Disiplin Waktu

  Akhlak, Hikmah   31 Mei 2012

Disiplin Waktu

Sebagai makhluk yang selalu beraktivitas dan berusaha memenuhi kebutuhan hidup, manusia dituntut berdisiplin dalam usahanya. Sebab, waktu akan terus bergulir dengan alurnya sendiri, dan manusia hanya bisa mengikuti alur itu, tidak bisa memperlambat, mempercepat, atau menghentikannya. Jika tidak mampu bertindak tepat dan bekerja disiplin, ia akan terlindas oleh waktu. Kedisiplinan menjadi penting dan menjadi kunci kesuksesan.

Nabi Muhammad SAW pernah berdoa agar Allah memberi berkah kepada umatnya yang berdisiplin dan bekerja tepat waktu. Nabi pernah memohon kepada Allah SWT,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

”Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada umatku di waktu pagi mereka.” (HR At-Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Shahr Al-Ghamidi).

Shahr Al-Ghamidi adalah salah seorang sahabat Nabi s.a.w. yang berprofesi sebagai pedagang. Keyakinannya akan doa Nabi tersebut, membuatnya rajin, ulet, dan disiplin dengan profesinya. Ia selalu memulai aktivitasnya di pagi hari. Mendistribusikan barang dagangannya di saat sinar matahari belum tampak betul. Berkat kedisiplinannya itu, ia menunai berkahnya. Ia menjadi salah satu saudagar kaya saat itu.

Baik atau buruk, untung atau rugi hasil suatu pekerjaan, tergantung dari usaha pelakunya. QS al-‘Ashr (103): 1-3 jelas-jelas menyatakan hal ini. Allah – di dalamnya — berfirman,

وَ الْعَصْرِ (۱) إِنَّ الْإِنْسانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

”Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati supaya bersikap sabar.” (ayat 1-3).

Dalam surat tersebut, paling tidak ada beberapa hal yang saling berkaitan, hubungannya dengan disiplin kerja, yaitu waktu, amal (usaha), kerugian (hasil usaha). Seolah-olah surat Alquran tersebut ingin menegaskan bahwa waktu yang Allah luangkan, harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Apabila tidak, yang bersangkutan sendiri yang akan rugi. Pendek kata, surat tersebut mengajarkan kita berdisiplin kerja dan berdisiplin waktu.

Banyak hadis Nabi s.a.w. yang memeringatkan manusia agar mempergunakan waktu sebaik mungkin. Antara lain sabda Nabi,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Dua nikmat yang sering disia-siakan oleh banyak orang, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas).

Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ”Rezeki yang tidak diperoleh hari ini, masih bisa diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok. Tetapi, waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok.”

Wallâhu A’lam bish-Shawâb.

Sumber: Rubrik Hikmah, Republika

Tags: