Demokrasi, Dinamika Islam, serta Islam dan Negara

LIMA puluh tahun setelah Haji Agus Salim meninggal, November 1954, banyak dari pemikirannya yang masih relevan dengan soal-soal yang sekarang membelit bangsa Indonesia. Penerbitan ceramahnya tentang Islam di Universitas Cornell (1953) pada tahun ini oleh perguruan tinggi papan atas Amerika Serikat dan pernah jadi pusat kajian terbaik tentang Indonesia yang berada di Ithaca itu menambah satu lagi atribut bagi Bapak Bangsa ini: perintis pemikiran neomodernisme Islam di Indonesia. Yang lazim dianggap Sang Pemula dalam neomodernisme Islam di sini adalah nama-nama yang lahir kemudian: Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid.

EMIL Salim, ekonom dan pembicara dalam diskusi Kompas kali ini, meringkus tiga hal dari pemikiran Agus Salim yang beresonansi dengan: kehidupan partai di Indonesia yang sampai saat ini tidak beranjak dari keadaan di tahun 1950-an dan pemikiran neomodernisme Islam yang kini digagaskan tokoh muda dalam gerakan Islam liberal di Indonesia, seperti Ulil Abshar-Abdalla, Luthfi Assyaukanie, Hamid Basyaib, dan Ahmad Sahal. Ketiga hal itu menyangkut demokrasi, dinamika Islam, serta Islam dan negara.

Komitmennya terhadap demokrasi diperlihatkan Emil dengan contoh gamblang: Agus Salim menolak permintaan pemimpin kongres Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Maret 1950, supaya mau jadi ketua umum partai.

Alasan pertamanya, seperti dalam suratnya kepada M Zein Arief tanggal 26 Maret 1950, ngeri menyaksikan partai politik menggunakan jumlah anggota untuk memperoleh kursi di kabinet. Jadi, lebih kurang seperti sekarang, partai-partai menuntut bagian dalam kabinet agar memberi dukungan di Dewan Perwakilan Rakyat tanpa memandang kecakapan dan pengalaman mereka. Tuntutan itu sering disertai dengan demonstrasi, rapat raksasa, atau tekanan politik lain.

Keberatan Agus Salim adalah mengapa tuntutan partai ditekankan kepada kuantum anggota, bukan usaha menaikkan mutu anggota. Ia tidak melihat pengurus partai mendidik ranting, pemimpin cabang, atau pemimpin daerah. Kuantum anggota, bagi pemimpin partai, adalah alat merebut jabatan politik. Agus Salim tidak setuju sebab dengan itu rakyat tidak jelas mau diapakan dan demokrasi mau dikemanakan.

Baginya, demokrasi adalah rakyat bersuara. Maka, didiklah rakyat dan gali pemahamannya supaya aspirasinya tertampung ke atas. Bukan sebaliknya, seperti yang saat itu-anehnya, masih berjalan sampai sekarang-berlangsung di PSII maupun partai lain: para pemimpin partai selalu menggunakan dalih disiplin partai untuk memecat anggota yang ingkar terhadap keputusan pucuk pemimpin tanpa mengindahkan hak anggota menyatakan pendapat dan aspirasi.

Agus Salim berpendapat, dalam negara demokratis, faham politik mesti disiarkan di kalangan rakyat. Untuk menampung berbagai ragam faham ini, partai berlaku sebagai pelopor mewujudkan cita-cita rakyat. Karena Indonesia baru mengembangkan demokrasi, rakyat sangat perlu memperoleh penerangan dan pencerahan yang mendidik tentang kehidupan demokrasi. Tugas pencerahan itu tak mungkin dikerjakan oleh seseorang yang bergabung dalam partai dan cenderung hanya memperjuangkan kepentingan partainya.

Alasan berikutnya berkait dengan faham inklusifnya. Meski sebagian besar rakyat memeluk agama Islam, baginya tidak perlu semua partai bersifat Islam. Soalnya telah terbukti, kebanyakan anggota masyarakat Islam yang masuk partai nir-Islam tetap berpegang pada keyakinan agamanya. Atas pertimbangan itu, Agus Salim merasa lebih tepat berada di luar struktur kehidupan partai supaya lebih leluasa mengusahakan pencerahan masyarakat lewat pemahaman Islam dan pengembangan kehidupan demokrasi bangsa.

Sudah sejak dasawarsa 1930-an, ketika aktif terjun dalam gerakan politik, ujung tombak kegiatannya mengutamakan pemberdayaan rakyat kecil. Ketika ia dipisahkan dari Partai Syarikat Islam dan membentuk Partai Penyadar (1936), misi partai adalah menyadarkan umat manusia berpegang teguh pada Al Quran dan sunah Rasul, memberdayakan kelompok masyarakat untuk membangkitkan kemampuannya melalui Persatuan Pedagang Pasar, Persatuan Sopir Oplet, Perkumpulan Buruh Batik, dan seterusnya. Tidak ada kata Islam di sini.

Ia tidak membuat Persatuan Pedagang Islam, Persatuan Sopir Islam, misalnya, sebab baginya “penyerahan diri secara total pada kehendak Allah” menjiwai usaha-usaha membangkitkan kemampuan rakyat. Jadi, isi lebih penting daripada botol. Sikap ini kira-kira paralel dengan Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Hasrat memberdayakan anggota masyarakat sebagai perwujudan demokrasi dihayatinya sebagai bagian integral dari pengembangan kehidupan Islam.

Dinamika Islam

Islam macam apa yang diperjuangkan Agus Salim?

Ceramah di Cornell itu adalah kesempatan bagus melihat cara Agus Salim memandang Islam secara holistik. Di situ ia menjelaskan agama Islam kepada orang-orang nir-Islam Amerika yang menurut Moeslim Abdurrahman, sang pemandu dalam diskusi ini, sampai sekarang pun tidak mengenal Islam dengan baik. Sebagai ilustrasi mengenai ini, Moeslim mengisahkan pengalamannya sewaktu belajar di Amerika Serikat.

Sekali peristiwa, ia bersama kawannya asal Indonesia jalan melintasi pompa bensin di sebuah kota di negeri Uda Sam itu. Jam menunjukkan waktu magrib. Kawannya bergegas untuk salat di sebidang lantai di sekitar pompa bensin. Moeslim menunggui kawannya. Seorang Amerika menghampiri Moeslim dan menanyakan ihwal kawan yang tengah salat itu, “Is he okay?” Sikap ini, menurut Moeslim, dengan jelas memperlihatkan ketidakmengertian orang Amerika mengenai Islam: bahwa salat bisa di mana saja.

Dengan audiens yang lebih kurang setara, Agus Salim menjelaskan Islam dalam kuliah itu tanpa menyinggung pihak nir-Islam. Terselip pertanyaan di situ apa beda Islam dan Kristen, katakanlah dalam konteks kurban: Ishak atau Ismail. Juga beberapa hal yang membingungkan karena kejadian serupa di kedua kitab suci masing-masing secara tekstual memang berbeda. Agus Salim menjawab pertanyaan demikian secara holistik tanpa menyinggung pihak nir-Islam yang berada di ruang kuliah. Pemimpin seperti itu di Indonesia sekarang, menurut Emil, sangat langka sebab yang terjadi: orang berusaha memperkenalkan Islam bukan dengan menaikkan Islam, tetapi dengan menurunkan atau menjatuhkan agama lain.

“Saya tidak mengerti kenapa kalau menghadiri ceramah saya selalu dititipi pesan tak boleh kasih salam kepada orang Kristen. Itu omong kosong,” kata Emil. “Tidak akan muncul sikap seperti itu dari seorang Agus Salim.”

Penerbitan ceramah Haji Agus Salim itu, menurut Emil, sangat baik untuk menapaki kemunculan gagasan neomodernisme Islam di Indonesia. Di situ diperlihatkan pemahaman seorang Islam 50 tahun lalu yang jernih sekali mengenai Islam. Tidak ada serangan kepada pihak lain. Tidak ada pengagungan bahwa “kami lebih hebat daripada kamu”.

Agus Salim yang ulama itu malah bertolak dari suatu ayat yang mengatakan bahwa Al Quran mengakui segala nabi dan kitab-kitabnya: “kami akui kitab Taurat” dan seterusnya. Maka, ketika ada pertanyaan kenapa terjadi pengulangan di dalam kitab itu, Agus Salim menjawab, “Al Quran bukan buku saintifik, tetapi tentang apa yang Tuhan mau. Kalian harus mengulang-ulang seperti mendengar radio untuk memahami suatu masalah. Jadi, jangan kau anggap Quran sejajar dengan buku ilmu Einstein.”

Agus Salim mengungkapkan pemahaman yang salah itu berkaitan dengan soal di Indonesia ketika itu, tahun 1953, bahwa sebagian besar penduduk Indonesia hidup di alam pertanian. Sektor agama sangat dikuasai oleh guru pengajar agama Islam di pondok pesantren dan surau yang terpaku kepada fikih, yang tidak mengalami perubahan berarti dan karena itu tidak menampung perkembangan dinamika dunia. Dari situlah tumbuh kecenderungan konservatif yang sulit menerima inovasi untuk dipertautkan dengan pikiran keagamaan. Jalan pintas untuk membedakan apa yang dapat dan yang tidak dapat diterima adalah dengan menolak semua hal yang dibawa oleh pemikiran asing dan nir-islami. Perkembangan pikiran progresif, seperti dikembangkan Ibn Rush, yang juga dikenal dengan nama Averrhoes di dunia Barat sebagai ahli filsafat, ditolak oleh kelompok Islam ortodoks.

Pemahaman dinamis Islam Haji Agus Salim menemukan aktualisasinya dalam kesempatan lawatan di Ithaca tersebut. Ketika itu adalah saat permulaan masa puasa. Jarak tenggelam dan terbitnya Matahari di musim semi sangat pendek. Dalam kaitan ini, Agus Salim mengungkapkan gagasan menyesuaikan jadwal sahur, buka puasa, dan salat sesuai dengan kenyataan waktu kerja yang berlaku setempat. Katanya, bersalatlah waktu subuh di pagi hari, dzuhur waktu istirahat makan siang, asar sore hari, magrib setelah pulang kerja, dan isya sebelum istirahat tidur. Ibadat dilaksanakan dengan dorongan “niat” dan pelaksanaan “yang ikhlas”. Inilah yang terutama dipegang dalam melaksanakan ajaran Islam.

Islam dan negara

Pandangan Haji Agus Salim mengenai Islam dan negara dapat ditelusuri dalam debat hangat para politikus di tahun 1920-an, ketika agama dan negara menjadi masalah yang bisa membangkitkan emosi bagi para politikus di Indonesia. Dalam debat dengan Bung Karno yang mengobarkan cinta Tanah Air sebagai tenaga menuju kemerdekaan Indonesia, Agus Salim menjawab, “Ya, boleh nasionalis cinta Tanah Air, tetapi ingat Hittler yang akhirnya menghancurkan kemanusiaan. Nasionalis itu baik, tapi kalau agak menyimpang ia berbahaya.”

Pada titik ini keislaman Agus Salim keluar. Ia tidak menolak nasionalisme untuk mengembangkan rasa cinta Tanah Air, tetapi semua ini perlu dilaksanakan dalam kerangka tujuan perjuangan yang lebih agung. Ia meletakkan perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara merdeka itu sebagai pengabdian dan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh hidup kita, seluruh perbuatan kita, seluruh langkah kita, dan seluruh mati kita adalah bagi Allah semata.

Dalam kaitan itulah, sebagai anggota Panitia Sembilan, Agus Salim memperjuangkan supaya di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 eksplisit dicantumkan pengakuan bahwa “Republik Indonesia berdiri atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa”. Di dalam pengabdian itu Islam mengakui agama kitab lain, mengakui nabi lain, jadi seperti dikutip Emil, Agus Salim mengatakan, “Penganut Kristen tidak usah takut.”

Di dalam ceramah di Ithaca itu Agus Salim dengan gamblang menolak teokrasi, menolak pendapat para kiai yang mau memasukkan ayat-ayat Al Quran dan hadis ke dalam UUD. Sebagaimana yang termaktub dalam Ceramah XIII dan VIII, Agus Salim mengatakan, “I think that for Indonesia we have overcome that difficulty.”

Pemikiran Agus Salim mengenai Islam dan masyarakat barangkali dapat diwakili satu kisah ini. Ketika menjumpai tabir yang memisahkan laki-laki dan perempuan dalam kongres Jong Islamieten Bond-dari sini kemudian lahir generasi cendekiawan Muslim yang setelah proklamasi berkumpul dalam Partai Masyumi-ia menghampiri seorang anggota panitia. “Bung, saya minta turunkan tabir itu,” katanya kepada anggota panitia, yang lalu dijawab, “Enggak bisa, kecuali kalau bapak sendiri yang menurunkannya.”

Haji Agus Salim berdiri. “Baik!” katanya sambil menarik tabir kemudian membuangnya.(

(Dikutip dan diselaraskan dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/21/Fokus/1212952.htm)