/632, hadits no. 3664; HR Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, III/497, hadits no. 16103; hadits no. 3664 dan HR Ibnu Hibban, Shahîh ibn Hibbân, II/162, hadits no. 418)

Dari penjelasan di atas, secara sederhana bisa disimpulkan, bahwa setelah kedua orang tua kita ‘tiada’ (meninggal dunia) pun, masih banyak cara yang bisa kita lakukan untuk berbakti kepada keduanya, antara lain: “mendoakannya, agar keduanya mendapatkan maghfirah (ampunan) dan rahmatNya; menjalin silaturrahim yang pernah dirintis oleh keduanya, utamanya dengan sanak-kerabat dan sahabat karib keduanya; dan bahkan dengan cara melestarikan tradisi amal shalih mereka, sebagai wujud dari doa kita sebagai anak shalih yang selalu ingin berbakti kepada keduanya, karena keduanya telah mendidik diri kita sejak kita masih berada di rahim ‘ibu’ kita hingga kita memahami ‘apa’ yang sepantasnya kita lakukan sebagai seseorang yang yang telah dididik oleh keduanya — dengan keikhlasannya sebagai orang tua — untuk memandu diri kita menjadi ‘anak-shalih’, dambaan keduanya.

Akhirnya, sebatas apa pun kemampuan kita untuk berbakti, dengan memahami pesan-pesan Rasulullah s.a.w., “kita” berkewajiban untuk menunjukkan bakti kita secara optimal — sebagai anak shalih – untuk kedua orang tua kita tercinta, di mana dan kapan pun kita berada, dengan ‘spirit’ iringan doa kita yang selalu kita ucapkan dalam berbagai kesempatan:

« رَبِّ اغْفِرْلِي وَ لِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا».

“Ya Allah, ya Tuhanku, berikan ampunMu kepadaku dan [juga] kepada kedua orang tuaku, dan berikan rahmatMu kepada keduanya karena keduanya telah mendidikku sejak masa kecilku)”. (Al-Ghazali,Ihyâ ‘Ulûmiddîn, I/321)

Dengan rangkaian amal shalih kita sebagai anak yang ‘ingin’ berbakti kepada kepada kedua orang tua kita, kita senantiasa berharap dalam doa-doa kita: “semoga bakti kita kepada kedua orang tua kita dapat memberi makna bagi keduanya, hingga keduanya benar-benar mendapatkan maghfirah dan rahmatNya.

 

Âmîn, Yâ Mujîbas Sâilîn.