Doa: “Media Penyembuhan Penyakit dan Penyelesaian Masalah”

Doa merupakan obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi musibah. Dapat mengobatinya dan mengatasinya, mencegah turunnya musibah atau mengangkatnya atau meringankannya. Ia adalah senjata orang yang beriman, sebagaimana diriwayatkan  oleh al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib r.a., yang menyatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ ، وَعِمَادُ الدِّينِ ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa merupakan senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (Hadits Riwayat al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib r.a., Al-Mustadrak, I/492, hadits no. 1812))

Doa dalam menghadapi musibah ada tiga tingkatan:

Pertama: Doa lebih kuat daripada musibah, maka dia dapat mengusirnya.

Kedua: Doa lebih lemah daripada musibah, maka musibah dapat mengalahkannya, sehingga seorang hamba tertimpa musibah, akan tetapi bisa jadi doa dapat meringankannya walaupun doanya lemah.

Ketiga: Keduanya saling bertikai, satu sama lain saling mencegah terjadi pada orang tersebut.

Telah diriwayatkan juga oleh Imam al-Hakim dari  ‘Aisyah r.a. ia berkata, bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda,

لاَ يُغْنِي حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ ، وَالدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ ، وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، وَإِنَّ الْبَلاَءَ لَيَنْزِلُ فَيَتَلَقَّاهُ الدُّعَاءُ فَيَعْتَلِجَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Sikap berhati-hati itu tidak akan mencukupi takdir. Sedangkan doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan yang belum diturunkan.”

Manakala musibah turun lalu bertemu dengan doa yang dipanjatkan akan saling bertikai (manakah yang lebih kuat) sampai hari kiamat.” (Hadits Riwayat al-Hakim dari ‘Aisyah r.a., Al-Mustadrak, I/492, hadits no. 1813)

Dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Nabi s.a.w. pernah bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاء

“Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan yang belum diturunkan. Hendaklah kalian berdoa wahai para hamba.” (Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar r.a., Sunan at-Tirmidzi, V/444, hadits no. 3548. Dinyatakan Hasan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahîh wa Dha’îf Sunan at-Tirmidzi, VIII/48, hadits no. 3548)

Dari Tsauban r.a., dinyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda,

لاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ ، وَلاَ يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.

“Tidak akan bisa menolak takdir kecuali dengan doa, dan tidaklah bertambah umur kecuali dengan kebajikan, dan sesungguhnya seseorang itu diharamkan rizkinya dengan sebab dosa yang dia kerjakan.” (Hadits Riwayat al-akim dari Tsauban r.a., Al-Mustadrak, I/493, hadits no. 1814)

(Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ad-Dâ`u wa ad-Dawâ’u au al-Jawâbul Kâfîy,, hal. 8-9)