Dakwah: “Tugas Termulia”

Dakwah, sebuah tugas mulia yang diemban oleh para pengikut nabi yang setia. (QS Yûsûf, 12: 108). Bahkan, kita pun tahu bahwa jalan dakwah merupakan jalannya orang-orang yang beruntung, orang-orang yang selamat dari kerugian. (QS al-‘Ashr, 103: 1-3) Namun, satu hal yang perlu diingat pula oleh setiap orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah yang agung ini, bahwa dakwah para nabi dan rasul di sepanjang jaman tidak pernah mengalami perubahan asas dan tujuan. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah yang telah mengutus mereka (QS an-Nahl, 16: 36). Artinya, dakwah menuju penegakan sikap dan perilaku ”tauhid” dan pemberantasan syirik merupakan agenda utama (dakwah) yang sama sekali tidak boleh diremehkan, apalagi dianggap tidak relevan atau isu masa silam yang sudah ketinggalan jaman.

A. Prawacana

Sebagai Rasul Allah yang terakhir, Nabi Muhammad s.a.w. membawa risalah yang dialamatkan kepada seluruh umat manusia, sebagaimana firmanNya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ

“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui”. (QS Saba’/34: 28)

Sebagai pembawa risalah Allah, beliau ditugaskan menjadi saksi dan da’i bagi seluruh umat manusia. Dan sebagai da’i beliau bertugas memberikan kabar gembira dan peringatan, sehingga dapat menjadi cahaya yang menerangi kehidupan mereka.

Allah SWT berfirman:

يا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْناكَ شاهِداً وَ مُبَشِّراً وَ نَذِيراً (٤٥) وَ داعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَ سِراجاً مُنِيراً (٤٦)

“Hai nabi, Sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,. Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi”. (QS al-Ahzâb/33: 45-46)

Semenjak diangkat menjadi Rasul, sampai ajalk datang menjemput, Rasulullah s.a.w.telah menjalankan tugasnya berdakwah menyampaikan Risalah Islam dan membimbing umat ke jalan Allah. Tugas itu diteruskan oleh para sahabat, tabi’Indonesia, tabiit-tabi’Indonesia dan generasi seterusnya sampai generasi kit sekarang ini.

Tugas dakwah adalah tugas rasul sebelumnya. Dalam hal ini Allah SWT menyatakan:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”(QS Fushshilat/41: 33)
B. Kewajiban Berdakwah

Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, baik individual maupun kolektif. Allah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS Âli ’Imrân/3: 104)

Jika min dalam ayat di atas (minkum) adalah min bayâniyyah (menyatakan keterangan), maka dakwah menjadi kewajiban setiap orang (individual), tapi jika min itu adalah min tab’îdhiyyah (menyatakan sebagian) maka dakwah menjadi kewajiban kolektif umat atau fardhu kifayah. Kedua perngertian itu dapat digunakan sekaligus. Untuk hal-hal yang mampu dilakukan secara individual (fardhu ‘ain), sedangkan untuk hal-hal yang bisa dilakukan secara kolektif, maka dakwah menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Setiap orang wajib berdakwah, baik secara aktif maupun secara pasif. Secara pasif dalam arti diri dan kehidupannya dapat menjadi contoh hidup dari keluhuran dan keutamaan ajaran Islam.

Kewajiban setiap individu berdakwah, disamping dinyatakan oleh ayat di atas juga ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w. Setelah menyampaikan pesan-pesan penting dan mendasar dalam Haji Wada’, Rasulullah s.a.w. bersabda:

أَلاَ لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يُبَلَّغُهُ أَنْ يَكُونَ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ

“Maka hendaklah yang menyaksikan di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena boleh jadi yang hadir itu menyampaikannya kepada orang yang lebih dalam memperhatikannya daripada sebagian yang mendengarkannya”. (HR al-Bukhari daru Abu Bakrah)

Dalam kesempatan lain Rasulullah s.a.w. menegaskan:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah yang (kamu terima) dariku, walaupun satu ayat” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr)

Salah satu ayat yang dapat menyelamatkan manusia dari kerugian adalah apabila mereka mau saling mengingatkan (berdakwah) dengan kebenaran dan kesabaran. Allah berfirman:

وَ الْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

“Demi masa.  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS al-’Ashr, 103: 1-3)

C. Sasaran Dakwah

Sasaran dakwah atau al-mad’u dapat dikategorikan berdasarkan beberapa faktor. Dari segi iman, mad’u dibagi menjadi dua, yang sudah beriman (disebut ummah ijâbah) dan yang belum beriman (disebut ummah da’wah). Yang pertama dengan target meningkatkan keimanan dan keislamannya, dan kedua dengan target mengajaknya masuk Islam. Dari segi status sosial-ekonomi, al-mad’u terbagi menjadi kelompok elite (malak; di dalam al-Quran juga disebut dengan al-mutraf [mufrad] atau al-mutrafûn [jama’]) dan kelompok lemah dan tertindas (dhu’afâ’ dan mustadh’afîn).

Dalam sejarah dakwah yang dilakukan para Nabi, kelompok elite lebih sulit menerima dakwah dibandingkan dengan kelompok lemah. Perhatikan dalam beberapa ayat berikut ini bagaimana komentar kaum elite tatkala diajak oleh Nabi Nuh a.s. menyembah Allah SWT.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (٢٥) أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ (٢٦) فَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قِوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلاَّ بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ (٢٧)

“Dan Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (Dia berkata): “Sesungguhnya Aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS Hûd, 11: 25-27

Kaum elite menolak dakwah karena takut kehilangan hak-hak “istimewanya” yang didapat dengan cara-cara yang zalim (seperti Fir’aun, Qarun, Haman, Ruhban dalam kasus Nabi Musa a.s., Umayyah ibn Khalaf dan Abu Lahab dalam kasus Nabi Muhammad s.a.w.), sedangkan kaum dhu’afa merasa senang menerima dakwah karena hak-haknya akan diperjuangkan. Namun demikian, dalam prakteknya, kelompok lemah tidak dapat segera masuk Islam karena ada hambatan dari kelompok elite dengan segala macam cara (ingat kasus Bilal, dan keluarga Yaser pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.). Di samping dua kategori di atas, al-mad’u juga dapat dibagi berdasarkan kategori jenis kelamin, umur, pendidikan dan lain sebagainya. Kategorisasi seperti itu diperlukan untuk menentukan metode dan pendekatan yang tepat sasaran.

D. Metode Dakwah

Salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah adalah metode yang tepat. Rasulullah SAW sangat berhasil dalam berdakwah karena beliau dapat menyampiakan persan yang tepat kepada orang yang tepat dengan cara yang tepat pada waktu yang tepat. Dalam bahasa al-Quran metode yang tepat itu adalah bil hikmah, wal-mauizhah al-hasanah seperti dalam firman Allah berikut ini:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS an-Nahl,16: 125)

Bil Hikmah, artinya bin-nash wal-‘aqli (menggunakan nash [teks] dan akal). Dakwah tetap mengacu kepada nash (al-Qur’an dan Sunnah), tetapi menggunakan akal dalam menentukan pemilihan terhadap nash mana yang akan disampaikan lebih dahulu (menyangkut tahapan dan silabi dakwah), bagaimana menyampaikannya (media dan cara yang digunakan) yang sesuai dengan kadaan sasaran dakwah.

Dalam menentukan tahapan dakwah misalnya sebagian ahli membuat lima tahapan dakwah: (1) Tahapan penyampaian pesan (marhalah tablîgh); (2) Tahapan pengajaran (marhalah ta’lîm); (3) Tahapan pembinaan (marhalah takwin); (4) Tahapan pengorganisasian (marhalah tanzhîm); (5) Tahapan pelaksanaan (marhalah tanfîdz).

Dalam tahapan-tahapan di atas dapat kita lihat bahwa tabligh adalah merupakan tahap awal dari kegiatan dakwah secara keseluruhan. Untuk dapat berhasil mengajak  al-mad’u memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupannya masih diperlukan lagi beberapa tahap berikut setelah tablîgh. Sungguh sangat keliru kalau seorang da’i menganggap tabligh adalah satu-satunya cara, atau menjadikan tablîgh terlepas sama sekali dari tahapan lainnya. Oleh sebab itu kegiatan dakwah tidak dapat dilakukan secara sendirian, tapi harus bersama-sama (berujama’ah atau berorganisasi) sehingga tahapan-tahapan dakwah tersebut dapat dijalankan secara terencana dan bertahap.

Dakwah secara berjama’ah atau berorganisasi diisyaratkan juga oleh ayat berikut ini:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS Yûsûf,  12: 108)

Sedangkan penentukan media yang digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang ada serta kebutuhan dan kemampuan penerimaan sasaran dakwah. Apakah akan menggunakan media tradisional (ceramah dan khutbah) atau multi media baik elektronik maupun audiovisual.

Apapun metode yang diikuti, selain mempertimbangkan efektifitas dan efesensi, tidak boleh dilupakan bahwa semua metode yang digunakan tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan nash al-Quran dan as-Sunnah. Dalam berdakwah sekalipun, tujuan tidak menghalalkan cara.

Yang dimaksud dengan al-maui’zhah hasanah adalah pelajaran yang baik. Seluruh ajaran Islam adalah maui’zhah, baik yang disebutkan secara eksplisit dalam nash al-Quran dan as-Sunnah maupun yang dipahami dari kandungan maksudnya. Semua perintah, larangan, petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam al-Quran dan as-Sunnah adalah maui’zhah hasanah. Tetapi, kalau pesan-pesan suci itu disampaikan dalam bahasa manusia, maka kalimat-kalimat yang digunakan, gaya bahasa yang dipakai, bahkan intonasi dan nada bicara (jika disampaikan secara lisan), haruslah dikemas dengan sebaik-baiknya, sehingga pesan-pesan itu dapat diterima dengan baik. Pelajaran yang baik kalau disampaikan dengan kalimat-kalimat dan gaya bahasa yang kasar dan menyakitkan, tentu saja tidak akan produktif, malah berakibat sebaliknya yaitu kontra produktif.

Jika dalam berdakwah harus menggunakan metode debat atau polemik, baik internal umat Islam, apalagi eksternal dengan orang-orang yang belum beragama Islam, maka lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Al-Quran  menyatakan, wa jâdilhum billatî hiya ahsan.  Sasaran jidâl atau mujâdalah dalam ayati ini bersifat umum, bisa muslim (ummah ijâbah) dan bisa juga non muslim (ummah da’wah). Siapa pun yang diajak atau mengajak berdebat, berdebatlah atau berpolemiklah dengan cara yang sopan, santun, argumentatif, dan hindarilah kata-kata dan sikap yang melukai perasaan lawan debat. Carilah kelemahan argumentasi lawan debat, bukan kelemahan pribadinya. Jika yang diserang adalah kelemahan pribadi, maka mujâdalah sudah bergeser dari mencari kebenaran, menjadi mencari kemenangan. Sekalipun pribadi kita diserang oleh lawan debat, tetapi tetaplah konsisten memegang prinsip, jangan terpancing. Seorang muslim yang baik, apalagi seorang da’i, tidaklah diajarkan membalas keburukan dengan keburukan pula, tapi balaslah dengan kebikan.

E. Akhlak Da’i

Sebagai pribadi yang menyampaikan ajaran yang mulia, dan mengajak orang menuju kemuliaan, tentulah seorang da’i harus memiliki al-akhlâq al-karîmâh yang terlihat dalam seluruh aspek kehidupannya. Dia harus memiliki sifat-sifat mulia baik dalam kepastiannya sebagai pribadi muslim secara umum, maupun sebagai da’i secara khusus. Seorang da’i haruslah memiliki sifat ash-shidq (jujur) , al-amânah (bisa dipercayaya), ash-shabr (sabar), at-tawâdhu’ (rendah hati), al-‘âdl (adil), al-luthf (lemah lembut) dan  selalu ingin meningkatkan kualitas amal ibadahnya kepada Allah SWT dan sifat-sifat mulia lainnya.

Lebih dari pada itu, kunci utama keberhasilan dakwah seorang da’i adalah satunya  kata dan perbuatan. Salah satu sebab utama keberhasilan dakwah Rasulullah s.a.w. adalah karena perbuatan beliau selalu sejalan dengan apa yang dikatakan. Allah mengancam seorang da’i atau siapapun saja yang perbuatannya tidak sejalan dengan perkataanya, atau hanya bisa berkata tapi tidak mau berbuat.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)

”Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS Ash-Shaff, 61: 2-3)

Seorang da’i haruslah konsisten, al-istiqâmah,  di dalam jalan dakwah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad s.a.w. –yang tentunya juga berlaku untuk umatnya.

Allah berfirman:

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Maka Karena itu Serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah[1343] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”.(QS Asy-Syûrâ/42: 15).

F. Khatimah: ”Kembangkan Dakwah Fungsional

Aktivitas dakwah Islam dari waktu ke waktu terus mengalami pasang surut. Harus diakui, problem yang dihadapi para juru dakwah Islam antara lain kerap mengabaikan cara atau strategi yang benar, sehingga tak jarang misi Islam tidak dapat tersampaikan dengan baik.Padahal masalah cara ini sangat penting agar ajaran Islam diterima semua kalangan tanpa pemeluk lain merasa terkebiri atau tersinggung.

Dari waktu ke waktu aktivitas dakwah kian meningkat di hampir seluruh sektor, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Selama ini, aktivitas dakwah melulu dilakukan seperti ’tabligh akbar’, ceramah, dan lain sebagainya. Namun sekarang sudah merambah ke sektor perekonomian seperti penerapan sistem ekonomi syariah, perundang-undangan yang mengakomodir nilai-nilai syariah, dan lain sebagainya. Ini merupakan bentuk dakwah yang nilainya tak kalah produktifnya dengan dakwah konvensional selama ini.

Esesni berdakwah itu adalah ”menyampaikan amanah Allah”.

Dalam QS al-Maidah, 5: 67 ditegaskan,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rasulullah, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabmu. Dan jika tidak kamu lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Penegasan al-Quran ini harus kita sikapi dan kita tafsiri sebagai bentuk tanggungjawab kita menyampaikan amanah Allah tersebut. Sebagai dokter misalnya, bagaimana dapat menjalankan misinya tanpa melanggar etika agama sekaligus menjalankan profesinya diselingi dengan misi dakwah. Sebagai ekonom, misalnya, bagaimana dapat menjalankan aktivitas ekonomi tanpa menabrak sistem ekonomi yang telah digariskan oleh Islam, dan sebagainya. Kesadaran diri di sini sangat penting untuk mengukur sejauhmana keberhasilan kita dalam melakukan syiar Islam tanpa menimbulkan kemadharatan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Ini bagian dari strategi dakwah dan komunikasinya bagaimana menyampaikan ajaran Islam yang tepat guna dan tepat sasaran.

Harus diakui, salah satu kelemahan kita menyampaikan ajaran Islam adalah soal cara atau strategi. Strategi ini sangat penting karena keberhasilan dakwah akan ditentukan oleh cara kita menyampaikan. Misalnya, bagaimana komunikasi kita dengan publik, apakah sudah sesuai dengan kondisi atau belum. Jangan segmen dakwah mayoritas kaum awam lalu kita menyampaikannya dengan cara ilmiah, begitu pula sebaliknya. Jangan pula menyampaikan dengan nada menggurui ada marah-marah. Komunikasi yang menyejukkan, santun, dan lembut sangat diperlukan. Jadi, agar yang kita sampaikan tidak menyinggung pemeluk agama lain, maka diperlukan model komunikasi yang produktif dan fungsional. Kita harus ingat, agama itu kan dinamis, produktif dan fungsional. Ini harus kita tangkap makna dan misinya agar agama tidak kehilangan dan ketinggalan elan vitalnya.

Begini. Agama (Islam) mempunyai dua peran, yaitu peran Ilahiah dan kemanusiaan. Artinya, agama (Islam) tidak hanya mengandung satu wajah, tapi banyak wajah (dzû wujûh). Agama tidak hanya berkutat dan bersibuk diri mengurusi hubungan transenden manusia dengan penciptanya lewat perilaku ritual dan ibadah formal. Namun, agama harus membumi untuk menegakkan misi kemanusiaan sebagai wadah implementasi dan pedoman moral hubungan antarmanusia. Terlebih lagi, dari seluruh rangkaian ajaran al-Quran, masalah kehidupan sosial kemanusiaan paling banyak mendapat porsi perhatian. Itu berarti misi Islam bagi implementasi nilai-nilai kemanusiaan dan moral sangat besar dan menjadi perhatian yang serius, tak kalah seriusnya dengan perhatian pada masalah-masalah ibadah mahdhah (ritual). Oleh karena itu, agama harus menjadi pilar penegak keadilan, hukum, pemberantasan kemaksiatan, penyokong pendidikan, serta perjuangan kemanusiaan lainnya. Agama sudah semestinya tidak hanya menjadi persoalan langit yang mengurusi hal yang metafisik. Agama juga harus membumi menjadi mengurusi persoalan kemanusiaan yang harus diperjuangkan dan ditegakkan misi universalnya.

Harus ada pembenahan di berbagai lini, terutama strategi dan pemahaman para dai dan ulama terhadap misi Islam. Adanya penafsiran ulang yang lebih cerdas dan manusiawi akan membantu memahamkan umat terhadap ajaran Islam yang lebih moderat, membumi, dan menjadi bagian dari solusi permasalahan, bukan menjadi bagian dari permasalahan itu sendiri.

(Dikutip dan diselaraskan dari http://akarpena.multiply.com/journal/item/33 dan http://teguhtimur.com/2006/05/19/kembangkan-dakwah-fungsional-agama%E2%80%99/)