Bunga Bank: “Maslahat atau Muslihat?”

Pernah baca buku karangan Aries Mufti? Judulnya ‘Bunga Bank: Maslahat atau Muslihat?’. Buku ini laris terjual di “Indonesia Syariah Expo” awal Mei lalu. Selain isinya bagus, judul dan sub judulnya bikin orang penasaran. Terdiri dari tiga bab, bagian pertama berjudul ‘Bunga Maslahat atau Muslihat’ disusul ‘Fatwa Ulama, Emang Gue Pikirin’, dan ketiga ‘Sorge atau nerake Selanjutnya Terserah Ente’. Di pembukaan Expo Syariah, seorang mahasiswa aktivis FOSSEI (Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam) berusaha menerobos rombongan. Ketika itu kami tengah mendampingi Pak Wakil Presiden, Jusuf Kalla.

”Pak tolong dong buku ini dikasih pak Jusuf Kalla, Beliau harus baca buku ini.” Mahasiswa ini tidak setuju dengan kritik Pak JK dalam sambutannya di pembukaan expo, bahwa: ”ada bank syariah yang memang tidak ada bunganya, tapi biaya administrasinya tinggi, jadi sebenarnya hanya memindahkan bunga ke biaya administrasi saja’. Pak JK keliru kata dia.

Buku itu saya ambil, saya perlihatkan ke Pak JK dan saya masukkan ke salah satu tas pemberian stand bank syariah yang dibawa ajudan. Perbankan syariah memang harus lebih hati-hati jangan sampai hal seperti itu terjadi. Beliau juga menghimbau agar lembaga syariah tidak eksklusif, selain berharap ekonomi berbasis spiritual bisa menjadi solusi ekonomi bangsa. ”Jangan menganggap yang warna hijau atau bertuliskan Arab serta merta syariah sementara yang lainnya bukan. Dalam bahasa yang sederhana pak JK telah mengutip sebuah kaidah fiqih. Dalam muamalah ‘Semua boleh kecuali yang dilarang.”

Yang terlarang itulah yang harus dihindari dalam bisnis syariah. Bisnis berbasis syariah didasarkan nilai-nilai keadilan. Demikian pentingnya keadilan, maka Alquran menuturkannya dengan struktur spesifik. Syekh Yusuf Al-Qardhawi, dalam salah satu bukunya ‘Daurul Qiyâm wal Akhlâq fil Iqtishâdil Islâmyi’ (Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam) menegaskan pilar penyangga kebebasan ekonomi yang berdiri di atas pemuliaan fitrah dan harkat manusia disempurnakan dan ditentukan oleh pilar penyangga yang lain yaitu : Keadilan.

Keadilan dalam Islam kata beliau, bukanlah prinsip yang sekunder. Ia adalah cikal bakal dan pondasi kokoh yang memasuki semua ajaran dan hukum Islam berupa aqidah, syari`ah, dan akhlak (moral). Tengoklah al-Quran, ketika Allah memerintahkan tiga hal, maka keadilan merupakan hal pertama yang disebutkan. Misalnya firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl ,16: 90).

Ketika Allah memerintahkan dua hal, maka keadilan merupakan salah satunya seperti dalam QS an-Nisâ’, 4: 58,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.”

Dan, juga dalam QS al-A`râf , 7: 29

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

“Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu [Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah] di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

Itulah keutamaan prinsip keadilan dalam al-Quran yang menjadi inti dalam bisnis syariah.

Ekonomi berbasis syariah harus jadi solusi bagi bangsa ini, setelah sekian puluh tahun menggunakan konsep kapitalis yang ribawi dan hancur dalam sekejap pada krisis lalu dan menjadikan Indonesia ‘terjajah’. Kapitalis jauh dari nilai keadilan. Kita mulai bangkit lagi. Tapi tak ada jaminan kapitalisme mampu bertahan menghadapi sistem global.

Kita harus cari solusi sistem perekonomian lain untuk bangsa kita. Sistem syariah harus bisa jadi solusi. Karena itu, perhatian pemerintah dan BI mestinya bagaimana mensyariahkan perbankan nasional ketimbang sibuk mengatur perbankan syariah itu sendiri. Lalu, bagaimana dengan makna muslihat dalam buku di atas tadi. Seorang teman pernah menemui saya. Ia mengaku belum bisa lepas dari kartu kredit dengan alasan untuk memudahkannya menservis klien. Karena satu keperluan mendesak, ia menggunakan kartu kreditnya.

Sayangnya karena nilainya besar, ia tak bisa melunasinya sekaligus.

Bunganya makin berbunga. Cicilan melonjak. Ia datang menceritakan kesulitannya. Bukan hanya karena cicilan kartu kredit yang selangit tapi juga kenyamanan keluarga terancam. Belum lagi yang tak bisa khusyu ketika shalat.

Saya sarankan agar utangnya dilunasi. Ia katakan tak punya uang. Saya kemudian teringat sahabat saya ustadz Yusuf Mansur, yang sedang mengkampanyekan gerakan sedekah ‘the Power of Giving‘. Saya sarankan banyak sadekah sesuai yang disanggupi, kemudian saya sampaikan hadist Nabi tentang doa agar dilepaskan dari utang, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beban utang dan kesewenang-wenangan orang lain).

Beberapa saat kemudian, sang kawan tadi datang lagi dengan wajah berseri. Ia mengaku memperoleh rizki yang tak diduga dan telah ia lunasi utangnya. Ia mengaku merasakan perbedaan suasana hati dan pikiran yang berbeda setelah lepas dari bunga. Ia merasa seperti orang yang baru sembuh dari stres. Keluarganya pun rukun lagi. Subhânallâh.

Maka benarlah firman Allah SWT:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba [Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila [Maksudnya: orang yang mengambil riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan setan]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah, 2: 275).

Ayat itu mengingatkan bukan saja dahsyatnya pengaruh bunga bank terhadap negara tapi juga mampu membangrutkan kasih sayang dalam keluarga.

Wallâhu A’lam.

(Ditulis dan diselaraskan dari tulisan Muhammad Syakir Sula, Wakil Ketua Umum IAEI [Ikatan Ahli Ekonomi Islam], Sekjen MES [Masyarakat Ekonomi Syariah], Selasa, 13 Juni 2006, dalam http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=252129&kat_id=256)