Dari Sepatah Kata Bernama Ikhlas

Prof. Hardinsyah menamainya penyakit masa kini. Stres. Inilah pembunuh jutaan manusia moderen. Stres adalah bom waktu yang membetikkan pelbagai penyakit degeneratif : mulai jantung, diabetes, penyumbatan pembuluh darah, stroke, hingga kanker. Stres, kata Hardinsyah,”Memicu kerusakan DNA,”.

Secara medis, stres akan melonjakkan kerja alat-alat tubuh seperti jantung, saluran darah, kelenjar, atau saraf. Yang terjadi kemudian, kata Probo, adalah ketidakseimbangan. ”Kadar gula darah membumbung tinggi, misalnya,”. Terdongkraknya kadar gula sudah cukup untuk memerosotkan sistem kekebalan tubuh.

Satu-satunya sikap mental yang bisa menunjang umur panjang, kata Probo, adalah ikhlas. ”Menerima semua keadaan. Menyenangkan atau tidak menyenangkan,” tuturnya. Adung Arba (91 tahun) membuktikan resep ikhlas ini. Saat perang zaman dulu, dia pernah berada persis di sebelah rekannya yang kepalanya tertembus peluru. Dia menyaksikan betul proses kematian rekannya itu. ”Kalau mau dipikirkan jelas soak (stres,red),” ungkap mantan pegawai PT Pindad itu. Kematian itu dia anggap sebagai ketentuan Allah yang akan dilalui semua orang.

Adung juga pernah ditinggal selingkuh istrinya sebulan setelah berangkat perang. Ia ingin menembak istri dan selingkuhannya. Tapi Arba sadar bahwa masalahnya akan menjadi ringan jika dihadapi dengan lapang dada. Satu lagi sikap penunjang umur panjang adalah husnudzon atau baik sangka. Inilah intisari berpikir positif. Orang yang selalu berpikir husnudzon, akan merasa damai, tenang, dan tentram. ”Seperti rasul dan para sahabat-sahabatnya,” kata Direktur Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Prof. Afif Muhammad.

(Dikutip dari Republika, Minggu, 06 Januari 2008)