Dicari: “Pemimpin yang Bisa Dipercaya”

Krisis Kepercayaan! Itulah yang telah menjadi bagian dari masalah kepemimpinan di negeri kita tercinta. Tidak sedikit di antara pemimpin atau tepatnya: “yang merasa telah menjadi pemimpin karena dipilih dalam sebuah proses pemilihan yang – katanya – demokratis, sebenarnya sudah tidak lagi dipercaya oleh rakyat sebagai pemimpin mereka, karena sikap dan perilakunya sendiri, karena “sudah tidak mampu menunjukkan sikap jujur dan amanahnya”.

Terkait dengan situasi dan kondisi di negeri kita tercinta, kita dambakan para pemimpin yang mampu menunjukkan sikap jujur dan amanahnya dalam wilayah aksi. Bukan sekadar pemimpin yang mudah mengumbar janji. Kata para pakar kepemimpinan, dibutuhkan para pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan tranformasional, bukan para pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan transaksional

Konsep model kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional mirip dengan konsep model pemimpin dan manajer. Dalam pengertian tersebut, seorang pemimpin transformasional selalu muncul dalam situasi krisis, masa perubahan, dan selalu berkembang; sementara pemimpin transaksional bekerja dalam situasi yang lebih bersifat birokrasi-mekanistis, yang cenderung menyukai kondisi status quo

Meskipun – saat ini — baik pemimpin transformasional maupun transaksional memiliki kesamaan peran, yaitu bekerja untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan, keduanya memiliki strategi yang berbeda dalam melaksanakan fungsi dan memotivasi bawahan. Seorang pemimpin transformasional adalah seorang pemimpin yang mampu mengantarkan rakyatnya menuju sebuah kesadaran yang lebih tinggi dan dinamis. Seorang pemimpin yang memratikkan kepemimpinan transformasional bisa dipandang sebagai seorang “pemimpin” daripada seorang “manajer” atau disebut sebagai “manajer-pemimpin” sebagai lawan dari “manajer rutin”.

Sebuah kepemimpinan transformasional, minimal memiliki tiga komponen.

Pertama, Karisma (keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya atau atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu). Karisma digambarkan sebagai komponen paling penting dalam konsep kepemimpinan transformasional. Sedikit yang bisa dipakai untuk menggambarkan seorang pemimpin karismatik, yang di dalamnya termuat perasaan cinta dari anak buah, bahkan, bawahan merasa percaya diri dan saling memercayai di bawah seorang pemimpin yang karismatik. Di bawah seorang pemimpin yang karismatik, bawahan menerima pemimpinnya sebagai model yang ingin ditirunya setiap saat, tumbuh antusiasme kerja anak buah, mampu membuat anak buah bekerja lebih keras, lebih lama dengan senang hati. Skala karisma kepemimpinan transformasional mendeskripsikan tingkat sejauhmana pemimpin menciptakan antusiasme anak buah, mampu membedakan hal-hal yang benar-benar penting, membangkitkan perasaan mengemban misi terhadap organisasi. Melalui karisma, pemimpin mengilhami loyalitas dan ketekunan, menanamkan kebanggaan dan kesetiaan, serta membangkitkan rasa hormat.

Kedua, Konsideran Individual. Di bawah kepemimpinan transformasional, penyamarataan perbedaan antar individu tidak memperoleh tempatnya. Seorang pemimpin transformasional akan memerhatikan faktor-faktor individual yang tidak boleh disamaratakan, karena adanya perbedaan, kepentingan, dan pengembangan diri yang berbeda satu sama lain.

Ketiga, Stimulasi Intelektual. Dalam kepemimpinan transformasional seorang pemimpin akan melakukan stimulasi-stimulasi intelektual. Elemen kepemimpinan ini dapat dilihat antara lain dalam kemampuan seorang pemimpin dalam menciptakan, menginterpretasikan, dan mengelaborasi simbol-simbol yang muncul dalam kehidupan, mengajak bawahan untuk berfikir dengan cara-cara baru. Pendeknya bawahan dikondisikan pada situasi untuk selalu bertanya pada diri sendiri dan membandingkannya dengan asumsi yang berkembang di masyarakat, yang untuk selanjutnya mengembangkan kemampuan pemecahan masalah secara bebas.

Berkaitan dengan hali ini, Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan kepada diri kita:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Hadis Riwayat Bukhari-Muslim dari Abdullah bin Umar). Tetapi, apakah ‘kita’, yang telah dipilih oleh rakyat untuk menjadi seorang pemimpin, ‘mampu’ untuk mewujudkan pesan Rasulullah s.a.w. itu dalam seluruh sikap dan perilaku kita?

Seorang pemimpin sejati – kata para para ulama — harus mengutamakan ‘cinta’ pada rakyatnya, dalam arti berkesadaran untuk memberi, bukan – sebaliknya – mengharapkan ‘cinta’ dari rakyatnya, atau berkeinginan untuk diberi. Seandainya para pemimpin telah benar-benar memiliki keinginan yang kuat dan ikhlas untuk selalu ingin memberikan yang terbaik pada rakyatnya, maka keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat yang selama ini sangat didambakan oleh ‘rakyat kita’, bukan hanya sekadar ‘akan’ (selalu) menjadi slogan kosong, apalagi sekadar janji-janji palsu ‘kampanye’ para calon pemimpin rakyat ‘edisi’ lima tahunan.

Berkaitan dengan hal ini, bisa disimak dan direnungkan kembali sabda Nabi s.a.w.:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاس.

“Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi), yang oleh sebagian ulama dimaknai: “jangan rakus terhadap kenikmatatan duniawi, maka dirimu akan dicintai oleh Allah; berikan dan jangan pernah mengambil hak orang lain, maka dirimu akan dicintai oleh semua orang”.

Nah, ketika kita kita diberi amanah kepemimpinan, sudah seharusnya kita implementasikan nasihat Nabi s.a.w. dalam praktik kepemimpinan kita. Jadilah seorang pemimpin yang bersikap professional, yang menunjukkan ciri kepemimpinan transformasional, agar kita memeroleh cinta Allah dan rakyat yang kita pimpin. Lihatlah derita ‘kaum dhu’afa’ dan mustadh’afin’, dengarkan rintihan ‘mereka’ dan simak dengan seksama seruan ‘kaum ‘arif’, agar para pemimpin tidak mengalami penyakit ‘rabun-mata dan tuli-telinga’, hingga bisa berbicara apa adanya tanpa topeng retorika ‘burung onta’. Dan jangan pernah menepuk dada untuk menyatakan dirti sebagai pemimpin rakyat, dan sama sekali tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin, sebelum dirinya ia memiliki: sikap istiqamah (konsisten) dalam kepemimpinannya dengan bekal kejujuran dan sikap amanahnya, karena kapabilitas para pemimpin terpilih tidak hanya diuji dalam bidang kemahiran retorikanya. Lebih jauh dari itu ‘dia’ akan diuji dalam sepak terjangnya dalam memainkan perannya sebagai seorang pemimpin yang menjunjung tinggi sikap amanahnya untuk bekerja sepenuh hati demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya. Sehingga dalam setiap sepak terjangnya ‘dirinya’ mampu berbagi cinta pada rakyatnya dan memberikan perhatian lebih pada kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadinya dan para kroninya.

Memiliki sikap amanah adalah ‘prasyarat penting’ bagi setiap pemimpin untuk mendapatkan kepercayaan rakyatnya. Sebab, orang yang tidak bersikap amanah bisa diprediksi tidak akan pernah siap bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah s.a.w.:

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Apabila amanah telah disia-siakan, tunggulah saat kehancurannya. Seorang sahabat bertanya, ‘ya Rasulullah, bagaimana maksud menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau pun menjawab: yaitu menyerahkan suatu urusan ditangani oleh orang yang bukan ahlinya. Untuk itu tunggulah saat kehancuran urusan tersebut.” (HR al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Oleh karena itu, jadilah seorang pemimpin yang ‘sadar-amanah’, dan bukan sekadar sadar jabatan dengan pelbagai fasilitasnya, agar rakyat selalu memercayai diri kita!