Doa: “Obat dan Solusi Atas Masalah”

(Disampaikan dalam Khutbah Jumat, 11 April 2014, di Masjid Margo Mulyo, Nagan Tengah, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta)

Masih banyak orang yang ragu dan menyangsikan kegunaan doa sebagai obat dan solusi atas setiap masalah, padahal Allah sendiri telah memberikan garansi, sebagaimana firmanNya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina.” (QS al-Mu’min/40: 60) Doa merupakan obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi musibah. Dapat mengobatinya dan mengatasinya, mencegah turunnya musibah atau mengangkatnya atau meringankannya. Ia adalah senjata orang yang beriman, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib r.a., yang menyatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ ، وَعِمَادُ الدِّينِ ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ.

“Doa merupakan senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (Hadits Riwayat al-Hakim dari Ali bin Abi Thalib r.a., Al-Mustadrak, I/492, hadits no. 1812) Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyatakan bahwa ketika kita hadapi berbagai musibah, doa memiliki tiga tingkatan: Pertama: Ketika doa lebih kuat daripada musibah, maka dia dapat mengusirnya.

Kedua: Ketika doa lebih lemah daripada musibah, maka musibah dapat mengalahkannya, sehingga seorang hamba akan tetap tertimpa musibah, akan tetapi bisa jadi doa itu dapat meringankannya.

Ketiga: Ketika keduanya berimbang, satu sama lain (doa dan musibah) silih berganti akan memberikan dampak pada orang tersebut. Telah diriwayatkan juga oleh Imam al-Hakim dari ‘Aisyah r.a. ia berkata, bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda,

لاَ يُغْنِي حَذَرٌ مِنْ قَدَرٍ ، وَالدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ ، وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، وَإِنَّ الْبَلاَءَ لَيَنْزِلُ فَيَتَلَقَّاهُ الدُّعَاءُ فَيَعْتَلِجَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Sikap berhati-hati itu tidak akan mencukupi takdir. Sedangkan doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan yang belum diturunkan. Manakala musibah turun lalu bertemu dengan doa yang dipanjatkan akan saling bertikai (manakah yang lebih kuat) sampai hari kiamat.” (Hadits Riwayat al-Hakim dari ‘Aisyah r.a., Al-Mustadrak, I/492, hadits no. 1813) Dari Abdullah bin Umar r.a., sesungguhnya Nabi s.a.w. pernah bersabda,

إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاء

“Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap apa yang sudah diturunkan dan yang belum diturunkan. Hendaklah kalian berdoa wahai para hamba.” (Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari Abdullah bin Umar r.a., Sunan at-Tirmidzi, V/444, hadits no. 3548. Dinyatakan Hasan oleh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahîh wa Dha’îf Sunan at-Tirmidzi, VIII/48, hadits no. 3548) Dari Tsauban r.a., dinyatakan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda,

لاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ ، وَلاَ يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلاَّ الْبِرُّ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ.

“Tidak akan bisa menolak takdir kecuali dengan doa, dan tidaklah bertambah umur kecuali dengan kebajikan, dan sesungguhnya seseorang itu diharamkan rizkinya dengan sebab dosa yang dia kerjakan” (Hadits Riwayat al-Hakim dari Tsauban r.a., Al-Mustadrak, I/493, hadits no. 1814) Ketika kita tertimpa persoalan yang rumit (termasuk penyakit hati yang meresahkan), berdoalah:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.” (Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal dari Abdullah bin Mas’ud, Musnad Ahmad ibn Hanbal, I/391, hadits no. 3712)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” (Hadits Riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik, Shahîh al-Bukhâriy, IV/43, hadits no. 2893) (Dikutip dan diselaraskan dari tulisan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ad-Dâ`u wa ad-Dawâ` au al-Jawâbul Kâfî, hal. 8-9)